Kematian Usai Diamankan Polisi di Nabire: Mabuk, Jatuh, atau Dipukul?

Endy Langobelen

Kamis, 26 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Korban meninggal dunia dibawa ke Rumah Sakit Nabire, Kamis (26/6/2025). (Foto: Istimewa)

Korban meninggal dunia dibawa ke Rumah Sakit Nabire, Kamis (26/6/2025). (Foto: Istimewa)

NABIRE — Sebuah peristiwa mencekam terjadi di kawasan Pasar Karang, Nabire, Papua Tengah, Kamis (26/6/2026) pagi. Seorang pria muda yang diduga dalam kondisi mabuk dinyatakan meninggal dunia setelah diamankan aparat Kepolisian Resor Nabire.

Kronologi kematian korban memunculkan sejumlah versi—antara benturan karena mabuk, kekerasan, hingga dugaan tembakan. Keluarga menolak otopsi, sementara publik bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi?

Kapolres Nabire, AKBP Samuel D. Tatiratu, dalam wawancara telepon dengan Galeripapua.com malam itu menjelaskan bahwa korban sempat kejang-kejang saat hendak diturunkan dari truk polisi di halaman Mapolres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia lantas dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans, namun dinyatakan meninggal dalam perjalanan.

“Yang bersangkutan ini sebelumnya minum miras cap tikus, dua botol, bersama dua temannya. Ketika diamankan dan dibawa ke Polres, dia jatuh, kemudian kejang-kejang,” ujar Samuel.

“Kami belum tahu pasti penyebab kematiannya, makanya kami minta visum dan otopsi,” imbuhnya.

Namun, keterangan Kapolres itu tidak sejalan sepenuhnya dengan saksi mata yang menyatakan melihat korban dipukul di bagian wajah oleh petugas saat ditangkap.

“Kami lihat jelas, yang di belakang itu dipukul di bagian muka oleh polisi. Saat itu, kami berada di dekat mereka, sekitar 5 meter,” kata seorang warga kepada Galeripapua.com via telpon.

Baca Juga :  DPD RI Soroti Kasus Bom Molotov Jubi yang Mandek, Siap Panggil Panglima TNI dan Kapolri

Pada peristiwa yang sama, juga muncul di media sosial bahwa ada korban lainnya yang terkena tembakan dari polisi.

Disebutkan korban bernama Apedius Kayame. Ia bukan bagian dari tiga orang yang diduga mabuk dan ditangkap di lorong-lorong sekitar pasar. Apedius justru disebut sebagai warga yang sedang lewat dan tertembak di betis saat kerusuhan terjadi sekitar pukul 10.58 WIT.

“Apedius keluar rumah hendak ke pasar. Di tengah kekacauan antara warga dan polisi, ia ikut panik dan berlari, lalu tiba-tiba terkena tembakan di betis,” demikian narasi yang beredar. Saat ini, Apedius sedang dirawat di Rumah Sakit Nabire.

AKBP Samuel membenarkan bahwa dalam insiden itu ada dua orang terkena peluru karet. “Satu kena tangan, satu di kaki. Tapi mereka sudah ditangani,” ucapnya.

Ia menegaskan tidak ada peluru tajam yang ditembakkan ke arah massa, apalagi ke kepala korban.

Namun, simpang siur informasi di lapangan membuat kasus ini menjadi bola panas. Jenazah yang sempat dibawa ke rumah duka di Pasar Karang dilempari warga, memaksa ambulans kembali ke rumah sakit.

Baca Juga :  Penikaman di Timika Tewaskan 1 Orang

Kapolres menyebut pihak keluarga sudah diberi penjelasan lengkap dan bahkan sempat menyatakan tidak ingin membuat laporan polisi maupun mengizinkan otopsi.

“Orang tua korban bilang, sudah lah, kalau memang dia meninggal karena mabuk, mau bagaimana lagi. Mereka kecewa karena anaknya sudah jadi sarjana tapi masih ikut mabuk,” kata Samuel.

Meski demikian, narasi yang berkembang di masyarakat menuntut transparansi lebih jauh. Dugaan kekerasan oleh aparat, penggunaan peluru karet di area padat warga, hingga lambannya penanganan menjadi perhatian publik.

Polisi menjanjikan penyelidikan profesional dan terbuka. “Kalau ada kesalahan prosedur, kami siap lakukan pemeriksaan internal,” ujar Kapolres.

Pasar Karang, kawasan padat yang dikenal sebagai titik rawan miras dan keributan, sekali lagi menjadi latar tragedi. “Kalau terus-terusan mabuk, ricuh, lempar sana sini, bagaimana kita bisa amankan situasi?” tanya Samuel.

Kini, satu nyawa melayang, satu lainnya dirawat karena luka tembak, dan publik menunggu: apakah kematian ini akan dianggap takdir atau akan diusut tuntas sebagai bagian dari tanggung jawab negara terhadap warganya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Olah TKP Penembakan Karyawan Freeport, Polisi Rekonstruksi Tujuh Adegan
Polisi Tangkap 5 Terduga Pemasok Logistik dan Amunisi KKB di Nabire
Operasi Ketupat Noken: 250 Personel Dikerahkan Amankan Ramadan dan Idulfitri di Mimika
Kapolres Mimika Luruskan Jumlah Korban Penembakan Grasberg, Olah TKP Dilanjutkan
Polisi Limpahkan Kasus Pasangan Kekasih Pengedar Sabu ke Kejari Mimika
Jenazah Karyawan Freeport Korban Penembakan Grasberg Dipulangkan ke Bandung
OPM Angkat Bicara Soal Penembakan Karyawan Freeport di Grasberg
Begini Kronologi Singkat Penembakan di Area Tambang Grasberg

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:37 WIT

Olah TKP Penembakan Karyawan Freeport, Polisi Rekonstruksi Tujuh Adegan

Jumat, 13 Maret 2026 - 16:22 WIT

Polisi Tangkap 5 Terduga Pemasok Logistik dan Amunisi KKB di Nabire

Jumat, 13 Maret 2026 - 03:20 WIT

Kapolres Mimika Luruskan Jumlah Korban Penembakan Grasberg, Olah TKP Dilanjutkan

Jumat, 13 Maret 2026 - 01:42 WIT

Polisi Limpahkan Kasus Pasangan Kekasih Pengedar Sabu ke Kejari Mimika

Kamis, 12 Maret 2026 - 20:04 WIT

Jenazah Karyawan Freeport Korban Penembakan Grasberg Dipulangkan ke Bandung

Berita Terbaru

Pertandingan Persido Dogiyai melawan Persemi Mimika pada babak penyisihan Grup A Liga 4 Piala Gubernur Papua Tengah di Stadion Wania Imipi, SP 1, Mimika, Jumat (13/3/2026). (Foto: Fernando Rio)

Olahraga

Libas Persemi 2-1, Persido Dogiyai Juara Grup A

Jumat, 13 Mar 2026 - 20:53 WIT

*Stadion Wania Imipi Diasesmen Polda untuk Liga 4 PSSI Papua Tengah* MIMIKA – Menjelang bergulirnya kompetisi Piala Gubernur Liga 4 PSSI Papua Tengah musim 2025/2026 pada 9 Maret 2026 mendatang, kesiapan Stadion Wania Imipi SP... _Baca selengkapnya:_ https://galeripapua.com/stadion-wania-imipi-diasesmen-polda-untuk-liga-4-pssi-papua-tengah/