Sorong di Tengah Bara: Pemindahan Tapol Papua yang Berujung Kericuhan

Kamis, 28 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polisi bersiaga di tengah aksi masa di Kota Sorong. (Foto: Istimewa)

Polisi bersiaga di tengah aksi masa di Kota Sorong. (Foto: Istimewa)

SORONG – Rabu (27/8/2025) pagi, udara di Kota Sorong berubah pekat. Asap ban bekas yang dibakar massa menutup pandangan di depan Mapolresta Sorong Kota.

Puluhan suara teriakan bercampur dengan dentuman gas air mata, membuat jalanan yang biasanya ramai terasa seperti medan konflik.

Pemicu suasana mencekam itu adalah pemindahan empat tahanan politik (Tapol) berinisial AG, PR, MS, dan NM. Mereka adalah terdakwa kasus makar yang sedang menjalani proses hukum di Sorong, namun dipindahkan ke Makassar dengan alasan keamanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi aparat, langkah itu adalah prosedur hukum. Bagi keluarga dan simpatisan, pemindahan justru dirasa sebagai tindakan sepihak yang mengabaikan kemanusiaan.

“Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal kemanusiaan. Salah satu dari mereka dalam kondisi sakit parah. Kenapa harus dipindahkan jauh dari keluarganya?” kata Simon Nauw, Koordinator Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi, yang ikut mendampingi aksi.

Dari Aksi Damai ke Kericuhan

Sekitar pukul 05.15 WIT, ratusan orang mulai berdatangan ke depan Polresta. Mereka membawa spanduk, menyuarakan penolakan, hingga memalang jalan dengan kayu dan batu. Api dari ban bekas menjilat langit yang masih gelap.

Awalnya, aksi berjalan penuh teriakan. Namun saat iring-iringan Brimob bersenjata lengkap membawa keempat tahanan menuju Bandara Domine Eduard Osok pada pukul 06.30 WIT, suasana berubah.

Baca Juga :  Breaking News: Kebakaran Hebat di Jalan Ahmad Yani Timika

Massa mencoba menghadang, tapi terhalang kawalan ketat kendaraan taktis. Bentrok pun pecah: lemparan batu berbalas tembakan peringatan dan gas air mata. Dalam hitungan menit, protes berubah menjadi kericuhan yang menjalar ke sejumlah titik kota.

Amarah yang Meluas

Sorong mendadak menjadi kota penuh ketegangan. Massa melampiaskan kemarahan ke berbagai fasilitas pemerintahan. Kantor Gubernur Papua Barat Daya, Kantor Wali Kota Sorong, hingga Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tak luput dari sasaran.

Kerusakan paling nyata terlihat di kediaman resmi Gubernur Elisa Kambu. Pagar besi patah, jendela pecah, dan empat mobil dinas maupun pribadi rusak akibat lemparan batu.

“Kalau pemerintah mendengar suara rakyat sejak awal, tidak akan ada korban dan kerusakan seperti ini. Pemindahan itu melanggar hak keluarga untuk mendampingi,” ujar Simon Nauw.

Tindakan Kepolisian

Di tengah kekacauan, aparat bergerak cepat. Polda Papua Barat Daya mengamankan 10 orang yang diduga sebagai provokator. Mereka dituduh ikut melempar batu, memblokade jalan, dan merusak fasilitas negara.

“Sepuluh orang ini sedang diperiksa intensif. Tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah, karena kita masih melakukan identifikasi di lapangan,” kata Kabid Humas Polda Papua Barat Daya, Kombes Pol Daniel Pusparma.

Baca Juga :  Forum Lintas OAP Sorong Raya Nyatakan Dukung Program MBG

Meski menjelang sore situasi relatif terkendali, aparat masih disiagakan di titik-titik strategis. Polisi meminta masyarakat tidak mudah percaya informasi provokatif yang beredar di media sosial.

Suara dari Warga

Kericuhan juga meninggalkan dampak sosial. Jalanan utama lumpuh, toko-toko tutup lebih awal, dan beberapa sekolah menghentikan kegiatan belajar.

Seorang tokoh masyarakat Papua, Abdul Wahab Warwe, berharap pemerintah segera turun tangan.

“Jangan biarkan masyarakat dan aparat terus berhadap-hadapan. Wali Kota, Gubernur, harus jadi penengah agar Sorong tenang kembali,” ujarnya.

Bara yang Belum Padam

Aksi penolakan pemindahan Tapol sebenarnya bukan hal baru. Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi mencatat sudah 13 kali aksi damai digelar sebelumnya, namun semuanya tidak direspons.

Kini, bara ketidakpuasan itu meledak dalam bentuk kerusuhan besar. Situasi Sorong memang berangsur normal pada malam hari, tetapi bekas-bekas kerusuhan—pecahan kaca, ban hangus, dan gedung yang rusak—masih jadi pengingat betapa cepat protes bisa berujung chaos.

Pemerintah pusat maupun daerah hingga kini belum memberi penjelasan resmi soal alasan pemindahan tahanan. Pertanyaan terbesar yang tersisa: apakah ini akan membuka ruang dialog baru, atau justru menambah panjang daftar ketegangan di tanah Papua?

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seorang Perempuan Ditemukan Tak Bernyawa di Mile 30 Mimika
Pemuda Terpeleset Saat Memancing, Ditemukan Meninggal di Perairan Poumako
Karyawan Freeport Meninggal Dunia dalam Insiden Gangguan Keamanan di Grasberg
Petugas Sampah Mogok Kerja, Sampah Menumpuk di Jalanan Timika
KM Jaya Baru Tenggelam Dihantam Ombak di Muara Poumako Mimika
TNI Gagalkan Serangan Bersenjata di Tembagapura Mimika, Satu Tewas dan Enam Ditangkap
Kontak Senjata di Nabire: Aparat TNI Kena Tembak, Ratusan Amunisi Disita
Tiga ABK Ditikam di Laut, Polairud Mimika Gerak Cepat Evakuasi ke RSUD

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:00 WIT

Seorang Perempuan Ditemukan Tak Bernyawa di Mile 30 Mimika

Senin, 16 Maret 2026 - 23:25 WIT

Pemuda Terpeleset Saat Memancing, Ditemukan Meninggal di Perairan Poumako

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:41 WIT

Karyawan Freeport Meninggal Dunia dalam Insiden Gangguan Keamanan di Grasberg

Senin, 9 Maret 2026 - 08:13 WIT

Petugas Sampah Mogok Kerja, Sampah Menumpuk di Jalanan Timika

Jumat, 6 Maret 2026 - 18:14 WIT

KM Jaya Baru Tenggelam Dihantam Ombak di Muara Poumako Mimika

Berita Terbaru

Jenazah korban dievakuasi dari Kali Kabur, Mile 30 Tanggul Barat, areal PT Freeport Indonesia, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Rabu (18/3/2026). (Foto: Istimewa)

Peristiwa

Seorang Perempuan Ditemukan Tak Bernyawa di Mile 30 Mimika

Rabu, 18 Mar 2026 - 23:00 WIT