Egianus Kogoya Disebut Minta Uang dan Senjata, Jubir OPM: Tidak Benar, Itu Hanya Propaganda

Senin, 27 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Egianus Kogoya bersama pasukannya menyandera pilot Susi Air Kapten Philip Mark Mertens. (Foto: istimewa)

Egianus Kogoya bersama pasukannya menyandera pilot Susi Air Kapten Philip Mark Mertens. (Foto: istimewa)

NDUGA – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya yang saat ini masih menyandera pilot Susi Air Kapten Philip Mark Mertens disebut-sebut tengah meminta uang dan senjata sebagai tebusan pembebasan sandera.

Hal itu diungkapkan Kapolda Papua, Irjen Mathius D. Fakhiri, pada Kamis (23/2/2023) lalu di Timika, Papua Tengah.

Dijelaskan bahwa tim negosiasi sudah sempat menjalin komunikasi dengan kelompok bersenjata tersebut, dan Egianus Kogoya pernah menyampaikan permintaan sebagai syarat untuk membebaskan kapten berkewarganegaraan Selandia Baru tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Memang pernah dia menyampaikan tuntutan untuk bisa mengganti senjata dan uang,” ujar Mathius.

Permintaan tersebut, kata Kapolda, tentunya sulit untuk dipenuhi, apa lagi terkait senjata api dan amunisi.

Menurutnya tuntutan itu tidak bakalan mungkin disetujui karena akan memperburuk situasi.

Menanggapi apa yang dikatakan Kapolda Papua, juru bicara (Jubir) TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menegaskan bahwa permintaan uang dan senjata oleh Egianus Kogoya adalah tidak benar.

Menurutnya apa yang disampaikan Kapolda Papua hanyalah sebuah propaganda karena Pemerintah Selandia Baru telah meminta TNI/Polri untuk tidak menggunakan cara kekerasan dalam penyelamatan warga negaranya.

Baca Juga :  Aparat Gabungan Tembak Mati Anggota KKB di Paniai Papua Tengah

“Tidak benar. Itu hanya propaganda musuh karena Selandia Baru minta stop operasi militer, jadi TNI poliri masih cari jalan dengan membangun opini,” tegasnya melalui pesan singkat yang dikirim ke media ini pada Sabtu (25/2/2023) siang.

Untuk diketahui, permintaan Pemerintah Selandia Baru untuk tidak menggunakan cara kekerasan pun sempat diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, pada Selasa (21/2/2023) di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta.

“Sekarang ini masalahnya yang disandera adalah orang asing. Dan begini, ‘pokoknya sandera ini akan kami lepas kalau papua dilepas.’ Itukan ancamannya. Saya katakan, kita sudah tahu tempatnya, di koordinat berapa, titik berapa, udah kita kepung sekarang,” jelas Mahfud.

“Tetapi begitu kita mau gerak, Pemerintah Selandia Baru datang ke sini (menyampaikan), kami mohon agar tidak ada tindak kekerasan karena itu warga kami, agar masalah tidak menjadi internasional. Kalau internasional, kita yang rugi pak,” terangnya sesuai permintaan Pemerintah Selandia Baru.

Baca Juga :  Jenazah Praka Jumardi Korban Kontak Tembak di Puncak Telah Diterbangkan ke Sulawesi Selatan

“Untuk itu, kami masih menunggu, semoga segera ada solusinya,” katanya lagi.

Lebih lanjut mengutip dari ABC News, Kamis, (23/2/2023), TPNPB-OPM juga menginginkan keterlibatan PBB untuk menengahi pembicaraan antara TPNPB-OPM, Indonesia, dan Selandia Baru.

Tak hanya itu, mereka juga menuntut kepada pihak Selandia Baru dan Australia untuk berhenti mengekspor peralatan militer ke Indonesia.

“Itulah posisi kami saat ini,” ujar Akoubou Amatus Douw, seorang perwakilan TPNPB-OPM yang berbasis di Australia.

Dia juga menyebutkan bahwa TPNPB menganggap Kapten Philip yang kini disandera adalah bagian dari mereka karena Kapten Philip merupakan orang kawasan pasifik.

“Dia (Kapten Martens) adalah bagian dari kami, yang juga orang-orang di kawasan Pasifik. Kami menghormati nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia untuk setiap individu, seperti yang sudah diatur dalam piagam PBB,” tegas Akoubou.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satgas ODC Identifikasi Tujuh Terduga Pelaku Pembunuhan Pilot AMA
Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya
Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV
MRP Papua Tengah Tampung Aspirasi Perempuan Mimika, Berbagai Persoalan Disorot
Fakhiri dan FPHS Tsingwarop Perkuat Komitmen Kawal Dana 4 Persen Freeport
Dari “Kolam Mancing” ke “Arena Tamiya”: Kritik Warga Timika Berujung Aksi Nyata
Petrosea–Distrik Miru Bangun RTH Terintegrasi, Dorong Lingkungan Sehat dan UMKM OAP
Petrosea Dorong Ketahanan Keluarga, Edukasi Catin Perdana Digelar di Mimika

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:09 WIT

Satgas ODC Identifikasi Tujuh Terduga Pelaku Pembunuhan Pilot AMA

Minggu, 14 Juni 2026 - 00:01 WIT

Dewan Adat Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Benahi Mamberamo Raya

Sabtu, 23 Mei 2026 - 01:00 WIT

Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Dirilis di YouTube JubiTV

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:41 WIT

MRP Papua Tengah Tampung Aspirasi Perempuan Mimika, Berbagai Persoalan Disorot

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:21 WIT

Fakhiri dan FPHS Tsingwarop Perkuat Komitmen Kawal Dana 4 Persen Freeport

Berita Terbaru

Kantor Disdukcapil Kabupaten Mimika. (Foto: Istimewa)

Pemerintahan

Data Penduduk Mimika Semester I 2026: 325.596 Jiwa

Selasa, 4 Agu 2026 - 20:07 WIT

Bupati Mimika, Johannes Rettob. (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Pemerintahan

Bupati Mimika Ancam Cabut Izin Usaha Jika Buang Sampah Sembarangan

Selasa, 4 Agu 2026 - 20:01 WIT

Jenazah korban tergeletak di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Mimika, dengan sejumlah panah menancap di sekujur tubuhnya. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Hukrim

Pembunuhan di Kwamki Narama, Polisi Buru Pelaku Utama

Selasa, 4 Agu 2026 - 10:00 WIT

Ketua I KNPB Pusat Warpo Wetipo (kanan) didampingi Juru Bicara KNPB Pusat Ogram Wanimbo menyampaikan pernyataan sikap dalam aksi KNPB di Jayapura, Senin, 3 Agustus 2026. KNPB menyerukan pembukaan akses bantuan kemanusiaan internasional ke wilayah konflik di Papua serta mendorong penyelesaian konflik melalui jalur internasional. GaleriPapua/ Ikbal Asra.

Organisasi

KNPB Desak ICRC Tekan Indonesia Buka Akses Kemanusiaan di Papua

Senin, 3 Agu 2026 - 22:47 WIT