Operasi Militer Intan Jaya: Warga Sipil Jadi Korban, Gereja Desak Penghentian Militerisme di Papua

Endy Langobelen

Sabtu, 31 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat mengevakuasi korban kontak tembak di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

Masyarakat mengevakuasi korban kontak tembak di Intan Jaya. (Foto: Istimewa/TPNPB-OPM)

INTAN JAYA – Dewan Gereja Papua kembali menyerukan penghentian segera operasi militer di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Intan Jaya, menyusul jatuhnya korban jiwa dari warga sipil dalam operasi militer pada 13 Mei 2025.

Dalam surat terbuka yang dikeluarkan dengan nomor 08/ST/DGP/V/25, Dewan Gereja Papua menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap peningkatan kekerasan dan penderitaan masyarakat sipil yang dianggap sudah berada di ambang krisis kemanusiaan.

Moderator Dewan Gereja Papua, Pdt. Benny Giay, menyatakan bahwa pendekatan militer yang terus dipaksakan oleh “unsur garis keras pemerintah” telah mengorbankan warga tak bersalah dan memperparah ketegangan di wilayah konflik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“TPNPB-OPM bukan teroris dan bukan musuh negara. Mereka rakyat yang protes karena saluran politik yang tersumbat. Perdamaian di Papua bukan tidak mungkin, tetapi itu tergantung pemerintah,” tegas Pdt. Benny Giay, mengutip pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam suratnya.

Belasan Warga Sipil Jadi Korban

Berdasarkan informasi lapangan yang dihimpun Dewan Gereja Papua, operasi militer di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, mengakibatkan belasan warga sipil tertembak.

Baca Juga :  Dewan Minta Freeport Bantu Masyarakat Terdampak Banjir dan Longsor di Distrik Tembagapura

Beberapa di antaranya tewas, sementara lainnya mengalami luka serius. Identitas korban mencakup anak-anak hingga tokoh agama.

Korban di antaranya adalah:

  • Minus Jegeseni, 5 tahun, tertembak di bagian telinga.
  • Ruben Wandagau, Kepala Desa di Hitadipa, tewas tertembak.
  • Pendeta Elisa Wandagau, 75 tahun, juga menjadi korban tembak mati.
  • Junite Zanambani, 21 tahun, mengalami luka tembak di lengan.
  • Hetina Mirip, 24 tahun, ditemukan meninggal dunia 12 hari setelah operasi.

Selain korban dari warga sipil, tercatat juga korban dari pihak TPNPB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) yang dilaporkan meninggal dan mengalami luka-luka dalam kontak senjata.

Pengungsian dan Militerisasi Rumah Ibadah

Sedikitnya 7 kampung di Intan Jaya terpaksa mengungsi ke Distrik Sugapa dan ke hutan-hutan akibat intensitas tembak-menembak.

Mirisnya, menurut Pdt. Benny Giay, pos militer ditempatkan di dekat gereja dan sekolah, yang merupakan fasilitas sipil dan seharusnya netral dari konflik.

“Gereja dan sekolah dijadikan barak militer. Ini menyalahi fungsinya dan melukai perasaan umat. Militer tidak sedang berkolaborasi dalam pelayanan spiritual,” ujar Giay.

Baca Juga :  Tolak Sawit PT IKSJ, Masyarakat Moi Sigin Antar Surat ke Kantor Pusat CAA Group

Seruan untuk Pemerintah dan Presiden Prabowo

Dewan Gereja Papua meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah konkret menghentikan seluruh bentuk militerisme di Papua dan mendorong proses dialog damai yang inklusif.

Tuntutan lain dalam surat tersebut meliputi:

  • Penyelidikan independen oleh Komnas HAM dan lembaga internasional.
  • Pemberian bantuan medis dan trauma healing bagi para korban.
  • Jaminan keamanan hukum bagi saksi dan keluarga korban.
  • Penolakan eksploitasi Blok Wabu, yang disebut menjadi titik panas konflik bersenjata.

“Jika eksploitasi Blok Wabu terus dilanjutkan, perang antara TPNPB dan TNI akan terus terjadi. Gereja dan masyarakat menolak keras keberlanjutan proyek ini,” kata Giay.

Penembakan Tobias Silak Belum Tuntas

Dalam surat tersebut juga disorot kasus penembakan terhadap Tobias Silak yang terjadi pada 20 Agustus 2024.

Hingga kini, kasus tersebut belum diselesaikan secara hukum. Gereja mendesak agar empat pelaku segera ditangkap, diadili, dan disidang secara terbuka di Jayapura.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News
KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua
OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya
Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando
Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua
Ahli Pers Minta Sengketa Bupati Mimika dan Media Ditempuh Lewat UU Pers
Keluarga Korban Pembunuhan di Mimika Desak Polisi dan Kejaksaan Beri Kepastian Hukum
Tahun Ini Korban Konflik Bersenjata di Papua Tembus 163 Orang, Komnas HAM Minta Presiden Bentuk Tim Khusus

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIT

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News

Rabu, 30 September 2026 - 15:35 WIT

KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua

Minggu, 27 September 2026 - 23:25 WIT

OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya

Kamis, 24 September 2026 - 13:39 WIT

Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando

Rabu, 23 September 2026 - 20:12 WIT

Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua

Berita Terbaru

Kebakaran hutan terjadi di kawasan pegunungan di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. (Foto: Istimewa/Facebook Anak Tambang Papua)

Peristiwa

Kebakaran Hutan Melanda Pegunungan di Tembagapura Mimika

Rabu, 14 Okt 2026 - 22:19 WIT