NABIRE — Ajang Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat SMP Provinsi Papua Tengah 2026 resmi bergulir. Kompetisi sepak bola antarpelajar tersebut dibuka di Lapangan Sepak Bola SMP Negeri 3 Nabire, Senin (24/8/2026).
Digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, GSI tak sekadar menjadi arena perebutan kemenangan. Turnamen ini juga menjadi panggung untuk menjaring talenta-talenta muda potensial yang diproyeksikan untuk tampil pada ajang GSI tingkat nasional.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Nurhaidah, mengatakan GSI merupakan wadah bagi pelajar untuk mengembangkan bakat sepak bola sejak usia dini sekaligus membentuk karakter melalui olahraga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kompetisi ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengasah disiplin, kerja sama tim, sportivitas, mental bertanding hingga kejujuran.
“Ajang ini untuk mencari bibit-bibit yang ada di Papua Tengah. Semua adalah pemain, tapi pasti ada yang terbaik,” ujar Nurhaidah saat membuka kegiatan.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah memilih berlatih dan mengembangkan kemampuan dibandingkan menghabiskan waktu dengan bermain telepon seluler.
“Di saat teman-temannya mungkin tidur siang atau bermain handphone, anak-anak memilih untuk berlatih. Itu sudah luar biasa dan menjadi juara untuk diri sendiri,” katanya.
GSI Papua Tengah 2026 berlangsung selama lima hari, 24–28 Agustus 2026. Seluruh pertandingan dipusatkan di Lapangan Sepak Bola SMP Negeri 3 Nabire.
Dari delapan kabupaten yang direncanakan ambil bagian, hanya lima kontingen yang hadir. Kelima daerah tersebut yakni Nabire, Mimika, Intan Jaya, Paniai dan Deiyai.
Sementara tiga kabupaten lainnya, yakni Dogiyai, Puncak Jaya dan Puncak, tidak ambil bagian dalam pelaksanaan GSI tingkat Provinsi Papua Tengah tahun ini.
Total peserta, official dan pendamping yang terlibat dalam ajang tersebut mencapai sekitar 120 orang.
Proses seleksi melibatkan tim talent scouting yang akan memantau langsung kemampuan setiap pemain. Pertandingan juga dipimpin oleh wasit resmi berlisensi PSSI.
Hasil pemantauan pemain selanjutnya akan direkam dan dikirim kepada BPTI Pusat sebagai bagian dari proses penilaian dan seleksi. Dari proses tersebut nantinya akan dipilih sekitar tujuh pemain Gala Siswa dan tujuh pemain Gala Siswi untuk mewakili Papua Tengah.
Nurhaidah meminta seluruh peserta dan pelatih menjaga atmosfer pertandingan tetap sportif. Ia menegaskan, persaingan di lapangan tidak boleh terbawa hingga ke luar pertandingan.
“Anak-anak bertanding itu dunianya sendiri. Jangan sampai gara-gara anak-anak bertanding terus dibawa keluar lapangan. Kita junjung sportivitas dan kekeluargaan,” tegasnya.
Ia menilai sepak bola memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih luas daripada sekadar mencetak gol. Setiap pertandingan menjadi proses pembelajaran untuk melatih kesabaran, mental, kerja sama, sportivitas dan kejujuran.
“Menang atau kalah adalah hal biasa, tetapi semangat untuk terus berjuang adalah yang paling penting,” ujarnya.
Kepada seluruh pemain, Nurhaidah berpesan agar menjadikan GSI sebagai pengalaman berharga untuk mengembangkan diri sekaligus mengharumkan nama Papua Tengah.
“Berikan penampilan terbaik kalian dan buktikan bahwa kalian adalah generasi emas Papua Tengah yang akan membawa nama baik daerah ini,” pungkasnya.
Pelaksanaan GSI Papua Tengah 2026 didanai melalui DPA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah Tahun Anggaran 2026.
Turnamen ini turut mendapat dukungan PSSI Provinsi Papua Tengah, Dinas Kesehatan melalui tim medis, Satpol PP, serta sponsor Bank Papua dan Telkomsel.









