Belasan Korban Kontak Tembak di Intan Jaya, OPM atau Sipil?

Endy Langobelen

Senin, 19 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat mengevakuasi korban kontak tembak di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

Masyarakat mengevakuasi korban kontak tembak di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

INTAN JAYA – Konflik bersenjata memanas di Distrik Sugapa dan Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah sejak Selasa (13/5/2025) lalu.

Belasan orang dilaporkan menjadi korban setelah aparat TNI melancarkan operasi serangannya pada sejumlah kampung, di antaranya Kampung Titigi, Sugapa Lama, Bambu Kuning, Ndugusida, Zanamba, dan Jaindapa.

Melalui situs resmi TNI.mil.id, Kamis (15/5/2025), pihak TNI menyampaikan Satuan Tugas (Satgas) Habema TNI telah menguasai sejumlah wilayah usai melakukan operasi penindakan itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dijelaskan bahwa operasi berlangsung dari pukul 04.00 hingga 05.00 WIT, dengan menyasar Kampung Titigi, Ndugusiga, Jaindapa, Sugapa Lama, dan Zanamba.

Operasi yang disebut dilakukan secara profesional dan terukur itu telah mensterilkan wilayah Sugapa Lama dan Bambu Kuning dari kelompok TPNPB-OPM yang dipimpin Daniel Aibon Kogoya, Undius Kogoya, dan Josua Waker.

TNI mengklaim 18 anggota TPNPB-OPM tewas. Sejumlah barang bukti pun turut diamankan, antara lain satu pucuk senjata organik AK-47, satu senjata rakitan, puluhan butir munisi, busur dan anak panah, serta bendera Bintang Kejora dan alat komunikasi.

Barang bukti yang diamankan TNI saat melakukan operasi di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TNI.mil.id)
Barang bukti yang diamankan TNI saat melakukan operasi di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TNI.mil.id)

Dansatgas Media Koops Habema, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono, memastikan seluruh personel TNI yang terlibat operasi dalam kondisi aman dan lengkap.

Dia menyebut pasukan TNI masih terus disiagakan di sejumlah sektor strategis guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan kelompok OPM yang tersisa.

Kelompok OPM di wilayah itu, kata Iwan, kerap melakukan kekerasan terhadap warga sipil, termasuk pembakaran rumah, penyanderaan guru dan tenaga kesehatan, hingga penyerangan terhadap fasilitas umum dan proyek pembangunan.

Kapuspen TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan operasi yang dilaksanakan merupakan bagian dari komitmen TNI untuk melindungi rakyat Papua dan mendukung kelangsungan pembangunan.

“TNI hadir bukan untuk menakut-nakuti rakyat, tetapi untuk melindungi mereka dari kekerasan dan intimidasi yang dilakukan kelompok bersenjata. Operasi ini dilakukan secara terukur, profesional, dan mengutamakan keselamatan warga sipil. Kami tidak akan membiarkan rakyat Papua hidup dalam ketakutan di tanah kelahirannya,” tegasnya.

OPM Pastikan 3 Anggotanya Gugur, Sisanya Warga Sipil

Berbeda dengan penyampaian dari pihak TNI, Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB-OPM melalui siaran pers mengungkapkan bahwa lima anggotanya menjadi korban dari serangan TNI.

Tiga di antara lima korban itu meninggal dunia dan dua korban luka-luka. Sedangkan belasan korban lainnya, yang diklaim oleh TNI sebagai anggota TPNPB-OPM, disebutnya adalah warga sipil.

Baca Juga :  Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya
Anggota TPNPB-OPM, Gus Kogoya, meninggal dunia akibat ledakan bom. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)
Anggota TPNPB-OPM, Gus Kogoya, meninggal dunia akibat ledakan bom. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

Berdasarkan laporan dari Panglima TPNPB Kodap VIII Intan Jaya, Brigadir Jenderal Undius Kogoya, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom menjelaskan bagaimana kronologi kejadian mengenaskan itu menimpah tiga anggotanya yang gugur.

Sebby menerangkan pada saat itu, sekitar pukul 05.00 WIT, terjadi kontak tembak antara pasukan TPNPB dengan militer Indonesia di Distrik Hitadipa.

Dalam peristiwa itu, seorang anggota TPNPB dinyatakan gugur. Jasadnya pun langsung dipasangi bom oleh militer Indonesia untuk menargetkan pasukan TPNPB lainnya.

Strategi itu pun berjalan sesuai rencana. Bom yang sudah dipasang seketika meledak saat empat anggota TPNPB-OPM lainnya hendak mengevakuasi jenazah itu.

“Saat melakukan evakuasi, bom ranjau yang dipasang meledak dan mengakibatkan dua anggota TPNPB gugur dan dua anggota lainnya luka-luka akibat terkena serpihan bom,” kata Sebby.

Anggota TPNPB-OPM, Notopinus Lawiya, meninggal dunia akibat ledakan bom. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)
Anggota TPNPB-OPM, Notopinus Lawiya, meninggal dunia akibat ledakan bom. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

Adapun nama-nama anggota TPNPB yang terkena bom ranjau dan gugur di medan perang yakni Gus Kogoya, Notopinus Lawiya, dan Kanis Kogoya.

“Sementara yang luka ringan akibat terkena serpihan bom di antaranya Tinus Wonda dan Dnu-Dnu Mirip. (Mereka) yang luka-luka saat ini sedang berada di markas TPNPB untuk menjalani perawatan medis,” ujar Sebby.

Lebih lanjut Sebby mengungkapkan bahwa sebelum kontak tembak itu berlangsung, militer Indonesia telah melakukan operasi di Kampung Titigi, Ndugusiga, Jaindapa, Sugapa Lama dan Kampung Zanamba.

Sebby menyebut operasi itu dilaksanakan secara brutal. “Militer Indonesia melakukan penembakan liar di pagi subuh saat warga sipil masih dalam keadaan tidur nyenyak,” tandasnya.

Dalam operasi ini, menurut Sebby, banyak warga sipil yang menjadi korban.

Julite Janambani mengalami 4 luka robekan di bagian tangan kanan diduga luka tembak dan menembus payudara. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)
Julite Janambani mengalami 4 luka robekan di bagian tangan kanan diduga luka tembak dan menembus payudara. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

“Aparat militer pemerintah Indonesia melakukan penembakan terhadap satu keluarga di antaranya Ibu Junite Zanambani terkena tembakan pada lengan tangan kanan dan anaknya laki-laki Minus Yegeseni ditembak bagian telinga. Sementara Nopen Wandagau ditembak bagian tangan dan satu orang lainnya juga ditembak,” katanya.

Disebutkan bahwa sejumlah warga sipil pun ditembak mati oleh militer Indonesia di antaranya pendeta dan dan Kepala Desa Hitadipa.

“Korban yang diculik saat pagi subuh oleh aparat militer pemerintah Indonesia di Distrik Hitadipa yaitu Bapak Elisa Wandagau (Gembala), Ruben Wandagau (Kepala Desa Hitadipa), dan seorang nenek, Mono Tapamina. Semuanya ditembak mati oleh aparat militer Indonesia setelah diculik dan jazad mereka telah dikremasi di Hitadipa,” ungkap Sebby.

Baca Juga :  Terjadi Lagi, 15 Napi Kabur dari Lapas Nabire
Proses kremasi jenazah korban kontak tembak di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)
Proses kremasi jenazah korban kontak tembak di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

Adapun warga sipil lainnya yang sempat ditangkap di Kampung Zanamba namun berhasil melarikan diri dari Pos Militer Indonesia di Bilapa pada 14 Mei 2025 pukul 23.58 WIT.

Mereka adalah Peles Hondani dan istrinya, Misael Tabuni dan istrinya, serta Julianus Janambani dan Daniel Hondani.

“6 warga sipil tersebut melarikan diri dari Pos Militer Indonesia di Bilapa karena adanya rencana eksekusi mati oleh Komandan Pos Bilapa,” kata Sebby.

“Dalam aksi tersebut masyarakat sipil yang berada di Distrik Hitadipa dan Distrik Sugapa telah melarikan diri ke hutan sejak 13 Mei 2025 untuk mencari perlindungan diri dan terhindar dari operasi militer Indonesia yang sangat masif dan brutal,” imbuhnya.

Bupati Intan Jaya: 3 Korban Sipil Dievakuasi ke Mimika, 7 dalam Pencarian

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, saat berada di Mimika mengungkapkan bahwa tiga korban luka-luka dari warga sipil telah dievakuasi ke RSUD Mimika.

Memastikan itu, Galeripapua.com memantau langsung ke RSUD Mimika. Tiga korban itu telah berada di Bangsal Mambruk.

Julite Janambani, korban kontak tembak di Intan Jaya telah dievakuasi ke Mimika. (Foto: Istimewa)
Julite Janambani, korban kontak tembak di Intan Jaya telah dievakuasi ke Mimika. (Foto: Istimewa)

Mereka adalah Minus Yegeseni (5 tahun) yang tertembak pada telinga kiri, Nopen Wandegau (laki-laki) mengalami luka patah tulang di bagian dalam dan tiga luka robekan di bagian lengan kiri, dan Julite Janambani (perempuan) mengalami 4 luka robekan di tangan bagian kanan diduga luka tembak dan menembus payudara.

Lebih lanjut Bupati Aner Maisini menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan pencarian terhadap tujuh korban yang belum dievakuasi.

Pihak TNI pun telah diminta untuk bergeser dari lokasi sehingga masyarakat dapat melakukan evakuasi jenazah korban lainnya.

“Kemarin kita ada pertemuan supaya TNI ini mereka geser, tapi belum. Kita sudah sepakat mereka bikin satu titik. Jadi, nanti masyarakat mereka akan naik untuk mengevakuasi jenazah yang lain, yang korban,” kata Aner Maisini di Bandara Lama Mozes Kilangin, Timika, Sabtu (17/5/2025).

Bupati juga mengungkapkan bahwa ada tiga korban yang telah dipastikan meninggal dunia, salah satunya kepala desa.

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video wawancara informan Galeri Papua)
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video wawancara informan Galeri Papua)

“Iya ada tiga orang (meninggal dunia). Sudah dibakar (kremasi), ternyata satu anggota KKB dan satu kepala desa,” ungkapnya.

Sebagai orang nomor satu di Intan Jaya, Aner Maisini berharap konflik bersenjata ini segera berakhir agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik.

“Semoga situasi ini cepat pulih supaya pelayanan pemerintah bisa jalan, pendidikan bisa jalan, kesehatan, infrastruktur, dan lain-lain. Kita harus bergerak cepat untuk menangani masalah maupun program yang akan kita lakukan,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sindikat Miras Ilegal Kuasai Jalur Logistik Mimika
Polres Mimika Musnahkan 3.000 Liter Lebih Miras Ilegal
Polisi Ungkap Kronologi Penganiayaan di Jalan Perintis Timika
Polemik Pemilihan Ketua RT di Mimika, Lurah Perintis Resmi Diadukan ke 5 Instansi
8 Anggota OPM Kiwirok Kembali ke NKRI, Warga Sambut Harapan Baru Perdamaian Papua
Polisi Tangkap Pelaku Begal Ponsel di Mimika Kurang dari 24 Jam
Kejari Mimika Selidiki Dugaan Korupsi Pembangunan Rumah di Hoya Senilai Rp8,7 Miliar
Begal Merajalela di Mimika, Polres Bentuk Tim Khusus

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 19:13 WIT

Sindikat Miras Ilegal Kuasai Jalur Logistik Mimika

Senin, 15 Juni 2026 - 19:09 WIT

Polres Mimika Musnahkan 3.000 Liter Lebih Miras Ilegal

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:35 WIT

Polisi Ungkap Kronologi Penganiayaan di Jalan Perintis Timika

Kamis, 11 Juni 2026 - 14:06 WIT

Polemik Pemilihan Ketua RT di Mimika, Lurah Perintis Resmi Diadukan ke 5 Instansi

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:53 WIT

8 Anggota OPM Kiwirok Kembali ke NKRI, Warga Sambut Harapan Baru Perdamaian Papua

Berita Terbaru

Peresmian MCK sekolah di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh, Mimika, Papua Tengah, Senin (25/6/2026). (Foto: Istimewa/Polres Mimika)

Pendidikan

Kapolda Papua Tengah Resmikan MCK Sekolah di Pulau Karaka

Senin, 15 Jun 2026 - 19:19 WIT

Lebih dari 3000 Minuman keras ilegal yang berhasil diamankan dan dimusnahkan aparat gabungan dalam operasi pengawasan yang berlangsung sepanjang Januari hingga Juni 2026. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Sindikat Miras Ilegal Kuasai Jalur Logistik Mimika

Senin, 15 Jun 2026 - 19:13 WIT

Momen pemusnahan barang bukti minuman keras di Mapolres Mimika, Jalan Agimuga, Mile 32, Mimika, Papua Tengah, Senin (15/6/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Hukrim

Polres Mimika Musnahkan 3.000 Liter Lebih Miras Ilegal

Senin, 15 Jun 2026 - 19:09 WIT