Pembunuhan Pilot Glen dan Operasi Bela-Alama 1996

Victor Yeimo

Jumat, 9 Agustus 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peristiwa pembunuhan pilot Glen Malcolm Conning, tahun 2024 dan operasi penyelamatan sandera Tim Lorentz 95 di Bela-Alama tahun 1996.

Peristiwa pembunuhan pilot Glen Malcolm Conning, tahun 2024 dan operasi penyelamatan sandera Tim Lorentz 95 di Bela-Alama tahun 1996.

MIMIKA – Pembunuhan pilot helikopter, Glen Malcolm Conning, di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah mengingatkan kembali kisah tragis di kampung ini pada tahun 1996.

Operasi pembebasan sandera Tim Lorentz 95 dipimpin Danjen Prabowo Subianto melakukan pembunuhan massal, penghilangan, pengungsian, serta pembakaran gereja dan rumah di Bella, Alama, dan Mapenduma.

Laporan Jawa Pos 1997 menyebut saksi korban sandera Daniel Start bersaksi bahwa pasukan komando dari Inggris, Special Air Service (SAS), dan pasukan keamanan ternama, Executive Outcome (EO), ikut menyamar sebagai petugas International Red Cross (Palang Merah Internasional) bersama Kopassus melakukan penyerangan dari helikopter di tiga kampung ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laporan gereja menyebut 20 warga sipil terbunuh, 5 orang hilang, 182 rumah penduduk dibakar termasuk 15 gereja dan 2.000 lebih penduduk mengungsi.

Kejahatan tersebut meninggalkan trauma bagi anak-anak yang lahir besar menyaksikan orang tuanya dibunuh dan rumahnya dibakar di depan mata mereka.

Memori penindasan itu meninggalkan dendam, bukan saja bagi Egianus Kogoya dan kawan-kawan yang adalah keluarga TPNPB, tetapi banyak 2.000-an keluarga korban warga sipil.

Pasalnya, penyerbuan dengan helikopter yang menyamar sebagai Palang Merah itu dilakukan saat TPNPB Kelly Kwalik, Daniel Kogoya, dan Silas Kogoya hendak menyerahkan sandera secara baik-baik di lapangan terbuka.

Pembunuhan pilot helikopter Glenn kali ini juga terjadi setelah Panglima Kodap III TPNPB, Gen. Egianus Kogoya menyatakan akan segera membebaskan Pilot Philip Mehrten.

Hingga hari ke-4, pihak TPNPB belum menyatakan bertanggung jawab dan justru menuduh TNI mendalangi pembunuhan untuk menggagalkan pembebasan sandera. Begitu pula sebaliknya, TNI menuduh TPNPB pelakunya.

Jika keduanya tidak, maka apakah bisa diduga pelakunya adalah para korban yang trauma dari kebrutalan operasi 1996 di kampung Alama? Tentu perlu diinvestigasi.

Jika dihitung untung rugi politik kedua pihak, pihak TPNPB paling dirugikan dan tidak ada keuntungan politik dari penembakan ini.

Baca Juga :  Tim SAR Gabungan Bergerak ke Lokasi Jatuhnya Helikopter PK IWS di Jila

Maka, sangat tidak mungkin TPNPB secara komando melakukan tindakan ini karena buktinya pilot Philip tidak ditembak, tapi diamankan dan hendak dibebaskan TPNPB dari ancaman pembunuhan TNI yang berulang kali menargetkan pilot dengan penembakan bom di persembunyiannya.

Pihak TNI dan negara sangat berkepentingan untuk memperkuat citra buruk pada TPNPB-OPM sebagai teroris di mata dunia.

Hampir dua tahun operasi pembebasan sandera gagal dilakukan Indonesia yang hendak mendulang dukungan dari Pasifik terutama New Zealand.

Pengumuman pembebasan sandera oleh Gen. Egianus Kogoya jika terjadi akan menjatuhkan citra pasukan TNI dan negara yang punya kepentingan menghancurkan citra perjuangan bangsa Papua di forum internasional seperti Pacific Islands Forum (PIF) yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

Dapatkah kita curigai penembakan ini bertujuan membunuh niat baik TPNPB dalam pembebasan Pilot dan perjuangan bangsa Papua?

Jika benar, maka bisa jadi ini merupakan strategi yang dalam ilmu intelijen disebut “false flag” atau operasi bendera palsu. Suatu strategi penyerangan atau tindakan keji yang dilakukan pada warga sipil untuk mengarahkan tuduhan kepada pihak lawan sebagai pelakunya.

Tujuannya adalah untuk mendiskreditkan musuh, memicu respons publik atau militer terhadap musuh, dan memperoleh keuntungan strategis atau politik.

Ada juga istilah “proxy war”. Dalam skenario ini, suatu pihak tidak terlibat secara langsung dalam aksi kekerasan tetapi menggunakan pihak ketiga atau “proxy” untuk melaksanakan tujuan mereka.

Proxy war sering digunakan untuk menghindari keterlibatan langsung, mengurangi risiko bagi pihak utama, dan tetap menjaga deniability (penyangkalan yang masuk akal).

Jika TPNPB tidak tahu menahu pembunuhan ini, maka bisa saja TNI menggunakan tangan ketiga yakni kelompok bayaran yang menyamar sebagai TPNPB. Tentu ini hanya dugaan, tetapi dalam dunia intelijen, operasi seperti ini sudah biasa diterapkan.

Terlepas dari siapapun yang harus dibuktikan bersalah dalam segala konflik berdarah-darah di West Papua, kolonialisme dan kapitalisme yakni Indonesia dan Freeport ingin menjaga Papua tanah darah tanpa penyelesaian. Tanah Papua memang ladang bisnis TNI/Polri dan para kapitalis elit birokrat di Jakarta. Keduanya ingin konflik dijaga untuk bisnis.

Baca Juga :  Warga Manado di Mimika Siap Menangkan AIYE

Papua saat ini, tersisa 2.971.340 jiwa dari 5,4 juta penduduk Papua menurut data BPS 2022. Jumlah non Papua lebih besar dengan laju 6,39% pendatang baru per tahun di 6 Provinsi Pemekaran. Dari kota ke kampung-kampung, migrasi pendatang dengan kekuatan perusahaan dan militer mendominasi semua sektor produktif.

Sementara hutan adat yang merupakan benteng terakhir bumi dari ancaman pemanasan global terancam habis. Dari 34,3 juta hektar hutan primer di Tanah Papua, sudah 793.623 hektar habis sejak 2021-2022. Dalam kurun 2 bulan saja (Januari-Februari 2024), Yayasan Pusaka menemukan 765 hektar hutan habis di Papua.

Menurut data Greenpeace, sekitar 12,9 juta hektar hutan Papua akan dikonversi perusahaan-perusahaan yang diijinkan Indonesia. Baru saja 23 Juli 2024, 2 juta hektar hutan di Merauke diresmikan Jokowi untuk diubah menjadi lahan tebu. Artinya, masyarakat adat dipinggirkan, hutannya dihabisi demi nafsu serakah para penjajah dan perampok di tanah Papua.

Jadi apakah orang Papua mesti dinafikan dengan membentuk citra buruk terus menerus pada perjuangan bangsanya. Saya kira seperti perjuangan bangsa Palestina di bawah kuasa media imperialis, itu pula yang dihadapi bangsa Papua saat ini.

Benar kata Malcolm X, “Media adalah entitas paling kuat di dunia. Mereka memiliki kekuatan untuk membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah dan membuat orang yang bersalah menjadi tidak bersalah.”

Semua kebenaran perjuangan bangsa Papua ditutupi dengan segala bentuk propaganda dan agitasi penjajah.

*) Sebuah tulisan oleh Victor Yeimo, Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB).


Update berita terbaru lainnya dengan mengikuti saluran Galeripapua.com WhatsApp Channel. Klik link berikut https://whatsapp.com/channel/0029VafbmilChq6Dj7IL2i46

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport
MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian
Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang
Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan
Dari “Kolam Mancing” ke “Arena Tamiya”: Kritik Warga Timika Berujung Aksi Nyata
Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika
“Wisata Mancing Dadakan” di Jalan Ahmad Yani Mimika, Sindiran Halus untuk Genangan Abadi
Petrosea–Distrik Miru Bangun RTH Terintegrasi, Dorong Lingkungan Sehat dan UMKM OAP

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:10 WIT

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport

Kamis, 30 April 2026 - 06:11 WIT

MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian

Rabu, 29 April 2026 - 17:17 WIT

Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang

Rabu, 22 April 2026 - 13:51 WIT

Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan

Selasa, 21 April 2026 - 19:05 WIT

Dari “Kolam Mancing” ke “Arena Tamiya”: Kritik Warga Timika Berujung Aksi Nyata

Berita Terbaru

Polisi lalu lintas melakukan olah tempat kejadian perkara di Jalan Poros Mapurujaya KM 10, Mimika, Jumat, 1 Mei 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Pengendara Motor Tewas Berujung Penikaman di Mimika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:59 WIT

Barang bukti narkotika yang diamankan polisi setelah penangkapan dua tersangka di Mimika. Kamis, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Polisi Ringkus Dua Tersangka Pengedar Sabu di Timika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:41 WIT

Kebakaran menghanguskan sebuah bangunan di Jalan Cenderawasih, Mimika, Kamis malam, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Pemerintahan

Distrik Mimika Baru Petakan Risiko Kebakaran di Permukiman Padat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:10 WIT

Ket. Foto: Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Felix Wanggai (tengah) di Hotel Horison Diana Mimika, Kamis 30 April 2026. Galeripapua/ Kevin Kurni.

Pemerintahan

Pemerintah Akan Kembalikan Dana Otsus Papua Rp2,5 Triliun

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:27 WIT