Dinkes Mimika Masih Koordinasi dengan Kemenkes Terkait Pengganti Sementara Obat Biru

Ahmad

Minggu, 8 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

MIMIKA – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika masih berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia terkait pengganti sementara obat biru atau DHP-Frimal.

Seperti diketahui, obat DHP-Frimal—yang biasa disebut obat biru—telah kosong di Mimika sejak Maret 2025 lalu.

Kekosongan ini menyebabkan pasien malaria di Mimika, Papua Tengah, kesulitan mendapatkan obat yang ampuh untuk menyembuhkan penyakitnya, sehingga hanya bisa mengandalkan obat seadanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kemenkes RI terkait hal tersebut.

Adapun obat pengganti DHP-Frimal adalah D-arteep Dispersible berwarna putih. Menurutnya, obat ini memiliki khasiat yang sama dengan obat biru, namun terdapat sedikit perbedaan pada dosisnya.

“Obat itu untuk sementara. Mudah-mudahan bulan Juni ini sudah tersedia. Saya sudah komunikasi dengan Kementerian Kesehatan. Targetnya memang sejak Maret, dan diperkirakan baru tersedia di akhir Juni,” ujar Reynold Ubra.

Ia menjelaskan bahwa D-arteep Dispersible memiliki khasiat yang sama dalam membasmi parasit malaria dalam darah manusia. Namun, dosisnya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan DHP-Frimal. Oleh karena itu, jika obat biru diberikan dengan dosis tiga butir sesuai berat badan, maka pil putih ini akan diberikan dalam jumlah yang lebih banyak.

Baca Juga :  Bayi yang Ditemukan di Depan Kantor Klasis Mimika Kini Masuk Panti Asuhan

“Itu tidak masalah. Jangan khawatir. Obat ini tetap merupakan obat program untuk malaria yang efektif menyelesaikan infeksi parasit dalam darah,” katanya kepada wartawan, Kamis, 5 Juni 2025.

Menurut Reynold, hal yang paling penting bagi pasien adalah mematuhi aturan dalam mengonsumsi obat. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam mencegah malaria.

Penegasan ini, katanya, perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat Mimika, mengingat kondisi kebersihan lingkungan yang semakin memprihatinkan. Salah satu ancaman besar dalam upaya eliminasi malaria adalah sampah plastik yang tak terbendung di Mimika.

“Kota Timika ini terlalu banyak plastik, makanya nyamuk bersahabat dengan kita,” ujarnya.

Reynold menyebutkan bahwa saat ini tidak ada satu pun kawasan di Kabupaten Mimika yang bebas dari jentik nyamuk. Padahal, Dinas Kesehatan melalui satuan kerja melakukan fogging setiap hari.

Namun, pola hidup masyarakat yang jauh dari kebersihan, seperti membuang sampah sembarangan dan membiarkan genangan air, membuat upaya-upaya yang dilakukan menjadi tidak maksimal.

Baca Juga :  Agustinus Marten Mote Jadi Nakes Pertama di Mimika yang Miliki SIP Terintegrasi MPPD

“Selama kami menyemprot, tetapi masyarakat tetap membuang sampah sembarangan, masih ada genangan air, dan kondisi air minum juga kurang baik, maka kita hari ini dibebani penyakit menular berbasis vektor, seperti malaria dan DBD. Di dalam rumah kita diserang DBD, di luar rumah kita diserang malaria. Nyamuk tidak punya otak, mereka berkembang secara biologis. Kita yang punya otak, jadi kita harus bijak dalam menjaga tempat tinggal,” tegasnya.

Reynold menambahkan, puncak gigitan nyamuk di wilayah Mimika umumnya terjadi hingga pukul 21.00 WIT. Namun, karena aktivitas masyarakat Mimika berlangsung hampir 24 jam, risiko tergigit nyamuk tetap tinggi kapan saja.

Ia mengimbau masyarakat untuk lebih serius dalam mencegah gigitan nyamuk, karena malaria merupakan penyakit kuno yang masih menjadi ancaman hingga kini.

Reynold juga menyarankan penggunaan krim antinyamuk, mengenakan pakaian tertutup, tidur menggunakan kelambu, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan lainnya secara konsisten.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Mimika Akui Data Malaria Keliru, Target Eliminasi 2030 Diperkuat
Mimika Uji Coba Primakuin Dosis Tinggi untuk Kejar Eliminasi Malaria 2030
Petrosea Percepat Penanggulangan Malaria di Mimika, Ratusan Kelambu Dibagikan ke Masyarakat
Gedung C2 RSUD Mimika Rp242 Miliar: Solusi Overkapasitas, DPRK Minta Pengawasan Ketat
Tekan Kasus Malaria, Mimika Baru Bentuk Tim Kelurahan Berbasis Komunitas
Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda bagi Anak di Mimika
RSUD Mimika Bangun Ruang Rawat Inap Baru, Kapasitas Layanan Ditingkatkan
Lintasi Jembatan Rapuh, Nakes di Mimika Pertaruhkan Nyawa Demi Pelayanan

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 15:17 WIT

Bupati Mimika Akui Data Malaria Keliru, Target Eliminasi 2030 Diperkuat

Jumat, 24 April 2026 - 19:31 WIT

Mimika Uji Coba Primakuin Dosis Tinggi untuk Kejar Eliminasi Malaria 2030

Kamis, 16 April 2026 - 12:26 WIT

Petrosea Percepat Penanggulangan Malaria di Mimika, Ratusan Kelambu Dibagikan ke Masyarakat

Jumat, 10 April 2026 - 19:47 WIT

Gedung C2 RSUD Mimika Rp242 Miliar: Solusi Overkapasitas, DPRK Minta Pengawasan Ketat

Rabu, 8 April 2026 - 19:42 WIT

Tekan Kasus Malaria, Mimika Baru Bentuk Tim Kelurahan Berbasis Komunitas

Berita Terbaru