MIMIKA – Janji pembangunan dari kampung ke kota yang digaungkan Bupati dan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Emanuel Kemong, mulai dipertanyakan publik. Pasalnya, setelah 100 hari masa kerja, realisasi pembangunan di wilayah pedalaman dan pesisir dinilai belum terlihat.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, mengakui telah menerima sejumlah pertanyaan dari masyarakat terkait lambatnya realisasi pembangunan di kampung. Hal ini disampaikannya saat ditemui wartawan di Jalur 5, SP2, Mimika, Sabtu (12/7/2025).
Menurutnya, penataan kota menjadi prioritas awal karena banyak sektor dasar di wilayah perkotaan yang masih perlu dibenahi, termasuk infrastruktur dan layanan publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebut, selama 100 hari pertama, Pemkab Mimika telah meluncurkan sejumlah program penting seperti Mal Pelayanan Publik (MPP), Mimika Center, dan layanan air bersih bagi masyarakat kota.
Kemong juga menyebut bahwa dalam waktu dekat, pemerintah akan merintis program transportasi massal untuk wilayah kota yang dijadwalkan mulai berjalan pada akhir Desember 2025.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengabaikan pembangunan di kampung, terutama di wilayah pesisir dan pegunungan.
“Wilayah kampung tidak kami tutup mata. Itu menjadi komitmen kami juga. Setelah pembenahan kota berjalan baik, pembangunan di kampung akan kami genjot,” tambahnya.
Pernyataan Kemong sejalan dengan amanat Bupati Mimika, Johannes Rettob, saat peluncuran layanan air bersih bersama PT Freeport Indonesia di Jalur 5, SP2, pada hari yang sama.
Dalam kesempatan itu, Johannes menyampaikan bahwa pekan depan pemerintah akan meluncurkan program air bersih di sejumlah kampung pesisir, seperti Atuka, Kota Tua Kokonao, Amar, dan Uta.
Langkah ini, menurut keduanya, merupakan bagian dari tahapan pembangunan bertahap yang dimulai dari pusat aktivitas (kota) menuju daerah pinggiran secara terstruktur.










