Gereja Serukan Penghentian Kekerasan di Papua: Harus Bicara, Jangan Diam!

Endy Langobelen

Senin, 2 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendeta Dr. Socratez Yoman dari Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video siaran langsung di kanal YouTube Jubi TV)

Pendeta Dr. Socratez Yoman dari Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video siaran langsung di kanal YouTube Jubi TV)

NABIRE — Para pemimpin gereja di Tanah Papua menyerukan penghentian kekerasan dan meminta seluruh lembaga keagamaan mengambil peran aktif dalam menyuarakan keadilan dan perdamaian bagi masyarakat Papua.

Seruan itu disampaikan dalam forum yang difasilitasi oleh Pokja Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah dan disiarkan ke publik melalui kanal YouTube Jubi TV pada Sabtu (31/5/2025).

Pendeta Dr. Socratez Yoman dari Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua menekankan bahwa kekerasan sistemik di Papua harus dihentikan dari akarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menolak sikap pasif gereja yang menghitung korban setiap hari, dan meminta seluruh rakyat Papua memahami akar persoalan konflik Papua.

“Kita bukan penghitung korban. Ini tidak baik. Kita harus memotong rantai kekerasan. Negara harus diajak berunding, tapi itu hanya bisa kalau rakyat dari Sorong sampai Merauke mengerti akar persoalan Papua,” ujar Dr. Yoman.

Ia merujuk pada hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyebutkan empat akar konflik utama di Papua: status politik integrasi Papua ke Indonesia, kekerasan negara dan pelanggaran HAM sejak 1965, diskriminasi dan marginalisasi orang asli Papua, serta kegagalan pembangunan di bidang pendidikan.

Baca Juga :  OPM Klaim Tembak Mati 7 Anggota TNI di Intan Jaya, Pangdam XVII Cenderawasih: Itu Hoaks!

“Gereja harus bicara dari mimbar, bukan hanya KNPB atau massa aksi yang bicara. Mimbar gereja harus menyuarakan keadilan,” tegasnya.

Ia juga menyindir pemerintah yang dinilainya bagian dari kekerasan, dengan menyebut bahwa gubernur, bupati, dan DPR Papua adalah bagian dari sistem yang bersumpah setia pada NKRI dan tidak berpihak pada rakyat.

Senada dengan itu, Wakil Sekretaris Sinode GKI Tanah Papua, Pdt. Handry W. D Kakiay, juga menegaskan pentingnya peran gereja dalam menolak kekerasan dan ketidakadilan.

Dalam pernyataannya, ia menyoroti ironi kekayaan alam Papua yang tidak sebanding dengan kesejahteraan rakyatnya.

“Papua tanah paling kaya, tapi kami paling miskin. Data Sinode GKI 2024 mencatat angka kemiskinan di Papua mencapai 26,03 persen, tertinggi di Indonesia. Indeks Pembangunan Manusia di Papua juga paling rendah, hanya 65,3 persen,” ungkapnya.

Baca Juga :  Temui Demonstran, DPRK Mimika Janji Kawal Perlindungan Komoditi Lokal

Ia menyebut bahwa tingginya angka migrasi ke Papua yang mencapai 2,3 juta jiwa sejak tahun 1960-an telah menyebabkan pergeseran dan pengambilalihan hak-hak dasar orang asli Papua.

Selain itu, ia juga menyinggung persoalan kesehatan yang memprihatinkan. “Angka kematian ibu dan anak di Papua termasuk yang tertinggi bersama NTT. Kami sudah sangat tertinggal. Maka gereja tidak boleh diam,” katanya.

Ia menekankan bahwa suara gereja adalah suara kenabian dan harus menjadi garda terdepan dalam membela rakyat.

“Kalau pendeta takut, lebih baik jangan jadi pendeta. Pendeta itu seperti prajurit di medan perang, dia harus di depan membela umatnya,” ujarnya.

Menutup pernyataan, kedua pemimpin gereja menyerukan persatuan seluruh denominasi dan lembaga agama di Papua untuk bersama-sama menegakkan kebenaran dan keadilan.

“Kita tidak boleh hanya bicara, tapi juga ambil langkah nyata. Gereja harus menjadi alat perdamaian di Tanah Papua. Hentikan kekerasan sekarang,” ujar Handry W. D Kakiay, mengutip semangat Deklarasi Papua Tanah Damai yang dicanangkan pada 5 Februari 2003 silam.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News
KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua
OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya
Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando
Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua
Ahli Pers Minta Sengketa Bupati Mimika dan Media Ditempuh Lewat UU Pers
Keluarga Korban Pembunuhan di Mimika Desak Polisi dan Kejaksaan Beri Kepastian Hukum
Tahun Ini Korban Konflik Bersenjata di Papua Tembus 163 Orang, Komnas HAM Minta Presiden Bentuk Tim Khusus

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIT

AJI Kecam Kasatpol PP Raja Ampat yang Diduga Maki Jurnalis Wahana News

Rabu, 30 September 2026 - 15:35 WIT

KNPB Timika Desak Peninjauan Perjanjian Roma dan Referendum Papua

Minggu, 27 September 2026 - 23:25 WIT

OPM Bantah 4 Orang yang Serahkan Senjata di Puncak Jaya Anggotanya

Kamis, 24 September 2026 - 13:39 WIT

Enam Tahun Kematian Pendeta Yeremia, KontraS Pertanyakan Rantai Komando

Rabu, 23 September 2026 - 20:12 WIT

Kepala Suku Makuba Bagikan Bibit Cabai untuk Perkuat Pangan Lokal Papua

Berita Terbaru

Warga dan peserta mengikuti diskusi peluncuran laporan Pusaka Bentala Rakyat di Dusun Sagu Ebha Hekhe, Kampung Sereh, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu, 7 Oktober 2026. Dusun sagu itu menjadi lokasi peluncuran laporan tentang izin kehutanan di tanah adat Papua. Galeripapua/Ikbal Asra

Organisasi

Belasan Izin Hutan Menyasar Tanah Adat Papua

Senin, 12 Okt 2026 - 06:00 WIT

Agustinus Kadepa, petani kopi dari Kampung Tuguwai, Distrik Aweidah, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Utama

Ko Puaz: Kopi, Kebun, dan Mimpi yang Tumbuh di Paniai

Minggu, 11 Okt 2026 - 19:09 WIT

Didi Kurniawan, M.Kes., resmi terpilih sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Tomia Kabupaten Mimika periode 2026–2031. (Foto: KKT Mimika)

Organisasi

Didi Kurniawan Terpilih Pimpin KKT Mimika 2026–2031

Sabtu, 10 Okt 2026 - 13:57 WIT