JAYAPURA – Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP) menyerahkan donasi senilai sekitar Rp 9 juta kepada Ikatan Keluarga Flobamora Provinsi Papua di Jayapura, Sabtu, 29 Agustus 2026. Dana itu hasil penggalangan selama tiga hari di kampus-kampus dan di jalan raya di Jayapura untuk korban gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur.
Penggalangan bermula dari pertemuan tidak terencana. Penanggung jawab aksi, Kamus Bayage, mengaku ide muncul saat melihat aktivitas penggalangan dana di sekitar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jayapura pada 15 Agustus lalu. Penggalangan dikoordinasi oleh Jan Suwoniap dengan posko sementara di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Selama tiga hari, Rabu hingga Jumat. Mahasiswa dari berbagai kampus turun ke lapangan, menyisir titik-titik di jalan raya dan lingkungan kampus.
“Soal kemanusiaan tidak butuh agama, tidak butuh ras, tidak butuh apapun. Tapi bagaimana kita berikan sumbangan atas kepedulian,” ujar Kamus kepada Galeripapua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Ikatan Keluarga Flobamora Provinsi Papua, Stanis Hike Dosinaen, menyebut gempa Flores kali ini sebagai yang terparah yang pernah ia ikuti perkembangannya. Ia mengaku tersentuh dengan gerakan mahasiswa Papua itu. “Mereka (mahasiswa Papua) datang bukan bawa uang. Uang hanya sekadar alat, tapi ini soal kepedulian yang tidak memandang suku, ras, dan agama,” tutur Stanis.
Stanis berkata, mekanisme penyaluran donasi ke Flores belum ditetapkan. Organisasi yang dipimpin Stanis masih membangun komunikasi dengan daerah asal untuk menentukan jalur paling efektif, apakah melalui pemerintah daerah, gereja, atau wadah lain. “Harapan kami, apa yang sedikit bisa kita bantu dari Papua ini bisa menyentuh banyak orang,” pungkas Stanis.
Berdasarkan data BNPB per 29 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, gempa Flores menewaskan 111 jiwa dan melukai 1.740 orang. Sebanyak 192.303 jiwa mengungsi di tujuh kabupaten diantaranya Nagekeo 51.284 jiwa, Manggarai 50.556 jiwa, Manggarai Timur 31.372 jiwa, Manggarai Barat 27.564 jiwa, Ngada 21.552 jiwa, Sikka 5.658 jiwa, dan Ende 4.317 jiwa.
BMKG mencatat gempa susulan hingga 21 Agustus 2026 sudah terjadi 5.012 kali dengan magnitudo terbesar M6,2 dan terkecil M1,1. Sebanyak 124 gempa susulan dirasakan langsung oleh warga.










