MIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan mulai mempersiapkan pembentukan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) Kabupaten Mimika sebagai upaya memperkuat penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) secara terpadu dan lintas sektor.
Persiapan pembentukan TP2TB tersebut dibahas dalam kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika di Ballroom Hotel Horison Ultima, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, dan dibuka Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ananias Faot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Ananias mengatakan penanggulangan TBC di Mimika tidak dapat hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, TBC merupakan persoalan bersama yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“TBC harus dipandang sebagai persoalan bersama. Penanggulangan TBC di Kabupaten Mimika tidak boleh dipandang semata-mata sebagai tugas Dinas Kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan semata,” ujar Ananias.
Ia menjelaskan, persoalan TBC memiliki keterkaitan dengan kondisi lingkungan, sosial ekonomi, kualitas tempat tinggal, perilaku masyarakat, mobilitas penduduk hingga produktivitas masyarakat.
Untuk diketahui, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mencatat kasus TBC masih menjadi salah satu tantangan utama penyakit menular di daerah tersebut.
Berdasarkan data Program TBC Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 2.407 pasien TBC menjalani pengobatan.
Sementara itu, pada periode Januari hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan telah menemukan 987 kasus baru TBC. Hingga Mei 2026, masih terdapat 982 pasien yang menjalani proses pengobatan, termasuk pasien yang telah memulai terapi sejak tahun sebelumnya.
Adapun angka kesembuhan berdasarkan kohort 2024 tercatat sebesar 76 persen, sementara target angka keberhasilan pengobatan yang ditetapkan mencapai 90 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan penemuan kasus, pemeriksaan dan diagnosis secara dini, kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, serta pencegahan pasien putus obat masih menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC di Kabupaten Mimika.
Ananias mengatakan, pembentukan TP2TB harus menghasilkan kerja nyata dan tidak berhenti sebatas pembentukan tim maupun penerbitan surat keputusan.
Ia meminta tim yang nantinya dibentuk memiliki target yang jelas, pembagian tugas antar-OPD, indikator kinerja, jadwal kerja, mekanisme pelaporan serta evaluasi secara berkala.
“Tim percepatan penanggulangan TBC bukan hanya menjadi tim administratif yang berhenti pada pembentukan dan penerbitan SK. Tim ini harus memperhatikan target yang jelas, pembagian tugas, indikator, jadwal kerja, mekanisme pelaporan serta evaluasi secara berkala,” tegasnya.
Ananias juga mengingatkan agar seluruh pihak yang terlibat bekerja dalam satu sistem yang terstruktur dan tidak berjalan secara parsial.
Ia menilai penanggulangan TBC membutuhkan koordinasi lintas sektor agar setiap pihak dapat menjalankan peran sesuai tugas dan kewenangannya.
Selain penguatan koordinasi, Ananias mendorong peningkatan penemuan kasus TBC secara aktif, termasuk melalui pemeriksaan terhadap keluarga dan kontak erat pasien.
Menurutnya, pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah Mimika yang memiliki kawasan perkotaan, distrik, kampung, kawasan pesisir serta wilayah dengan akses pelayanan kesehatan yang masih terbatas.
“Untuk Mimika, pendekatan ini harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah kita, termasuk kawasan perkotaan, distrik, kampung, kawasan pesisir, kawasan dengan akses pelayanan kesehatan terbatas serta kelompok masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi,” katanya.
Sejalan dengan upaya memperkuat penanggulangan TBC, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika juga memperluas pelayanan hingga tingkat kampung melalui penguatan kapasitas Puskesmas Pembantu (Pustu).
Penguatan tersebut mencakup kegiatan skrining, penemuan kasus, pemantauan pengobatan, investigasi kontak, hingga pemberian terapi pencegahan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan akses fasilitas kesehatan yang masih terbatas.
Dalam kesempatan tersebut, Ananias juga menyoroti salah satu inovasi yang pernah dikembangkan Puskesmas Mimika Timur dalam membantu penanganan pasien TBC, yakni inovasi ANGELIN.
Ia menceritakan, inovasi tersebut dilakukan dengan membentuk tim kecil yang secara khusus membantu memastikan pasien TBC menjalani pengobatan dan mengonsumsi obat secara teratur.
Ananias menilai inovasi tersebut dapat menjadi salah satu contoh pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam pelaksanaan tugas TP2TB nantinya, terutama dalam pendampingan pasien di lapangan.
“Ketika inovasi itu berlangsung, sangat baik dan membantu keluarga yang terkena penyakit TB. Ini menjadi catatan penting bagi teman-teman ketika TP2TB terbentuk untuk melihat inovasi ini dan bagaimana melaksanakan tugas di lapangan,” ujarnya.
Ananias juga menyinggung pentingnya pendekatan sosial dan budaya dalam penanggulangan TBC, khususnya di tengah masyarakat yang masih memiliki pemahaman tertentu mengenai penyakit tersebut.
Menurutnya, pendekatan kesehatan tidak cukup hanya melalui aspek medis, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang mampu diterima masyarakat sesuai dengan karakteristik budaya setempat.
Ananias mencontohkan pengalaman dalam pendampingan masyarakat Kamoro yang masih memiliki pemahaman bahwa penyakit tertentu berkaitan dengan persoalan leluhur. Kondisi tersebut, kata dia, dapat memunculkan stigma maupun kecurigaan di tengah keluarga dan lingkungan pasien.
Karena itu, pendekatan melalui komunikasi, edukasi serta pendampingan keluarga dinilai penting agar pasien tidak mengalami stigma dan tetap mendapatkan dukungan untuk menyelesaikan pengobatan.
Ia berharap pembentukan TP2TB Kabupaten Mimika nantinya mampu menjadi wadah koordinasi yang memperkuat upaya pencegahan, penemuan kasus, pengobatan, pendampingan pasien serta evaluasi penanggulangan TBC secara berkelanjutan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala TBC, terutama batuk berkepanjangan, agar segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan dan pengobatan TBC tersedia secara gratis.
Dengan keterlibatan lintas sektor dan pendekatan yang menyesuaikan kondisi sosial budaya masyarakat, penanggulangan TBC di Mimika diharapkan dapat dilakukan secara lebih terpadu dan efektif.










