KASONAWEJA,GALERIPAPUA – Masyarakat Kampung Anggreso, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, mendesak Pemerintah Provinsi Papua segera membangun jalan penghubung Mamberamo Raya – Apaower Sarmi yang telah lama dijanjikan. Ketiadaan akses jalan dinilai memperparah keterisolasian kampung yang dihuni 51 jiwa tersebut, sementara 18 rumah warga hingga kini masih dalam kondisi tidak layak huni.
Kepala Kampung Anggreso Yudas Aweniri mengatakan akses jalan tersebut menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang hingga kini masih hidup dalam keterisolasian. Menurut dia, keberadaan jalan akan membuka akses pembangunan, memperlancar pelayanan dasar, serta meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kami minta pemerintah provinsi segera membangun jalan ini. Dari dulu masyarakat hanya mendengar janji, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi sampai ke kampung kami,” kata Yudas saat ditemui Galeripapua, Rabu, 11 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Yudas, wilayah Anggreso masih didominasi hutan lebat yang sulit ditembus. Kondisi itu membuat masyarakat kesulitan mengakses berbagai layanan dasar yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai warga negara.
Pembangunan jalan, kata Yudas, bukan hanya soal membuka akses transportasi. Jalan tersebut menjadi syarat utama agar pembangunan dapat menjangkau kampung-kampung pedalaman yang selama ini terisolasi.
“Kalau jalan sudah ada, masyarakat bisa tinggal dan berkebun di mana saja. Dana kampung juga bisa digunakan lebih maksimal untuk membangun rumah dan fasilitas umum,” ujarnya.
Keterisolasian itu berdampak langsung pada pelayanan kesehatan. Hingga kini Kampung Anggreso belum memiliki fasilitas kesehatan yang memadai. Pelayanan kesehatan masyarakat hanya dilakukan di pondok sederhana yang difungsikan sebagai tempat pelayanan sementara.
Selain kesehatan, persoalan air bersih juga menjadi masalah utama yang dihadapi warga. Sulitnya akses transportasi membuat berbagai program pembangunan berjalan lambat, termasuk penyediaan sarana air bersih.
“Yang paling kami rasakan itu kesulitan air bersih. Sampai sekarang masyarakat masih menderita karena akses ke kampung sangat sulit,” kata Yudas.
Menurut Yudas, masyarakat sebenarnya sudah lama menunggu realisasi pembangunan jalan tersebut. Pembukaan jalan pertama kali dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Mamberamo Raya pertama, Demianus Kyeuw-Kyeuw. Namun pekerjaan itu terhenti sebelum mencapai Kampung Anggreso.
Pada periode pemerintahan berikutnya, janji pembangunan kembali disampaikan. Namun hingga kini masyarakat belum melihat adanya kelanjutan pembangunan yang signifikan.
“Dari bupati pertama sampai sekarang masyarakat terus menunggu. Jalan pernah dibuka, tetapi berhenti. Setelah itu ada lagi janji pembangunan, tetapi belum sampai ke kampung kami,” ujarnya.
Saat ini ruas jalan yang telah dibangun baru mencapai wilayah Karimowa. Sementara Kampung Anggreso masih berada cukup jauh dari titik tersebut.
“Jalan baru sampai Karimowa. Dari sana ke kampung kami masih jauh, masih sekitar tiga gunung lagi,” kata Yudas.
Kondisi tersebut membuat masyarakat merasa pembangunan belum benar-benar menyentuh wilayah mereka. Padahal, menurut Yudas, jalan itu merupakan jalur strategis yang akan menghubungkan Mamberamo Raya dengan Kabupaten Sarmi dan membuka akses bagi sejumlah kampung di pedalaman.
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Papua bersama pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap pembangunan jalan tersebut. Warga menginginkan pembangunan dilakukan secara berkelanjutan hingga benar-benar mencapai kampung-kampung yang selama ini terisolasi.
Yudas mengaku masyarakat mulai kecewa karena selama bertahun-tahun hanya menerima janji tanpa kepastian pelaksanaan. Menurut dia, berbagai hambatan yang muncul dalam proses pembangunan akhirnya membuat masyarakat terus menunggu tanpa kepastian.
“Kami hanya ingin keadilan. Kami ingin merasakan pembangunan seperti masyarakat di daerah lain,” katanya.
Selain pembangunan jalan, masyarakat juga berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan dasar lainnya, seperti rumah layak huni, fasilitas kesehatan, dan akses air bersih.
“Kami juga warga negara Indonesia. Kami ingin rumah yang layak, fasilitas kesehatan yang layak, air bersih, dan jalan yang bisa menghubungkan kami dengan daerah lain,” ujar Yudas.
Yudas berharap Presiden dan Pemerintah Provinsi Papua dapat melihat langsung kondisi masyarakat di pedalaman Mamberamo Raya yang hingga kini masih bergantung pada akses terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bagi kami, jalan ini bukan sekadar proyek. Jalan ini adalah harapan masyarakat untuk keluar dari keterisolasian dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” kata Yudas.








