Beredar Foto Anak Kurang Gizi, Puskesmas Timika: Sedang Ditangani dan Sudah Ada Perubahan

Rabu, 1 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto seorang balita kekurangan gizi yang beredar di WAG publik.

Foto seorang balita kekurangan gizi yang beredar di WAG publik.

MIMIKA – Beredar sebuah foto yang menggambarkan seorang anak balita dengan kondisi tubuh yang cukup memprihatinkan.

Dari foto yang didapat dari beberapa WAG publik, seorang anak balita dengan berat badan yang sangat minim itu sedang di bopong ke atas timbangan untuk diukur berat badannya oleh seorang perawat.

Terkonfirmasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, anak balita itu ternyata merupakan salah satu pasien dari Puskesmas Timika, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya juga baru tahu semalam foto itu. Kalau saya lihat-lihat, itu fotonya dari Puskesmas Timika,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Mimika, Marselino Mameyao, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/3/2023).

Sementara itu, Darling Samber, seorang Penanggung Jawab Gizi di Puskesmas Timika, membenarkan bahwa balita dalam foto tersebut adalah pasiennya.

Darling mengungkapkan, balita laki-laki itu berusia 4 tahun 8 bulan. Ia mengalami kekurangan gizi dengan penyakit penyerta.

Penanggung Jawab Gizi Puskesmas Timika, Darling Samber. (Foto: GaleriPapua.com)

“Dia bukan gizi buruk murni. Ada penyakit penyertanya yaitu TB. Jadi, bukan karena tidak makan begitu, tidak. Tapi ada penyakit penyertanya yang membuat dia sampai menjerumus ke gizi buruk,” ungkap Darling saat diwawancarai awak media di Puskesmas Timika, Rabu (1/3/2023).

Baca Juga :  Polisi Olah TKP Keributan yang Berujung Penyerangan Aparat di Mimika

Dikatakan bahwa kasus tersebut ditemukan ketika pihaknya melakukan pelayanan sweeping vitamin A di lapangan pada bulan Februari 2023.

Darling menyampaikan, saat melakukan pemeriksaan terhadap pasien pada Jumat (24/2/2023) lalu, berat badannya hanya mencapai 8,8 kg yang mana usia anak 4 tahun harusnya memiliki berat paling tidak 20 kg.

“Kemudian tinggi badannya 85 cm yang paling tidak seharusnya dia sekitar 105-108 cm. Lingkar lengan sebelah kiri kemarin kita ukur itu 8,8 cm, normalnya itu harus 12,5 cm,” kata Darling.

“Jadi dia sudah kategori; menurut berat badannya kurang, tinggi badannya sangat kurang, lingkar lengannya sangat kurang. Kalau tambah dengan lingkar kepala lagi semua sangat kurang,” imbuhnya.

Sampai dengan hari ini, lanjut Darling, anak tersebut masih dalam penanganan pelayanan khusus dari pihak kesehatan.

“Kita sudah lakukan pemberian susu formula khusus. Ini hari ke tujuh. Sesuai dengan SOP, kita akan tangani selama 90 hari,” jelasnya.

Selain pemberian susu formula, adapun pemeriksaan lingkungan oleh tim kesehatan lingkungan untuk memastikan lingkungan tempat tinggal anak tersebut telah higenis.

“Ada juga tim TB yang turun karena ini dia dengan kasus penyakit penyerta TB. Lalu tim malaria juga sudah turun sudah sumbang dalam bentuk kelambu,” terangnya.

Baca Juga :  DPRD Mimika Usulkan Johannes Rettob Jadi Bupati Definitif

Darling mengatakan, dalam waktu satu minggu pengobatan, kondisi balita tersebut mulai menunjukkan perubahan positif.

“Perubahannya di hari ke 7 ini dari tidak bisa berjalan, dia sudah bisa berjalan 5 langkah, sudah bisa merayap. Hari pertama kita pergi itu dia cuma bisa duduk. Kita berharap kondisinya bisa kembali normal. Nanti kita cek lagi, semoga setiap minggu ada perkembangan,” katanya.

Belajar dari pengalaman ini, Darling juga mengimbau kepada masyarakat terlebih orang tua untuk dapat merawat dan menjaga kesehatan anaknya.

“Kita tidak bisa kerja sendiri karena dalam posisi ini kita tim Puskesmas, tim Dinkes cuma support. Inti dari kasus-kasus seperti begini adalah orang tua. Jadi, orang tua harus punya bisa mengerti didik anak. Dari anak dalam kandungan sampai usia 5 tahun, itu anak butuh perhatian khusus supaya tidak terjadi kasus-kasus seperti begini,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kasus gizi buruk ini merupakan yang pertama di Puskesmas Timika dalam tahun 2023. Pada tahun sebelumnya, Puskesmas Timika telah menangani kurang lebih 10 kasus yang mana rata-rata adalah kasus gizi buruk dengan penyakit penyerta.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

LKC Dompet Dhuafa Papua Akhiri Program Kesehatan Empat Tahun di Holtekamp
67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026
Menahan Gelombang Malaria di Mimika
Pelecehan Seksual Berulang di Jayapura, Mengapa Korban Belum Terlindungi?
Pemkab Mimika Siapkan Tim Percepatan Penanggulangan TBC
Di Balik Rencana Kota Kapiraya, Warga Masih Hidup dalam Waswas
Evaluasi Program Pusjaki dan Kaka Sehat, Dinkes Mimika Tekankan Hal Ini
BMKG Imbau Warga Mimika Waspadai Kekeringan dan Kabut Asap Kiriman

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 15:11 WIT

67 Kasus Kusta Ditemukan di Mimika hingga Agustus 2026

Selasa, 22 September 2026 - 23:15 WIT

Menahan Gelombang Malaria di Mimika

Selasa, 22 September 2026 - 19:41 WIT

Pelecehan Seksual Berulang di Jayapura, Mengapa Korban Belum Terlindungi?

Kamis, 17 September 2026 - 19:14 WIT

Pemkab Mimika Siapkan Tim Percepatan Penanggulangan TBC

Minggu, 13 September 2026 - 19:15 WIT

Di Balik Rencana Kota Kapiraya, Warga Masih Hidup dalam Waswas

Berita Terbaru

Suasana workshop yang diselenggarakan oleh LMA Tsingwarop di Ballroom Hotel Horison Diana Timika, Jumat (25/9/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Organisasi

Kedaulatan Masyarakat Adat Tsingwarop di Tengah Arus Investasi

Jumat, 25 Sep 2026 - 18:43 WIT

Suasana kegiatan penyusunan analisis laporan pertanggungjawaban APBD 2026 di Aula Kantor BPKAD Mimika. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Pemerintahan

BPKAD Mimika Dorong APBD Tak Berhenti pada Serapan Anggaran

Jumat, 25 Sep 2026 - 17:34 WIT