Disnakeswan Mimika Sosialisasi Penanganan Pasca ASF

Ahmad

Selasa, 3 September 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana sosialisasi penanganan pasca ASF di aula salah satu hotel di Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Selasa (3/9/2024), (Foto: Galeri Papua/Wahyu)

Suasana sosialisasi penanganan pasca ASF di aula salah satu hotel di Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Selasa (3/9/2024), (Foto: Galeri Papua/Wahyu)

MIMIKA – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Mimika menggelar sosialisasi penanganan pasca virus African Swine Fever (ASF) di salah satu hotel di Jalan Yos Soedarso, Timika, Papua Tengah, Selasa (3/9/2024).

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri bebrapa tamu undangan serta 35 peternak babi di Kabupaten Mimika.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh drh. Yetty Hervianti dari Disnakkeswan Kabupaten Yapen sebagai narasumber.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Bidang Bina Usaha Disnakkeswan Kabupaten Mimika, Agustinus Mandang, mengatakan sosialisasi ini bertujuan untuk mengedukasi para peternak yang telah mengalami kerugian.

Agustinus menjelaskan, setelah dilanda wabah ASF, populasi babi di Mimika yang mati akibat ASF sudah sekitar 12.574 ekor.

Kondisi tersebut sampai saat ini masih terus berlangsung. Kendati demikian, kata Agustinus, tren penyebaran ASF di Mimika telah menurun. Akan tetapi, kerugian yang dialami para peternak ditaksir sangat besar.

“Dianggap perlu kita mencari jalan keluar yang mana penyakit ini akan bersama kita setiap saat sehingga perlu dicarikan solusi yang terbaik dalam penanganan ternak, kandang, dan lingkungan sekitar kandang,” kata Agustinus.

Baca Juga :  Pimpin Apel, Bupati Mimika Soroti Pegawai Tak Bekerja saat Berada di Kantor

Disnakeswan sendiri akan terus memberikan pendampingan pemeliharaan ternak babi melalui komunikasi, informasi, dan edukasi serta sosialisasi kepada peternak.

“Kami berharap, kepada peserta agar mengikuti dengan baik sosialisasi penyakit ASF saat ini sehingga bisa beternak babi kembali,” harapnya.

Sementara itu, drh. Yetty Hervianti menjelaskan ASF atau dengan nama lain demam babi Afrika ini memiliki ciri-ciri di mana saat babi terpapar virus ASF akan mengalami demam dengan suhu mencapai 41 sampai 42 derajat Celcius.

Babi yang terpapar ASF juga akan lemas dan tidak dapat berdiri, terdapat bercak merah hingga ungu pada kulit. Pada induk babi, biasanya mengeluarkan darah dari puting susu, dan diare berdarah.

Yetty mengatakan jika ternak babi sudah terserang ASF, maka segera dilakukan pemisahan antara babi yang terpapar dengan babi yang sehat.

“Kemudian, babi yang mati akibat ASF segera dikubur di dalam tanah dengan kedalaman 1,5 meter. Peternak juga disarankan untuk segera mengganti pakaian dan mencuci pakaian yang digunakan saat penguburan,” jelas Yetty.

Yetty memaparkan, adapun tahap-tahap pengisian kembali kandang babi yang juga harus diperhatikan dan mesti dilaksanakan oleh peternak di antaranya adalah sebelum pengisian, kandang dan alat kerja harus disterilkan menggunakan desinfektan atau detergen.

Baca Juga :  Pengurus YAPIS Cabang Mimika Masa Bakti 2025-2030 Resmi Dilantik

Peternak harus memastikan babi yang dibeli tidak berasal dari kandang atau peternakan yang bebas ASF.

Untuk peternakan skala besar, disarankan untuk memasukkan babi uji coba (Sentinel) guna menguji apakah kandang telah bebas ASF. Babi uji coba dipindahkan secara periodik dari satu kandang ke kandang lainnya.

Peternak juga wajib menerapkan prosedur pencegahan (biosecurity) di kandang dengan baik dan ketat.

“Sebab, demam babi Afrika dapat menyebar melalui kontak langsung antara babi peliharaan, pakan, dan sisa makanan yang terkontaminasi, perpindahan babi melalui kendaraan, hewan dan serangga pembawa virus seperti tikus, lalat, caplak dan lain-lain, peralatan kandang serta pakaian dan alas kaki yang terkontaminasi,” paparnya.

Yetty melanjutkan, biosecuriy dapat dilakukan dengan mengawasi ternak, orang, barang dan hewan. Selanjutnya, dengan mengenali gejala penyakit serta cara penularannya, menyelamatkan babi yang sehat dan mengingatkan kawan, tetangga, dan keluarga agar tidak sembarangan masuk kandang.


Update berita terbaru lainnya dengan mengikuti saluran Galeripapua.com WhatsApp Channel. Klik link berikut https://whatsapp.com/channel/0029VafbmilChq6Dj7IL2i46

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Krisis Pasokan, Warga Mimika Antre Berjam-jam Demi LPG
Tim Pemenangan Minta JOEL Perkuat Program Kerakyatan
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
Tokoh Pemuda Jila Apresiasi Respons Cepat Pemkab Mimika Bantu Pengungsi
BMKG Pastikan Cuaca Cerah saat Ibadah Malam Kudus di Mimika
Cuaca Mimika Terasa Lebih Panas, BMKG: Masih dalam Kondisi Normal
Sambutan Tarian Adat Warnai Kedatangan Dandim 1710/Mimika
Bakar Batu di Kimak, Yohan Dewelek Ajak Warga Sambut Natal dengan Aman
Tag :

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 19:56 WIT

Krisis Pasokan, Warga Mimika Antre Berjam-jam Demi LPG

Jumat, 27 Maret 2026 - 06:00 WIT

Tim Pemenangan Minta JOEL Perkuat Program Kerakyatan

Selasa, 27 Januari 2026 - 00:30 WIT

Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:40 WIT

Tokoh Pemuda Jila Apresiasi Respons Cepat Pemkab Mimika Bantu Pengungsi

Rabu, 24 Desember 2025 - 15:54 WIT

BMKG Pastikan Cuaca Cerah saat Ibadah Malam Kudus di Mimika

Berita Terbaru

Mahasiswa FIM-WP menggelar aksi mimbar bebas di Waena, Jayapura, Sabtu, 2 Mei 2026. Galeripapua/ Istimewa.

Organisasi

Mahasiswa West Papua Tuntut Pendidikan Gratis di Tanah Papua

Sabtu, 2 Mei 2026 - 21:40 WIT

Seorang penggiat Inorga KIS dengan papan seluncurnya sedang melakukan salah satu trik dalam permainan skateboard di area Car Free Day—Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Sabtu (2/5/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Event

KIS Mimika Warnai Parade Hardiknas di Car Free Day

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:56 WIT