MIMIKA – Sebanyak lima sekolah di Kabupaten Mimika saat ini dipersiapkan untuk mengikuti penilaian Adiwiyata Nasional setelah menyelesaikan tahapan penilaian administrasi.
Kelima sekolah tersebut yakni SD Inpres Timika II, SD Shining Star, SD Kalam Kudus, SMP Negeri XI dan SMP Negeri VII.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH Mimika, Maria Leisubun, mengatakan pihaknya saat ini terus melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap kelima sekolah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu disampaikannya usai kegiatan Sosialisasi Sekolah yang Berwawasan Lingkungan di Kabupaten Mimika, yang digelar DLH di Ballroom Hotel Horizon Diana Mimika, Jumat (21/8/2026).
“Lima sekolah ini sementara kami lakukan pendampingan dan pembinaan untuk menuju penilaian nasional,” kata Maria.
Menurutnya, kelima sekolah tersebut telah melalui penilaian administrasi dan selanjutnya akan menghadapi penilaian fisik oleh tim dari kementerian terkait.
“Kami terus melakukan pendampingan dan pembinaan. Mereka sedang mempersiapkan diri agar ketika tim penilaian turun, lima aspek tersebut terpenuhi, termasuk bagaimana mental dan karakter anak-anak juga terbentuk,” ujarnya.
Maria menjelaskan, terdapat sejumlah aspek penting yang menjadi perhatian dalam program Adiwiyata. Selain pengelolaan sampah, sekolah harus memiliki sistem kebersihan dan sanitasi, penghijauan dan ruang terbuka hijau, inovasi, serta program konservasi energi dan air.
Untuk mendukung penerapan program tersebut, Pemkab Mimika melalui DLH juga memberikan intervensi berupa penyediaan berbagai sarana pendukung.
Dukungan tersebut di antaranya tempat sampah terpilah, fasilitas pengelolaan sampah berbasis 3R, kios sampah, bank sampah dan biopori.
“Pemerintah juga bermitra dengan sekolah. Misalnya mereka membutuhkan tempat sampah 3R, kios sampah atau bank sampah. Di beberapa sekolah Adiwiyata sudah dibangun bank sampah dan kios sampah,” jelasnya.
Selain penyediaan fasilitas, DLH juga melakukan pendampingan secara rutin agar program lingkungan di sekolah dapat berjalan secara berkelanjutan.
Maria mengatakan, sekolah tidak harus hanya mengandalkan dukungan pemerintah. Pihak sekolah juga didorong membangun kemitraan dengan dunia usaha dan berbagai pihak lainnya.
“Selain pemerintah, masih ada mitra-mitra lainnya. Sekolah bisa bermitra dengan pelaku usaha. Di setiap pelaku usaha ada CSR yang dapat memberikan bantuan dalam bentuk tertentu jika dimintai oleh pihak sekolah,” katanya.
Ia berharap lima sekolah yang sedang dipersiapkan menuju Adiwiyata Nasional dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya di Mimika.
Dengan semakin banyak sekolah yang menerapkan program tersebut, DLH menargetkan budaya peduli lingkungan dapat berkembang secara luas, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga merambah keluarga dan masyarakat.
“Ke depan kami mengusahakan semua sekolah wajib berwawasan lingkungan. Semua sekolah wajib Adiwiyata,” pungkasnya.










