MIMIKA – PT Freeport Indonesia (PTFI) terus memperkuat komitmennya dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam berbagai program rehabilitasi kawasan pesisir dan revegetasi lahan bekas tambang di Kabupaten Mimika.
Vice President Environmental PTFI, Gesang Setyadi, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga keberlanjutan program lingkungan yang dijalankan perusahaan.
Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri pembukaan Expo Lingkungan Hidup yang digelar di Halaman Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Jumat (5/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Gesang, saat ini PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan sekitar 70 kontraktor yang terlibat dalam berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan, mulai dari kawasan tambang Grasberg hingga wilayah pesisir Mimika.
“Kami melibatkan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Kami mempunyai 70 kontraktor dari Tambang Gresberg sampai ke daerah pesisir,” ujarnya.
Khusus di kawasan pesisir, perusahaan menggandeng sekitar 27 pengusaha lokal yang berasal dari lima kampung terdampak, yakni Nawaripi, Koperapoka, Tipuka, Ayuka, dan Nayaro.
Mereka berperan dalam berbagai program rehabilitasi lingkungan, termasuk pembangunan struktur bambu yang berfungsi untuk menahan sedimen di wilayah pesisir.
“Mereka membantu kami untuk mengelola daerah pesisir dengan cara membangun struktur dari bambu panjangnya 2,7 km, kita sudah bangun 8,4 km,” jelasnya
Menurutnya, keberadaan struktur tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan ekosistem pesisir karena mampu menahan sedimen yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan mangrove.
“Dari struktur ini akan tertahan sedimen-sedimen yang nantinya ditanami dengan mangrove,” ujarnya
Hingga saat ini, PT Freeport Indonesia telah melakukan penanaman mangrove di area seluas lebih dari 2.100 hektare di wilayah pesisir Mimika.
Program tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan terdampak aktivitas pertambangan.
Selain rehabilitasi pesisir, perusahaan juga menjalankan program revegetasi di sejumlah lokasi bekas aktivitas pertambangan yang telah melalui proses stabilisasi lahan.
“Di atas juga kami sudah menanam di lokasi-lokasi yang dulu bekas penambangan, kemudian kita stabilkan. Kita sudah tanam sekitar 600 hektare dengan tanaman-tanaman lokal,” katanya
Menurutnya, keberhasilan program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi perusahaan, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitar wilayah operasional.
“Kami merasa bahwa keterlibatan masyarakat ini sangat penting dalam pengelolaan lingkungan,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat, PT Freeport Indonesia berharap berbagai program rehabilitasi lingkungan dapat memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi kelestarian ekosistem maupun bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.








