MIMIKA – Mendekati masa pencoblosan kepala daerah, pengamat politik sekaligus akademisi, Rocky Gerung, menekankan kepada masyarakat untuk tidak dipengaruhi oleh survei-survei terkait elektabilitas pasangan calon (paslon) kepala daerah.
Menurutnya yang paling penting dalam memilih sosok pemimpin adalah dengan melihat serta menilai bagaimana etikabilitas dan intelektualitas dari tokoh tersebut.
“Kalau kita ikut Pilpres atau Pilkada, biasanya yang dipamerkan di forum-forum itu, di koran-koran, adalah elektabilitas calon, karena hasil lembaga survei. Padahal lembaga surveinya bisa disogok,” ujarnya saat membawakan kuliah umum di pelataran Eme Neme Yauware, Timika, Papua Tengah, Rabu (20/11/2024).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Harusnya kalangan kampus bikin aturan baru — yang lebih utama adalah bukan elektabilitas tetapi etikabilitas, ethicability, atau moralitas dalam bahasa agama,” imbuhnya.
Dijelaskan bahwa di dalam etikabilitas, masyarakat akan menguji paslon tersebut, apakah paslon itu bersih dari tindakan korupsi? Sanggupkah paslon menyapa rakyat miskin? Atau apakah paslon itu mengerti tentang kesulitan masyarakat saat ini dalam berbelanja akibat kenaikan harga bahan pokok?
“Jadi, kita periksa dulu kemampuan etisnya dia nomor satu, baru kita periksa lagi kemampuan intelektual dia nomor dua. Karena politik harus menghasilkan kemampuan berpikir rasional dan konseptual,” tandasnya.
“Ini bukan soal siapa punya ijazah tinggi, (tapi) siapa yang mampu untuk memikirkan dengan otak yang bersih tentang keadilan. Itu namanya intelektualitas, baru nomor tiga elektabilitas. Ini kita izinkan setiap calon, oke silakan, survei elektabilitasmu berapa? Elektabilitas 100 persen. Oh iya, tapi intelektualmu itu minus dua, noralitas minus 12,” tambahnya.
Kepala Direktur Tumbuh Institute itu menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh mengizinkan seseorang mengatur kehidupan politik jika kapasitas inteleknya terbatas dan kapasitas etiknya nol.
Bagi Rocky panggung politik adalah milik orang-orang yang berpikir dan mengutamakan etika. Jauh setelah itu barulah soal elektabilitas.
“Kan kita lihat baliho ada di mana-mana di seluruh Indonesia, wajahnya sama semua tu. Tapi kita tidak pernah mengukur sebesar itu kah isi kepala mereka. Jadi, politik adalah percakapan intelektual, itu intinya,” tutur Rocky.
Oleh karena itu, dia mengingatkan kepada masyarakat agar terus menguji setiap paslon dalam kapasitas etika dan pikiran. Dengan begitu, opini publik akan terbentuk dan politik busuk yang sekadar meraih kekuasaan tanpa memikirkan hak dasar masyarakat akan dihentikan.
Sebagai informasi, kuliah umum yang dibawakan oleh filsuf kondang ini merupakan kerja sama antara Melek Politik dan Tumbuh Institut.
Kuliah umum itu bertajuk “Berdamai dengan Politik Menuju Pemuda yang Paripurna”. Adapun materi yang disampaikan yakni tentang persoalan politik, keadilan, lingkungan, dan perdamaian.
Update berita terbaru lainnya dengan mengikuti saluran Galeripapua.com WhatsApp Channel. Klik link berikut https://whatsapp.com/channel/0029VafbmilChq6Dj7IL2i46










