Kilas Balik Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila

Hendrikus Purnomo

Selasa, 26 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pendidikan Moral Pancasila

Ilustrasi Pendidikan Moral Pancasila

Sudah sering kali kita mendengar kalimat “Jaman sudah berubah, jaman dulu dan jaman sekarang sudah jauh berbeda” yang seringkali terucap dari mulut orang-orang yang sebaya dengan kita atau yang usianya di atas kita.

Sebuah kalimat yang sebenarnya sederhana menggambarkan perbedaan jaman, namun lebih sering terucap karena rasa empati, rasa prihatin yang mendalam atas suatu hal.

Seperti contohnya perihal perbedaan perilaku, sikap, tata krama, sopan santun, hidup dalam kebersamaan, gotong royong, budi pekerti, pendidikan moral dan hal-hal lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kilas Balik ke jaman masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dulu, jamannya kita masih memakai baju putih celana pendek merah. Masih sangat segar dalam ingatan dan sangat membekas sampai sekarang tentang mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Pembelajaran tentang memahami dasar-dasar pondasi negara kita, tentang moral, apa itu tanggung jawab, terus apa yang dimaksud tenggang rasa/toleransi, bagaimana menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat sampai hal yang paling mendasar, yaitu belajar tentang toleransi, ramah-tamahan saling menghargai, saling menghormati, dan yang utama adalah tentang Pendidikan Moral Pancasila.

Pelajaran PMP menjadi sangat penting waktu itu sebagai pendidikan dasar hidup bernegara serta untuk memahami hak dan kewajiban hidup bernegara yang berasaskan Pancasila.

Mata pelajaran tersebut bisa dikatakan begitu selaras dengan pelajaran Agama, yang mana sama-sama mengajarkan tentang budi pekerti, etika, tata krama dan yang lebih utama adalah tentang moral, saling menghormati, gotong royong dan tenggang rasa.

Baca Juga :  Penerbangan ke Hoya Tutup: Layanan Pendidikan dan Kesehatan Lumpuh, Akses Bama Sulit

Sayangnya, PMP kemudian diubah namanya menjadi PPKn. Tak hanya nama, metode dan pemahamannya pun ikut berubah. Mulai dari situlah ada sesuatu yang rasanya berbeda dan bahkan ada juga yang kemudian menghilang.

Lulus SD, SMP dan SMA output dari pelajaran PPKn semakin terasa kurangnya dan belum ada hasil nyata yang didapatkan, dibanding pelajaran PMP.

Apalagi jika melihat fenomena-fenomena sosial masyarakat Indonesia saat ini, baru sadarlah kita ternyata PMP itu adalah mata pelajaran yang sangat penting di samping mata pelajaran yang lainnya.

Saat ini, Indonesia kehilangan karakter masyarakatnya. Dulu orang asing mengenal kita karena keramahtamahannya, sopan santunnya, saling menghargai, saling menghormati. Dulu warga kita selalu bahu-membahu saling menolong sesama.

Singkat kata, Indonesia kini semakin jauh dari ungkapan masyarakat yang madani dan jauh dari semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’.

PMP bukanlah mata pelajaran berbasis keilmuan. Sesuai dengan namanya, PMP adalah pelajaran tentang moral. Jadi, yang dibangun adalah ‘moral’ kita. Dari sinilah awal pembentukan karakter masyarakat Indonesia.

Patut di garis bawahi, pendidikan PMP ini ditanamkan sejak usia dini yakni SD. Dari sinilah nantinya cikal bakal masyarakat yang paham tenggang rasa, bertanggung jawab, dan memiliki tata krama sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia.

Seperti kita menanam pohon, jangan hanya memberikan pupuk saja untuk mendapatkan hasil yang bagus, tapi berikan pula pestisida guna menghindari dari hama yang dapat merusak sebagian pohon. PMP ini sebagai “pestisida” untuk melindungi karakter bangsa kita agar tidak mudah digoyahkan oleh pihak luar.

Baca Juga :  Rolling Dinilai Langgar Aturan, ASN Non Job di Mimika Tuntut Jabatannya Kembali

Dari situlah kita akan mendapatkan generasi berkualitas dengan memiliki karakter yang kuat.

Tanpa PMP, Pancasila Kian Tergerus

Kini PMP semakin terlupakan. Generasi sekarang pun tidak banyak yang tahu tentang Moral Pancasila.

Bila kita merujuk pada mata pelajaran pengganti PMP yaitu PPKn, dalam pelajaran PMP dulu masih ada kata Pancasila sebagai salah satu bahan pembelajaran.

Sekarang? Kemana kata “Pancasila” nya? Apakah pelajaran pengamalan nilai-nilai Pancasila sudah tidak penting lagi?

Maka sekarang jangan kaget kalau anak-anak SD banyak yang tidak tahu dan tidak hafal Pancasila. Kalaupun hafal, mereka hanya hafal sila-silanya karena sering dibacakan saat upacara bendera hari Senin.

Itupun kalau sekolah masih menjalankan upacara bendera rutin setiap hari Senin, karena saat ini banyak sekolah yang sudah tidak menyelenggarakan upacara bendera setiap hari Senin.

Anak-anak sekarang banyak yang tidak paham makna dari Pancasila. Efeknya, Pancasila hanya sebagai simbol tanpa diketahui makna dan pengamalannya.

Jangan heran bila sekarang banyak orang berani melecehkan lambang negara, bahkan berani memperlakukan dengan tidak hormat dan melanggar norma-norma yang terkandung dalam Pancasila.

Mengingat itu semua, jadi kangen masa-masa belajar di SD jaman dulu. Belajar tentang tenggang rasa, belajar tentang tanggung jawab, tentang tata krama, ramah-tamah dan saling hormat-menghormati melalui pelajaran PMP.

Semoga Pendidikan Moral Pancasila bisa kembali ke lingkungan belajar anak-anak sekarang. SEMOGA.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kepala Suku Besar Damal Nikolas Alome Ajak Keluarga Hindari Konflik dan Jaga Keamanan Wilayah
Koalisi Sipil Desak Pemerintah Indonesia Buka Akses Pemantauan Internasional ke Papua
Kepala Suku Damal Imbau Masyarakat Kibogolome Jaga Persatuan dan Tidak Terprovokasi
AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News
KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua
OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya
Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando
Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 01:54 WIT

Koalisi Sipil Desak Pemerintah Indonesia Buka Akses Pemantauan Internasional ke Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:33 WIT

Kepala Suku Damal Imbau Masyarakat Kibogolome Jaga Persatuan dan Tidak Terprovokasi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIT

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News

Rabu, 30 September 2026 - 15:35 WIT

KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua

Minggu, 27 September 2026 - 23:25 WIT

OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya

Berita Terbaru

Sebuah mobil milik anggota polisi dibakar oleh warga di Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah, Jumat, 30 Oktober malam. (Foto: Dok. Warga)

Hukrim

Mobil Anggota Polisi Dibakar di Kwamki Narama Mimika

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:55 WIT