Blapos TIFA Management: Dari Freestyle Jalanan Menuju Panggung Besar

Endy Langobelen

Jumat, 7 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

MIMIKA — Tidak semua grup musik lahir dari studio rekaman yang lengkap atau komunitas seni yang mapan. Ada yang tumbuh dari trotoar, dari tongkrongan pinggir jalan, dari sesi freestyle di bawah lampu jalan, bahkan dari sebuah nama kompleks kecil di Merauke.

Begitulah kisah Blapos, grup hip hop yang belakangan menjadi salah satu nama paling diperbincangkan di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Penampilan mereka membawakan lagu Asap Papteng, Timika Pu Pesta, Paruci, dan beberapa judul lainnya di panggung Timika Inside Festival of Art (TIFA) hingga Sunset Run Festival membuat nama mereka semakin dikenal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik energi panggung yang liar dan lagu-lagu pesta yang mudah dinyanyikan penonton, tersimpan perjalanan panjang yang penuh jatuh bangun.

Galeripapua.com berkesempatan berbincang langsung dengan para personel Blapos dan manajemen TIFA untuk menggali cerita yang belum banyak diketahui publik: bagaimana sebuah nama dari Merauke menjelma menjadi salah satu wajah baru hip hop Papua.

Berawal dari Sebuah Kompleks Bernama “Positif”

Nama Blapos ternyata bukan sekadar nama artistik. Pendiri Blapos, Julius Rendy Unemlora a.k.a RendyNem, menceritakan bahwa nama itu berasal dari tempat tinggalnya di Merauke.

“Blapos itu kepanjangan dari Belakang Positif. Saya dulu tinggal di belakang Kompleks Positif di Merauke,” katanya saat diwawancarai di Sekretariat Tifa Creative, Senin (3/8/2026) malam.

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)
Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

Kompleks Positif sendiri merupakan kawasan yang dikenal masyarakat sebagai lokasi tempat biliar sekaligus karaoke.

Karena rumahnya berada tepat di belakang kompleks tersebut, nama “Belakang Positif” kemudian disingkat menjadi Blapos.

Ketika salah seorang adiknya di Timika ingin membentuk komunitas, ia meminta izin menggunakan nama tersebut.

“Saya bilang silakan saja pakai nama Blapos,” kenang RendyNem kala itu.

Tak ada yang menyangka nama sederhana itu kemudian berkembang menjadi identitas sebuah grup hip hop yang kini memiliki basis penggemar sendiri.

Dari Geng Jalanan Menjadi Kelompok Musik

Perjalanan Blapos di Timika dimulai pada 2019. Namun, ketika itu Blapos bukanlah grup musik. Awalnya mereka hanyalah sebuah geng anak muda.

RendyNem mengaku saat pertama kali datang dari Merauke, ia belum memahami kultur geng di Timika.

“Saya datang sudah bawa nama Blapos. Tapi saya tidak tahu kalau di sini nama geng identik dengan kriminal dan tawuran,” ungkapnya.

Ia melihat banyak anak muda menggunakan nama kelompok hanya untuk menunjukkan eksistensi jalanan.

Alih-alih mengikuti arus, ia justru mengajak mereka mengubah arah. “Saya bilang, daripada kita baku pukul, lebih baik kita buat lagu.”

Kalimat sederhana itu menjadi titik balik. Blapos perlahan meninggalkan citra geng dan mulai fokus membangun identitas sebagai kelompok rap.

Bogenville, Tempat Semua Dimulai

Transformasi itu semakin kuat ketika RendyNem mulai sering menghabiskan waktu di kawasan Bogenville.

Di sanalah ia bertemu sejumlah anak muda yang setiap malam melakukan freestyle rap hanya dengan memutar beat kosong dari ponsel.

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)
Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

Di antara mereka terdapat Vandy Revo a.k.a Vannodebat, Jo, Chandra, dan beberapa nama lain.

“Saya lihat mereka punya bakat. Sayang kalau cuma freestyle setiap hari,” kata RendyNem.

Ia lalu mengajak mereka membuat lagu. Tidak ada target menjadi terkenal. Tidak ada mimpi menjadi artis nasional. Yang ada hanyalah keinginan agar hobi mereka tersalurkan.

“Kita cuma mau senang-senang bikin karya,” tuturnya.

Seleksi Alam Melahirkan Lima Personel Inti

Seiring waktu, banyak yang bergabung. Namun tidak semuanya bertahan. Menurut RendyNem, yang bertahan hanyalah mereka yang benar-benar serius.

“Saya tidak lihat dia dari mana. Yang saya lihat cuma niat.”

Dari sejumlah orang yang pernah berada dalam lingkaran Blapos, kini tersisa lima personel inti yang aktif berkarya beserta seorang Beatmaker dan seorang lagi yang bertugas mendokumentasikan penampilan Blapos di atas panggung.

Baca Juga :  Paslon AIYE Komitmen Majukan Prestasi Olahraga Mimika

Mereka adalah RendyNem, Vannodebat, Nistelrooy Manuhua a.k.a Rooy, Melkisedek Yamko a.k.a Ekzha_J, Yohanis Richard Hungan a.k.a Richard_Hungan, Ferdinandus Somar a.k.a Somarbeatz, dan Menachen Vabio Ernestho Rumainum.

Ketujuh anak muda ini rutin berkumpul di studio sederhana, menulis lirik, merekam lagu, hingga berdiskusi soal konsep video klip.

Dua di antaranya sudah bekerja, sementara yang lain masih mencari pekerjaan. Namun kondisi itu tidak mengurangi semangat mereka untuk terus membuat musik.

Lagu Pertama Dibuat dengan Peralatan Sederhana

Jika sekarang kualitas produksi Blapos jauh lebih matang, awal perjalanan mereka justru penuh keterbatasan.

Lagu pertama Blapos berjudul “Jang Ko Jauh” direkam dalam waktu satu hari pada 2019 menggunakan mikrofon BM-800. Beat musik diunduh dari internet. Mixing dipelajari sendiri melalui YouTube.

Video klip yang direkam sehari setelah rekaman itu menggunakan kamera Canon milik salah satu teman. Proses editing bahkan dilakukan menggunakan telepon genggam.

“Waktu itu kita benar-benar belajar sendiri. Semua autodidak dan masih hancur sekali,” ujar RendyNem mengenang masa-masa itu.

Lucunya lagi, salah satu personel bahkan belum sempat menulis lirik sebelum rekaman. Lirik dibuat langsung di lokasi. Ia menghafalnya di tempat, lalu pulang untuk merekam vokal.

Kini mereka justru menertawakan proses tersebut. “Kalau anak hip hop dengar cerita itu mungkin mereka ketawa.”

Dari Lagu Cinta ke Lagu Pesta

Pada awal berdiri, Blapos banyak memainkan lagu bertema cinta. Mereka juga sempat membuat lagu bergenre gangster.

Namun ketika mulai memahami selera pasar di Papua, mereka menemukan karakter baru. Mereka mulai menggarap lagu-lagu pesta yang enerjik.

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)
Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

Genre itu kemudian menjadi identitas Blapos hingga sekarang. Meski begitu, mereka menegaskan tidak ingin dikotakkan.

“Kita main semua genre. Ada old school, afro, lagu cinta, sampai lagu acara,” kata Vannodebat.

Sering Dibilang Meniru Warna Musik Papua Selatan

Kesuksesan lagu-lagu pesta Blapos ternyata juga memunculkan kritik. Di media sosial, sebagian orang menilai musik mereka terlalu mirip dengan musik pesta khas Papua Selatan.

RendyNem memilih menanggapi dengan santai. Menurutnya, komentar itu muncul karena banyak orang tidak mengetahui asal-usul dirinya.

“Saya memang lahir di Merauke. Nama Blapos juga dari sana,” jelas RendyNem.

Karena itu, menurutnya, wajar bila pengaruh musik Papua Selatan terasa dalam karya-karya mereka.

“Saya lahir di sana, tapi saya besar dan berkarya di Timika,” kata RendyNem sekali lagi untuk menekankan bahwa karya Blapos hadir dari tumbuh kembangnya di Kabupaten Mimika.

Karena hidup di Timika pula mereka kemudian memadukan karakter musik pesta Papua Selatan dengan nuansa underground yang sejak lama melekat pada kultur hip hop Mimika.

Perjalanan Menuju TIFA Management

Titik penting dalam perjalanan Blapos terjadi setelah mereka beberapa kali tampil di event TIFA sejak 2024. Saat itu mereka belum berada di bawah manajemen. Mereka hanya menjadi pengisi acara.

Namun selama beberapa kali berinteraksi dengan pendiri TIFA Management, Alfo Smith, mereka mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Menurut para personel, Alfo tidak memperlakukan mereka layaknya bawahan atau sekadar pengisi acara. Ia lebih banyak berdialog dan membangun hubungan seperti keluarga.

“Yang kita rasa itu bukan cuma soal manggung. Tapi rasa nyaman,” ujar Vannodebat.

Akhirnya, melalui Rooy, Blapos lebih dulu menghubungi Alfo untuk membicarakan kemungkinan bekerja sama. Mereka lalu mengadakan diskusi internal sebelum mengambil keputusan.

“Kita pikir daripada jalan sendiri tanpa arah, lebih baik masuk manajemen,” kata Rooy.

Mengapa Memilih TIFA?

Keputusan bergabung ke TIFA Management bukan semata-mata karena peluang tampil di panggung. Menurut RendyNem, yang membuat mereka yakin justru karakter Alfo sebagai seorang pemimpin.

Baca Juga :  Menyongsong Hari Polwan Ke-75, Polres Mimika Gelar Berbagai Kegiatan

Ia menyebut sikap rendah hati menjadi alasan terbesar. “Kaka Alfo tidak pernah buat kita merasa kecil.”

Selama mengikuti berbagai event TIFA, mereka merasa diperlakukan setara. Tidak ada jarak antara manajemen dan musisi.

“Itu yang tidak kita temukan di tempat lain,” ungkap Vannodebat.

TIFA Melihat Potensi, Bukan Popularitas

Di sisi lain, Alfo Smith mengaku sebenarnya telah mengamati Blapos sejak lama. Ia mulai memperhatikan mereka ketika Tifa Creative rutin menggelar berbagai kegiatan seni di Timika.

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)
Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

Yang menarik perhatiannya bukan jumlah penonton atau viralnya lagu mereka. Melainkan konsistensi.

“Saya melihat siapa yang benar-benar mau berkembang,” kata Alfo.

Menurut Alfo, Tifa Creative kini membutuhkan banyak kolega kreatif dari berbagai bidang, mulai dari model, penari, hingga rapper.

Blapos dinilai memenuhi kriteria tersebut. Mereka bukan hanya memiliki karya, tetapi juga kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, Tifa Creative kemudian memutuskan memberi ruang yang lebih besar. Tidak hanya panggung, tetapi juga pembinaan performa, public speaking, hingga manajemen karier.

“Saya ingin mereka tampil dengan standar yang lebih tinggi,” ujar Alfo.

Dengan bergabungnya ke dalam manajemen Tifa Creative, kini nama Blapos telah menjadi Blapos TIFA Management.

Dua Bulan yang Mengubah Segalanya

Meski baru sekitar dua bulan bergabung, para personel Blapos TIFA Management mengaku merasakan perubahan besar. Bukan hanya dari sisi teknis panggung. Tetapi juga kepercayaan diri.

“Dulu kita nonton orang. Sekarang orang yang nonton kita,” ungkap Ekzha_J dengan senyum bangga.

Menurut mereka, penonton hip hop di Timika kini juga mulai berubah. Jika dulu rapper lokal sering tampil di depan penonton yang pasif, kini suasananya jauh lebih hidup.

Nama Blapos TIFA Management bahkan mulai diteriakkan penggemar ketika dipanggil naik ke atas panggung.

“Rasanya akhirnya karya kita benar-benar didengar,” kata Richard_Hungan.

Mimpi Membawa Hip Hop Timika ke Luar Papua

Meski popularitas terus meningkat, Blapos TIFA Management mengaku belum ingin cepat puas. Target mereka sederhana. Lebih banyak berkarya. Lebih disiplin. Lebih profesional.

Namun di atas semua itu, mereka memiliki mimpi yang lebih besar. Bukan hanya membawa nama Blapos TIFA Management. Melainkan membawa nama hip hop Timika ke kota-kota lain di Indonesia.

“Kita ingin membuktikan kalau anak-anak Timika juga bisa tampil di luar,” kata Vannodebat.

Mereka juga berharap pelaku hip hop lain di Mimika terus berkarya. Bagi mereka, kemajuan satu grup tidak akan berarti jika ekosistem musik lokal tidak ikut berkembang.

Siapkan Empat Lagu Baru

Saat ini Blapos TIFA Management tengah menyiapkan empat lagu baru yang akan dirilis bersamaan melalui platform digital.

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang hanya tersedia di YouTube, lagu-lagu baru ini akan masuk ke berbagai layanan streaming musik sehingga bisa digunakan di Instagram, TikTok, maupun Spotify.

Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)
Blapos TIFA Management. (Foto: Istimewa)

Beberapa judul yang sudah mereka bocorkan antara lain Sa Kuwai, Seal Yellow, serta Saya di Pesta.

Menariknya, lagu-lagu tersebut sudah beberapa kali mereka bawakan di atas panggung meski belum resmi dirilis. Mereka sengaja ingin menguji respons penonton terlebih dahulu.

“Kita mau orang penasaran dulu. Biar nanti waktu lagu keluar, mereka sudah menunggu,” ujar RendyNem.

Bagi Blapos TIFA Management, musik bukan lagi sekadar pelarian dari jalanan. Ia telah menjadi bahasa baru untuk bercerita tentang kehidupan, persahabatan, identitas, dan mimpi anak-anak Papua.

Dan jika panggung TIFA menjadi awal babak baru perjalanan mereka, maka lima rapper muda asal Timika itu kini sedang menulis cerita yang lebih besar — bahwa musik dari timur juga layak mendapat tempat di panggung nasional.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satgas ODC Identifikasi Tujuh Terduga Pelaku Pembunuhan Pilot AMA
Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya
Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV
MRP Papua Tengah Tampung Aspirasi Perempuan Mimika, Berbagai Persoalan Disorot
Fakhiri dan FPHS Tsingwarop Perkuat Komitmen Kawal Dana 4 Persen Freeport
Dari “Kolam Mancing” ke “Arena Tamiya”: Kritik Warga Timika Berujung Aksi Nyata
Petrosea–Distrik Miru Bangun RTH Terintegrasi, Dorong Lingkungan Sehat dan UMKM OAP
Petrosea Dorong Ketahanan Keluarga, Edukasi Catin Perdana Digelar di Mimika

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:48 WIT

Blapos TIFA Management: Dari Freestyle Jalanan Menuju Panggung Besar

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:09 WIT

Satgas ODC Identifikasi Tujuh Terduga Pelaku Pembunuhan Pilot AMA

Minggu, 14 Juni 2026 - 00:01 WIT

Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya

Sabtu, 23 Mei 2026 - 01:00 WIT

Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:41 WIT

MRP Papua Tengah Tampung Aspirasi Perempuan Mimika, Berbagai Persoalan Disorot

Berita Terbaru