Perubahan Iklim, Salju Abadi Kebanggaan Papua Bakal Hilang di 2026?

Ahmad

Selasa, 31 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salju abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/bmkg.go.id)

i

Salju abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah. (Foto: Istimewa/bmkg.go.id)

MIMIKA – Kabar duka datang dari Pegunungan Jayawijaya di mana salju abadi yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, khususnya Papua di gugusan bebatuan tajam itu diprediksi akan hilang.

Salju abadi di Papua atau gletser di Pegunungan Jayawijaya merupakan satu-satunya gletser tropis di Indonesia.

Menurut data yang dirangkum Galeripapua.com, salju abadi tersebut terbentuk karena ketinggian puncaknya yang menyebabkan suhu udara di puncak jauh lebih dingin, bahkan di musim kemarau. 

Namun, keberadaannya di Pegunungan Jayawijaya sepertinya tidak dapat diselamatkan lagi. Salju abadi di puncak gunung tersebut terancam punah beberapa tahun ke depan.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Marsareza, menjelaskan Salju abadi di Papua mengalami pencairan yang dipercepat oleh perubahan iklim, hujan, panas bebatuan, dan pemanasan global. 

Luas tutupan es salju di Puncak Jaya telah menyusut hingga 98% dari semula 19,3 km persegi pada 1850 menjadi 0,34 km persegi pada 2020.

Pria yang akrab disapa Reza itu menyebut, berdasarkan hasil penelitian BMKG Pusat, pengurangan es atau salju di puncak pegunungan Jayawijaya itu sangatlah drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini sontak menjadi pertanda bahwa salju abadi di Papua ini tak bertahan lama dan kemungkinan hanya tinggal kenangan.

Baca Juga :  Pijar Mimika Gelar Lomba Mewarnai, Diikuti 80 Peserta Anak-anak TK

“Jadi, dari penelitian dari 2022 dibanding 2024 itu turun setengah sudah,” kata Reza ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (30/12/2024).

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Marsareza, saat menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap pencairan salju abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Wahyu)

Berdasarkan data BMKG, di tahun 2022, luas bongkahan es di pegunungan Jayawijaya 0,23 kilometer persegi.

Namun, kemudian menurun drastis di tahun 2024 hingga mencapai 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi dengan ketebalan es hanya tersisa 4 meter.

“Jadi, ada penurunan setengah luasannya dari 2 tahun yang lalu. Kalau pencairan es di atas itu selain suhu, ada faktor dari batuannya juga. Nah, kalau dari batuan ini kan kalau kena panas juga memancarkan panas dari batuannya itu. Juga sering terjadinya hujan yang biasanya salju jadi air itu juga mempercepat,” katanya.

“Dari penelitian kemarin diprediksi 2026 es yang di puncak itu sudah mulai habis, tinggal kenangan seperti itu. Dua tahun lagi, soalnya kalau dilihat dari 2022 ke 2024 penurunannya sudah setengahnya,” imbuhnya.

BMKG juga mencatat, salju abadi pada tahun 2010 memiliki ketebalan es mencapai 32 meter.

Kendati seiring perubahan iklim yang terjadi di dunia, lapisan es itu terus berkurang. Hingga tahun 2015, penurunan ketebalan mencapai sekitar satu meter per tahun.

Baca Juga :  Sembilan Anggota DPRK Mimika Jalur Otsus Resmi Dilantik
Lokasi Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah, dilihat dari satelit menggunakan Google Maps. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar Google Maps)

Kondisi tersebut semakin buruk pada tahun 2015-2016 saat Indonesia dilanda fenomena El Nino di mana suhu permukaan menjadi lebih hangat.

Akibatnya, pemandangan di Puncak Jayawijaya mencair hingga 5 meter per tahun. Pencairan salju abadi itu tak berhenti.

Pada tahun 2015-2022, BMKG mencatat ketebalan es mencair 2,5 meter per tahun. Diperkirakan ketebalan es yang tersisa pada Desember 2022 hanya 6 meter.

Sementara itu, selain salju abadi, ada beberapa ekosistem di sekitar Pegunungan Jayawijaya juga terancam punah akibat perubahan iklim. Hal tersebut juga dibenarkan Kepala Balai Taman Nasional Lorentz Manuel Mirino.

Manuel mengatakan, terkait dengan hal tersebut tentunya berdampak pada habitat serta ekosistem yang ada di sekitarnya karena adanya perubahan iklim.

Meski belum dapat menyebutkan jumlah habitat serta ekosistem apa saja yang terancam punah, namun menurut Manuel perubahan iklim sangat memberi dampak.

“Pasti mempengaruhi habitat dan ekosistem yang ada. Namun, sampai saat ini secara ilmiah kita belum lihat dengan mungkin penelitian, tetapi mungkin secara visual yang mungkin bisa kita sampaikan itu terkait pengaruh terhadap ekosistem burung-burung migran yang selama ini ada, akhirnya sudah mulai berkurang,” kata Manuel saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon Senin siang.

Manuel mengatakan, sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian ekosistem di wilayah konservasi tersebut, pihaknya telah melakukan pemulihan-pemilihan terhadap habitat secara menyeluruh.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”
Pelni Siapkan Tiga Kapal Layani Lonjakan Penumpang Jelang Nataru di Mimika
Ekspedisi Pendakian Puncak Carstensz 2025 Ditutup, SDM Lokal Tunjukkan Kualitasnya
Cipayung Mimika Serukan Persatuan KNPI Melalui Musdalub
Penerbangan ke Wilayah Gunung Mimika Dihentikan Sementara, Ini Alasannya
Puncak Arus Balik di Timika Diprediksi pada 6 dan 13 April 2025
2 Pendaki WNI Meninggal Dunia di Puncak Cartenz
Pendakian Puncak Cartenz Kembali Dibuka, Sejumlah Guide OAP Turut Dilibatkan

Berita Terkait

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:26 WIT

Dari Hari HAM ke Pengungsian Massal Nduga: “Hadiah Natal Ini Kami Makan Bom-Bom”

Sabtu, 22 November 2025 - 01:19 WIT

Pelni Siapkan Tiga Kapal Layani Lonjakan Penumpang Jelang Nataru di Mimika

Selasa, 18 November 2025 - 21:16 WIT

Ekspedisi Pendakian Puncak Carstensz 2025 Ditutup, SDM Lokal Tunjukkan Kualitasnya

Rabu, 11 Juni 2025 - 17:57 WIT

Cipayung Mimika Serukan Persatuan KNPI Melalui Musdalub

Selasa, 15 April 2025 - 19:57 WIT

Penerbangan ke Wilayah Gunung Mimika Dihentikan Sementara, Ini Alasannya

Berita Terbaru

Solidaritas Merauke melakukan aksi spontan pada saat pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1/2026). (Foto: Istimewa/Solidaritas Merauke)

Suara

Solidaritas Merauke Desak Gereja Suarakan Penghentian PSN

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:32 WIT