Inflasi Jadi Tantangan, Pemkab Mimika Genjot Penurunan Angka Kemiskinan

Sabtu, 14 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPS Mimika, Oceau Satyadipura, saat diwawancarai awak media di Timika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Benaz)

Kepala BPS Mimika, Oceau Satyadipura, saat diwawancarai awak media di Timika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Benaz)

MIMIKA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terus berupaya menurunkan angka kemiskinan, terutama kemiskinan ekstrem yang masih menjadi persoalan serius di wilayah tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Mimika, Oceau Satyadipura, menyampaikan bahwa berbagai langkah telah dilakukan. Namun, percepatan penurunan angka kemiskinan masih terkendala oleh sejumlah faktor ekonomi makro, terutama inflasi yang meningkat.

Menurutnya, BPS mencatat inflasi year on year di Mimika pada Mei 2025 mencapai 2,88 persen, dipicu oleh kenaikan harga barang dan jasa, khususnya pada sektor makanan, minuman, kesehatan, serta jasa. Salah satu komoditas yang mengalami ketidakstabilan harga adalah daging babi, yang menjadi bahan pokok penting bagi sebagian masyarakat di Mimika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Inflasi yang meningkat ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, sehingga memperlambat upaya penurunan angka kemiskinan,” ujar Oceau dalam wawancara, Kamis (12/6/2025).

Baca Juga :  Defisit Rp600 Miliar Mengintai, Mimika Percepat Diversifikasi Ekonomi

Berdasarkan data BPS, dari total penduduk Mimika sebanyak 318.679 jiwa, angka kemiskinan ekstrem tercatat sebesar 5,37 persen, sementara angka kemiskinan umum mencapai 14,18 persen.

Oceau menjelaskan, kemiskinan ekstrem adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Sementara itu, kemiskinan umum mengacu pada ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan secara layak.

“Pemerintah menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem karena mereka yang berada dalam kategori ini, jika tidak mendapat bantuan, tidak dapat bertahan hidup,” jelas Oceau. Ia juga menekankan bahwa penurunan angka kemiskinan ekstrem harus diiringi dengan penurunan angka kemiskinan secara umum agar dampak positifnya bisa dirasakan secara luas, termasuk terhadap indikator kesehatan, stunting, dan pengangguran.

Baca Juga :  Peringati 4 Tahun Kasus Mutilasi di Mimika, Keluarga Korban: Jangan Beri Remisi Pelaku!

Sebagai gambaran, berdasarkan data nasional, Pemerintah Indonesia menargetkan angka kemiskinan ekstrem turun menjadi nol pada 2025 melalui berbagai program sosial dan ekonomi. Namun, tantangan inflasi yang meningkat di daerah-daerah seperti Mimika menuntut langkah strategis yang lebih terintegrasi agar target tersebut dapat tercapai.

“Angka kemiskinan tidak berdiri sendiri. Ia memiliki efek domino terhadap sektor lain, seperti kesehatan ibu dan anak, angka kematian, dan stunting. Oleh karena itu, penanganannya harus menyeluruh dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” tambah Oceau.

Pemkab Mimika pun terus mendorong sinergi dengan pemerintah provinsi dan pusat dalam melaksanakan program-program penanggulangan kemiskinan, termasuk penguatan ketahanan pangan dan peningkatan akses layanan kesehatan.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mimika Terapkan Barcode E-Mitan untuk Atur Penjualan Minyak Tanah
Menyemai Asa Kopi Gunung di Kota Industri
Kelompok Tani Gereja di Mimika Dorong Pertanian Jadi Penopang Ekonomi Jemaat
Emas dan Bumbu Dapur Picu Inflasi Mimika Tembus 5,03 Persen pada September 2026
Meraba Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Mimika
Mimika Punya 17 Ribu UMKM, Baru 3 Ribu Masuk Pembinaan
Menjelang Tiga Dekade Mimika: Menguji Resiliensi UMKM dan Ambisi Ekonomi Papua Tengah
Pembudi Daya Ikan Mimika Cari Pasar Freeport, DPR Papua Tengah Turun Tangan

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:51 WIT

Mimika Terapkan Barcode E-Mitan untuk Atur Penjualan Minyak Tanah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:04 WIT

Menyemai Asa Kopi Gunung di Kota Industri

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:25 WIT

Kelompok Tani Gereja di Mimika Dorong Pertanian Jadi Penopang Ekonomi Jemaat

Rabu, 7 Oktober 2026 - 00:22 WIT

Emas dan Bumbu Dapur Picu Inflasi Mimika Tembus 5,03 Persen pada September 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:20 WIT

Meraba Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Mimika

Berita Terbaru

Warga dan peserta mengikuti diskusi peluncuran laporan Pusaka Bentala Rakyat di Dusun Sagu Ebha Hekhe, Kampung Sereh, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu, 7 Oktober 2026. Dusun sagu itu menjadi lokasi peluncuran laporan tentang izin kehutanan di tanah adat Papua. Galeripapua/Ikbal Asra

Organisasi

Belasan Izin Hutan Menyasar Tanah Adat Papua

Senin, 12 Okt 2026 - 06:00 WIT

Agustinus Kadepa, petani kopi dari Kampung Tuguwai, Distrik Aweidah, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Utama

Ko Puaz: Kopi, Kebun, dan Mimpi yang Tumbuh di Paniai

Minggu, 11 Okt 2026 - 19:09 WIT