Galeripapua, Jayapura – Dinas Kesehatan Kota Jayapura mencatat sedikitnya 503 pasien kusta di Kota Jayapura masih menjalani pengobatan hingga triwulan I 2026. Jumlah tersebut merupakan akumulasi pasien sejak 2024 hingga 2026 yang masih menjalani terapi karena masa pengobatan berlangsung selama 12 bulan.
Data tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) eliminasi kusta yang digelar Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Papua di Puskesmas Abepura, Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan itu melibatkan Dinas Kesehatan Kota Jayapura, tenaga kesehatan puskesmas, serta penanggung jawab program kesehatan di tingkat layanan primer.
Supervisor Kusta dan Frambusia Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Dorkas Elly, mengatakan Kota Jayapura terpilih sebagai salah satu pilot project percepatan eliminasi kusta di Indonesia karena tingginya angka penemuan kasus dalam lima tahun terakhir. “Selama lima tahun berturut-turut Kota Jayapura termasuk daerah dengan penemuan kasus kusta paling banyak,” kata Dorkas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan Kota Jayapura menemukan 161 kasus baru kusta. Sedangkan sepanjang 2025, jumlah kasus baru mencapai 430 kasus.
Dorkas mengklaim, penemuan kasus dilakukan melalui program Active Case Finding (ACF) atau pencarian kasus aktif yang digelar pada Februari 2026. Dari target pemeriksaan 23 ribu orang yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, capaian pemeriksaan di Kota Jayapura mencapai 25 ribu orang.
Dalam kegiatan ACF tersebut, Dinas Kesehatan menemukan 270 kasus baru kusta dan seluruhnya telah mendapatkan intervensi pengobatan. Namun sebagian pasien tidak lagi terpantau karena berdomisili di luar Kota Jayapura. “Dari 270 kasus baru yang ditemukan selama kegiatan ACF, semuanya sudah diintervensi,” ujarnya.
Dorkas mengatakan tingkat kesembuhan pasien kusta di Kota Jayapura rata-rata berada di atas 80 persen setiap tahun. Meski demikian, tantangan utama penanganan kusta masih berkaitan dengan stigma sosial dan rendahnya keterbukaan pasien kepada keluarga.
Koordinator Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa, Tumijan, mengatakan FGD eliminasi kusta digelar untuk merumuskan solusi terkait masih adanya kantong penularan kusta, tingginya stigma sosial, serta tantangan akses pengobatan di wilayah timur Indonesia.
Menurut Tumijan, Kota Jayapura menjadi salah satu dari lima kota yang mendapat proyek percepatan penanganan kasus kusta. Dalam program tersebut, LKC Dompet Dhuafa melakukan intervensi berupa pemberian nutrisi atau Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi pasien kusta serta paket higiene sanitasi.
Program intervensi tersebut akan dilaksanakan di tiga puskesmas, yakni Puskesmas Hamadi, Puskesmas Jayapura Utara, dan Puskesmas Abepura.






















