JAYAPURA – Keuskupan Jayapura menegaskan pesawat milik PT Associated Mission Aviation (AMA) yang dibakar di Lapangan Terbang Ipdeheik, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegununga, murni digunakan untuk pelayanan kemanusiaan dan misi gereja. Uskup Jayapura Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You membantah tudingan bahwa pesawat tersebut pernah digunakan untuk mengangkut personel militer maupun logistik operasi keamanan.
“Gereja Katolik ada untuk pelayanan manusia, murni 100 persen. Tidak ada kepentingan politik di balik itu,” kata Yanuarius dalam konferensi pers di Jayapura, Jumat.
Dia juga berkata, penerbangan AMA selama 67 tahun bertujuan menjangkau daerah-daerah terpencil yang sulit diakses transportasi lain. Selain mengantar tenaga pelayanan gereja, pesawat misi juga membawa bahan bangunan, kebutuhan pokok, serta penumpang menuju wilayah pedalaman Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengatakan pelayanan tersebut bahkan mendapat dukungan pemerintah melalui skema penerbangan bersubsidi untuk membuka akses ke daerah-daerah terisolasi. Salah satu rute yang dilayani ialah Balingga, yang mulai diterbangi secara rutin sekitar sekali dalam sepekan.
Yanuarius menyebut selama membuka rute tersebut, pihaknya tidak pernah menerima surat maupun peringatan keamanan yang melarang penerbangan ke wilayah itu. “Selama ini aman-aman saja. Tidak ada surat yang masuk ke kantor bahwa tidak boleh terbang ke sana,” ujarnya.
Peristiwa pembakaran pesawat, kata dia, menjadi pukulan berat bagi gereja. AMA telah beroperasi selama 67 tahun untuk melayani masyarakat pedalaman dengan mengandalkan dukungan dana umat dan lembaga-lembaga gereja.
Ia mengungkapkan satu unit pesawat Pilatus Porter yang dioperasikan AMA bernilai sekitar Rp52 miliar. Kehilangan pesawat tersebut membuat gereja harus mempertimbangkan kembali keberlanjutan pelayanan penerbangan di wilayah pedalaman.
Yanuarius juga membantah tudingan yang beredar bahwa pesawat AMA mengangkut anggota TNI, Polri, kelompok bersenjata, maupun amunisi. “Kalau memang kami kedapatan mengangkut anggota TNI atau Polri, atau membawa amunisi, kami bisa terima. Tetapi itu tidak pernah terjadi,” katanya.
Ia menegaskan informasi yang menyebut pesawat misi membawa kepentingan militer merupakan alasan yang “dicari-cari” dan tidak sesuai fakta.
Direktur PT AMA Bob Kayadu mengatakan pembakaran pesawat merupakan peristiwa yang belum pernah dialami maskapai misi tersebut sejak berdiri.”Kalau kecelakaan itu biasa. Tapi kalau pembakaran dan juga pembunuhan, itu sangat tidak berperikemanusiaan,” ujarnya.
Yanuarius mengingatkan, apabila serangan terhadap penerbangan misi kembali terjadi, bukan hanya AMA yang akan menghentikan operasinya, tetapi juga maskapai misi lain seperti MAF dan Advent. Menurut dia, para pilot kini menghadapi trauma untuk kembali melayani daerah pedalaman. “Kalau maskapai-maskapai misi berhenti, siapa yang akan melayani masyarakat di pedalaman?” katanya.







