MIMIKA – Sembilan anak di bawah umur yang diculik di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, belum ditemukan hingga tujuh hari setelah penculikan. Polisi mengakui penyelidikan belum menghasilkan titik terang soal keberadaan korban maupun identitas pelaku.
Penculikan terjadi bersamaan dengan penyerangan pos keamanan di Distrik Jila pada 17 Agustus 2026. Dalam insiden itu, satu prajurit TNI tewas. Dua perempuan warga setempat juga menjadi korban, satu di antaranya tewas, satu lagi mengalami patah kaki saat berusaha melindungi anak-anak.
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak mengatakan penyelidikan baru sebatas olah TKP dan pengumpulan kronologi. “Masalah ke posisi atau keberadaan daripada pelaku atau korban, ini belum kita dapat,” kata Alredo saat ditemui, Senin, 24 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu hambatan terbesar adalah saksi kunci yang tak terjangkau. Perempuan yang mengalami patah kaki, satu-satunya saksi yang selamat dari jarak dekat sudah dibawa oleh keluarganya ke kampung terpencil sebelum sempat dimintai keterangan. “Kampungnya jauh sekali, dan dia sudah bergabung bersama keluarganya di sana,” ujar Alredo.
Identitas pelaku juga masih gelap. Polisi belum bisa memastikan apakah ini aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau kelompok lain. Hingga kini, tidak ada satu pun pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan dan penculikan tersebut, sesuatu yang menurut Alredo tidak lazim jika ini memang aksi KKB. “Biasanya KKB kalau beraksi kan menyatakan bertanggung jawab. Hari ini enggak ada,” katanya.
Operasi pencarian masih berlanjut. Polsek Jila melaporkan situasi keamanan di distrik itu kini tenang, meski keberadaan sembilan anak yang diculik belum diketahui









