YLBHI Ungkap 76 Ribu Warga Papua Mengungsi Akibat Operasi Militer

Endy Langobelen

Jumat, 19 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para pengungsi asal Nduga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. (Foto: Istimewa/Dok. Pengungsi Nduga)

Para pengungsi asal Nduga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. (Foto: Istimewa/Dok. Pengungsi Nduga)

JAKARTA – Puluhan ribu warga sipil di berbagai wilayah Papua terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka akibat operasi militer yang terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Eskalasi konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata berdampak langsung pada keselamatan masyarakat, dengan perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan.

Berdasarkan laporan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bertajuk Papua dalam Cengkeraman Militer: Laporan Situasi HAM di Papua 2023–2025, jumlah pengungsi internal yang tercatat tercatat mencapai 76.228 orang yang tersebar di tujuh kabupaten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Akibat pengedropan pasukan sejak 2018 sampai 2025, khusus untuk periode 2023–2025, kami mendata sekitar 76.228 orang menjadi pengungsi,” ujar Emanuel Gobay, salah satu penyusun laporan, dalam peluncuran dokumen tersebut di Gedung YLBHI, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).

Gobay menambahkan, jika dihitung sejak 2018 berdasarkan data dewan gereja yang diluncurkan di Jayapura, jumlah pengungsi bahkan diperkirakan mencapai 100.000 jiwa.

Papua Tengah Paling Terdampak

Laporan YLBHI mencatat, Papua Tengah menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 65.564 orang, seiring intensitas operasi militer yang tinggi di kawasan tersebut. Situasi pengungsian kembali memburuk sepanjang 2024 hingga 2025.

Grafis data dampak konflik bersenjata di Papua dari tahun 2018-2025. (Foto: Istimewa/YLBHI)
Grafis data dampak konflik bersenjata di Papua dari tahun 2018-2025. (Foto: Istimewa/YLBHI)

Pada 2024, sedikitnya 6.000 warga di Kabupaten Intan Jaya, Paniai, dan Puncak terpaksa mengungsi setelah kampung mereka menjadi lokasi kontak senjata.

Baca Juga :  IPMAMI Demo Lagi Soal Beasiswa dari Dinas Pendidikan Mimika

Sementara itu, di Papua Pegunungan, 3.318 warga Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang, dilaporkan meninggalkan rumah akibat konflik bersenjata yang membahayakan warga sipil.

Memasuki 2025, eskalasi konflik kembali meningkat. Sejak Januari hingga September 2025, lebih dari 10.261 warga sipil dilaporkan mengungsi di Papua Tengah.

Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Ilaga dengan sekitar 9.261 orang, sementara sisanya tersebar di Nabire dan Timika.

Gelombang pengungsian juga terjadi di Yahukimo, Paniai, Teluk Bintuni, dan Lanny Jaya, menyusul operasi militer dan laporan serangan udara.

Perempuan dan Anak-anak Jadi Korban Utama

YLBHI menegaskan, mayoritas pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. “Perlu diketahui bahwa yang menjadi pengungsi mayoritas perempuan, baik yang masih gadis maupun yang sudah jompo atau mama-mama, dan juga anak-anak,” kata Gobay.

Banyak dari mereka merupakan petani yang terpaksa meninggalkan ladang dan sumber penghidupan. Akibatnya, krisis pangan dan kesehatan tak terhindarkan.

Emanuel Gobay dari YLBHI, sebagai salah satu penyusun laporan bertajuk Papua dalam Cengkeraman Militer: Laporan Situasi HAM di Papua 2023–2025, sedang memaparkan laporannya di Gedung YLBHI, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025). (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video live streaming Kanal YouTube Yayasan LBH Indonesia)
Emanuel Gobay dari YLBHI, sebagai salah satu penyusun laporan bertajuk Papua dalam Cengkeraman Militer: Laporan Situasi HAM di Papua 2023–2025, sedang memaparkan laporannya di Gedung YLBHI, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025). (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video live streaming Kanal YouTube Yayasan LBH Indonesia)

Sebagian besar pengungsi bertahan hidup dengan bergantung pada gereja atau kerabat, tanpa dukungan memadai dari pemerintah daerah maupun pusat.

Baca Juga :  Kantor KPU Papua Pegunungan Dibakar, 81 Orang Diamankan

Kondisi itu memperparah kemiskinan dan berdampak jangka panjang, termasuk terhambatnya akses pendidikan anak-anak pengungsi akibat persoalan administrasi kependudukan.

Selain kehilangan tempat tinggal, warga juga menghadapi trauma psikologis akibat kekerasan bersenjata dan keberadaan aparat di sekitar permukiman.

“Ketika mereka mengungsi, itu kondisinya sangat memprihatinkan karena sekolah bagi anak-anak itu tidak mampu disiapkan. Bagaimana Palang Merah Indonesia tidak ada di sana. Saya kurang tahu alasannya apa sampai tidak bisa turun di sana,” kata Gobay.

“Anak-anak mayoritas tidak sekolah. Jadi, kalau kita hitung dari 2018-2025, itu kita sudah bisa lihat berapa anak SMA yang tidak bisa lanjut kuliah, berapa anak SMP tidak lanjut SMA, dan berapa anak SD tidak bisa lanjut SMP karena mereka putus sekolah. Kalau ini dibiarkan, berarti ini ada rencana apa? Mau membunuh karakter orang Papua atau seperti apa? Karena pembiaran ini dibiarkan,” lanjutnya.

Pendekatan Keamanan Dinilai Memperparah Krisis

Laporan YLBHI juga menyoroti penempatan aparat di fasilitas sipil seperti gereja, sekolah, dan puskesmas yang dinilai menambah rasa takut di tengah masyarakat serta mendorong pengungsian internal.

“Bulan September… di Paniai, (warga) mengungsi setelah aparat keamanan menduduki pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Pendudukan fasilitas sipil ini menjadi pola. Di bulan yang sama, militer dalam sebuah operasi di Distrik Sugapa menduduki Sekolah Dasar YPPK Jalai dan Gereja Katolik Fransiskus Jalai,” demikian laporan YLBHI.

YLBHI menilai, operasi militer yang berjalan tanpa kebijakan politik negara yang jelas telah memperburuk situasi hak asasi manusia di Papua.

Gelombang pengungsian yang terus berulang disebut sebagai bukti bahwa pendekatan keamanan yang mengedepankan kekuatan bersenjata justru menempatkan warga sipil sebagai korban utama konflik berkepanjangan di Tanah Papua.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengendara Motor Tewas Berujung Penikaman di Mimika
Polisi Ringkus Dua Tersangka Pengedar Sabu di Timika
Peredaran Sopi Picu Gangguan Keamanan, Aparat Gabungan Tertibkan Pasar Sentral Timika
SOMAP: Segera Hentikan Kekerasan Militer di Papua
Narkoba Masih Intai Mimika, 11 Tersangka Ditangkap dalam Empat Bulan
Polres Mimika Musnahkan Sabu Rp312 Juta, Dua Pengedar Lama Dibongkar
Anggota KKB Penembak Warga Sipil di Puncak Jaya Ditangkap di Mimika
Dua Orang Terluka dalam Bentrok Antar Pemuda di Gorong-gorong Timika

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:59 WIT

Pengendara Motor Tewas Berujung Penikaman di Mimika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:41 WIT

Polisi Ringkus Dua Tersangka Pengedar Sabu di Timika

Selasa, 28 April 2026 - 16:32 WIT

Peredaran Sopi Picu Gangguan Keamanan, Aparat Gabungan Tertibkan Pasar Sentral Timika

Senin, 27 April 2026 - 23:14 WIT

SOMAP: Segera Hentikan Kekerasan Militer di Papua

Senin, 27 April 2026 - 21:52 WIT

Narkoba Masih Intai Mimika, 11 Tersangka Ditangkap dalam Empat Bulan

Berita Terbaru

Polisi lalu lintas melakukan olah tempat kejadian perkara di Jalan Poros Mapurujaya KM 10, Mimika, Jumat, 1 Mei 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Pengendara Motor Tewas Berujung Penikaman di Mimika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:59 WIT

Barang bukti narkotika yang diamankan polisi setelah penangkapan dua tersangka di Mimika. Kamis, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Polisi Ringkus Dua Tersangka Pengedar Sabu di Timika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:41 WIT

Kebakaran menghanguskan sebuah bangunan di Jalan Cenderawasih, Mimika, Kamis malam, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Pemerintahan

Distrik Mimika Baru Petakan Risiko Kebakaran di Permukiman Padat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:10 WIT

Ket. Foto: Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Felix Wanggai (tengah) di Hotel Horison Diana Mimika, Kamis 30 April 2026. Galeripapua/ Kevin Kurni.

Pemerintahan

Pemerintah Akan Kembalikan Dana Otsus Papua Rp2,5 Triliun

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:27 WIT