MIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) menggelar Sosialisasi Digitalisasi Pelaporan Inovasi Daerah sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem pelaporan inovasi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Kegiatan ini berlangsung di Ballroom Hotel Horizon Diana, Selasa (21/4/2026).
Sekretaris Badan Riset dan Inovasi Daerah Mimika, Darius Sabon Rain, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari upaya membangun ekosistem inovasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga masyarakat.
Pada hari sebelumnya, seluruh stakeholder telah menandatangani nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendorong pelaksanaan inovasi daerah. Menurut Darius, kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan inovasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Inovasi ini kan tidak mungkin kami BRIDA kerja sendiri, kami BRIDA ini kan hanya memfasilitasi saja. Keberhasilan inovasi ini juga tergantung banyak pihak,” ujarnya
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, peserta dibekali pemahaman teknis terkait penyusunan laporan inovasi serta mekanisme pelaporan berbasis digital. Darius menegaskan bahwa setiap OPD yang telah menghasilkan inovasi wajib mendokumentasikan dan melaporkannya melalui sistem yang terintegrasi
BRIDA Mimika, lanjutnya, tengah mengembangkan sistem internal sebagai media perantara sebelum data inovasi diintegrasikan dengan sistem nasional.
“Jadi setelah OPD-OPD melahirkan inovasinya, dia harus bisa mendokumentasikan laporan inovasinya itu dan kemudian melaporkannya secara digital ke sistem, jadi sistem ini nanti terkonek dengan pusat.,” jelasnya.
Selain materi teknis dari tenaga IT mitra BRIDA, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang memaparkan arah kebijakan digitalisasi pelaporan inovasi daerah secara nasional.
Darius mengakui bahwa tantangan utama dalam pengembangan inovasi di daerah bukan terletak pada kemampuan menciptakan inovasi, melainkan pada konsistensi implementasi. Ia menyebut sejumlah inovasi di Mimika belum berjalan optimal karena kurangnya komitmen berkelanjutan dari pihak pelaksana.
“Kita sudah berusaha untuk menciptakan inovasi tetapi pada awal atau pertengahan itu inovasi itu akan mati, mati karena tidak ada komitmen yang jelas dari semua stakeholder untuk melaksanakan itu secara berkesenampungan,” katanya
Meski demikian, ia menilai Mimika memiliki potensi besar dalam melahirkan inovasi. Beberapa inovasi unggulan yang telah dikembangkan antara lain layanan kesehatan “Sa Antar Ko” serta berbagai aplikasi pelaporan masyarakat yang memungkinkan warga menyampaikan keluhan secara langsung kepada pemerintah.
“Jadi aplikasi ini kan membantu kita supaya pelaporan dari masyarakat itu cepat tersampaikan, semua keluhan dari warga cepat tersampaikan, dan tindak lanjut atau respon dari pemerintah terhadap keluhan itu juga bisa segera di eksekusi,” tambahnya.
Seiring dengan meningkatnya tuntutan inovasi, pada tahun 2026 setiap OPD di Mimika ditargetkan mampu menghasilkan minimal dua inovasi setiap tahun. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan responsif.
Penguatan sistem pelaporan digital dan konsistensi implementasi inovasi menjadi langkah strategis BRIDA Mimika dalam memastikan setiap inovasi tidak hanya lahir, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.


























