MIMIKA – Kabupaten Deiyai sukses mencuri perhatian dalam ajang Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2026 dengan meraih predikat juara umum.
Penghargaan tersebut diserahkan pada malam kedua penyelenggaraan TIFA di pelataran Graha Eme Neme Yauware, Timika, Jumat (3/7/2026), menjelang puncak acara yang digelar pada hari ketiga.
Piagam dan piala juara umum diserahkan langsung oleh Joko Suharbowo selaku Ketua Tim Wilayah Indonesia Timur untuk Event Daerah pada Kementerian Pariwisata RI kepada Ketua Dekranasda Kabupaten Deiyai yang juga Ketua TP-PKK Deiyai, Fransina Rumbiak Mote.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan budaya dan produk lokal Deiyai mampu bersaing serta mendapat apresiasi tinggi di panggung festival berskala nasional.
Fransina mengatakan, keikutsertaan Kabupaten Deiyai dalam TIFA merupakan upaya memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas, mengingat daerahnya belum memiliki kesempatan menyelenggarakan festival sebesar TIFA.
“Kami sangat bersyukur. Karena kami belum bisa mengadakan event sebesar ini, maka kami memilih berpartisipasi untuk memperkenalkan Kabupaten Deiyai, baik di tingkat provinsi maupun nantinya di tingkat nasional,” ujarnya.
Selama festival, Deiyai menampilkan beragam produk unggulan dan warisan budaya khas daerah. Di antaranya noken anggrek, noken dari kulit kayu, berbagai produk UMKM seperti keripik, jus buah emo yang merupakan buah khas Deiyai, produk herbal, minyak buah merah, hingga jus buah merah.
Menurut Fransina, salah satu kekuatan utama yang membawa Deiyai meraih juara adalah keaslian seluruh produk yang dipamerkan.
“Semua yang kami tampilkan adalah khas Deiyai. Noken anggrek kami masih asli tanpa modifikasi. Begitu juga produk-produk lainnya, semuanya benar-benar berasal dari Deiyai,” katanya.
Ia berharap capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan sektor budaya dan ekonomi kreatif di daerahnya.
Bahkan, Deiyai memiliki keinginan untuk menyelenggarakan festival budaya sendiri apabila akses transportasi dan sarana pendukung semakin memadai.
“Kami juga ingin membuat festival seperti ini. Kendala kami masih pada transportasi dan sarana-prasarana karena berada di wilayah pedalaman. Kalau akses semakin baik, kami juga ingin menghadirkan event seperti TIFA di Deiyai,” ungkapnya.
Fransina juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Timika Inside Festival of Art yang dinilainya menjadi ruang penting untuk memperkenalkan budaya daerah-daerah di Papua Tengah kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, TIFA merupakan salah satu event terbesar di Papua Tengah yang mampu menghadirkan peserta dan tamu dari berbagai daerah, sehingga memberikan manfaat besar bagi promosi budaya, pariwisata, serta produk ekonomi kreatif.
“TIFA tidak boleh berhenti sampai di sini. Event ini harus tetap eksis pada tahun-tahun berikutnya karena menjadi wadah yang sangat baik untuk memperkenalkan daerah-daerah di Papua Tengah,” ujarnya.
Meski menilai penyelenggaraan tahun ini sedikit lebih sepi dibanding tahun sebelumnya, Fransina tetap memberikan dukungan penuh kepada panitia penyelenggara agar terus menghadirkan inovasi.
“Saya berharap tim TIFA Creative tetap semangat dan terus kreatif. Momen seperti ini sangat berharga. Semoga ke depan semakin ramai dan semakin banyak daerah yang bergabung,” tuturnya.
Sebagai informasi, Timika Inside Festival of Art (TIFA) merupakan festival seni, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang digelar setiap tahun di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
TIFA menjadi ajang promosi budaya Papua sekaligus ruang kolaborasi bagi pelaku seni, UMKM, komunitas budaya, dan pemerintah daerah.
Pada tahun 2026, TIFA kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI, memperkuat posisinya sebagai salah satu agenda wisata unggulan di Indonesia.







