Uskup Timika: Lima Akar Konflik Papua dan Desakan untuk Rekonsiliasi serta Investigasi Independen

Endy Langobelen

Senin, 2 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dengan umat orang asli Papua di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Foto bersama Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dengan umat orang asli Papua di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

NABIRE — Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menyampaikan pandangannya mengenai konflik berkepanjangan di Papua.

Dalam forum yang difasilitasi oleh Pokja Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah, Uskup Bernardus menegaskan bahwa konflik Papua tidak bisa diselesaikan tanpa menyentuh akar persoalan yang mendalam dan sistemik.

Menurutnya, terdapat lima akar utama konflik Papua yang perlu diakui dan ditangani secara serius. Pertama, ia menyoroti persoalan penentuan hak politik bangsa Papua Barat yang dirampas sejak integrasi wilayah ini ke dalam Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini adalah soal hak politik bangsa Papua yang dirampas. Itu menjadi tuntutan yang terus berjalan sampai hari ini,” tegasnya melalui zoom meeting yang disiarkan langsung di Kanal YouTube Jubi TV, Sabtu (31/5/2025).

Akar konflik kedua, lanjutnya, adalah postkolonialisme dan postimperialisme yang masih berlangsung dalam bentuk baru melalui metode-metode kolonial modern.

Baca Juga :  Tolak Sawit, Masyarakat Adat Bubarkan Sosialisasi PT ASI di Sorong Selatan

Ia menyebut ada keterlibatan negara-negara besar dan Indonesia dalam penguasaan sumber daya alam serta dominasi budaya atas masyarakat Papua.

Ketiga, Uskup Bernardus menyoroti terjadinya pergeseran dan perampasan hak-hak dasar orang asli Papua di berbagai bidang seperti ekonomi, hukum, politik, dan keamanan.

Ia menyebut masyarakat Papua seringkali tidak mendapatkan hak untuk mengelola usahanya sendiri, bahkan dibatasi aksesnya.

Keempat, ia mengkritisi peran oligarki dan kapitalis dalam tubuh negara, termasuk keterlibatan aparat keamanan, yang menurutnya membuat kebijakan demi kepentingan ekspor dan investasi, sekaligus memberikan proteksi terhadap kepentingan mereka sendiri.

Kelima, ia mengungkapkan bahwa negara telah menciptakan opini negatif terhadap orang Papua di mata publik nasional dan internasional.

“Orang Papua dikonstruksikan sebagai orang jahat dan ancaman negara, sehingga dianggap pantas dikontrol, diawasi, bahkan dihilangkan,” jelasnya.

Uskup Bernardus juga menyampaikan keprihatinan atas peristiwa kekerasan terbaru, seperti pembunuhan terhadap Mama Hetina Mirip. Ia mendesak dibentuknya tim investigasi independen untuk mengusut tuntas kasus tersebut tanpa campur tangan pemerintah dan aparat negara.

Baca Juga :  Pj Bupati Mimika akan Ikut BPKAD Tarik Mobil Dinas Pekan Depan

Sebagai solusi, ia menawarkan empat langkah yakni sebagai berikut.

  1. Investigasi independen dan proses hukum terhadap pelaku kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil seperti Mama Hetina Mirip.
  2. Doa bersama dan rekonsiliasi nasional Papua, yang melibatkan semua komponen perjuangan—baik sipil, militer, politik, maupun gereja. Ia mendorong gereja mengambil peran sebagai mediator rekonsiliasi ini.
  3. Jeda kemanusiaan atau gencatan senjata antara aparat negara dan kelompok bersenjata di Papua, serta mendorong keterlibatan Komisi HAM PBB dalam melakukan penyelidikan menyeluruh di lapangan.
  4. Dialog politik jangka panjang antara pemerintah Indonesia dan rakyat Papua, dimediasi oleh pihak ketiga, sebagai upaya menyelesaikan akar konflik politik—meniru pendekatan damai yang pernah dilakukan di Aceh.

“Kita perlu satu perumusan bersama untuk disampaikan ke pemerintah pusat, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Ini soal masa depan Papua,” tutupnya.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masyarakat Distrik Konda Pasang Patok Adat, Tolak Kehadiran Sawit di Hutan Ulayat
Marga Beanal Tegaskan Larangan Pembukaan Jalur Pendakian Ilegal di Puncak Carstensz
Terima Jenazah Korban, Keluarga Eanus Mom Minta Aparat Tanggung Jawab
Keluarga Bantah Korban Operasi di Mimika Terlibat TPNPB-OPM, Minta Jenazah Segera Dipulangkan
Kepala Suku Yahukimo Minta Semua Pihak Jaga Keamanan dan Kedamaian
Koordinator Pendulang Mimika Buka Suara soal Toko Emas Tutup dan Isu Deal-dealan
Komnas HAM Papua Dukung Pendekatan Humanis Satgas Operasi Damai Cartenz 2026
Tapal Batas Kapiraya, Kepala Suku Mee dan LMA Kamoro Sepakat Dorong Penyelesaian Adat

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:59 WIT

Masyarakat Distrik Konda Pasang Patok Adat, Tolak Kehadiran Sawit di Hutan Ulayat

Rabu, 4 Maret 2026 - 04:52 WIT

Marga Beanal Tegaskan Larangan Pembukaan Jalur Pendakian Ilegal di Puncak Carstensz

Rabu, 4 Maret 2026 - 01:17 WIT

Terima Jenazah Korban, Keluarga Eanus Mom Minta Aparat Tanggung Jawab

Selasa, 3 Maret 2026 - 15:17 WIT

Keluarga Bantah Korban Operasi di Mimika Terlibat TPNPB-OPM, Minta Jenazah Segera Dipulangkan

Senin, 2 Maret 2026 - 18:05 WIT

Kepala Suku Yahukimo Minta Semua Pihak Jaga Keamanan dan Kedamaian

Berita Terbaru

Pertemuan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, Jumat (6/3/2026). (Foto: BPJS Kesehatan)

Kesehatan

Dirut BPJS Kesehatan ke Mimika Gandeng Pemda Perkuat JKN

Sabtu, 7 Mar 2026 - 14:46 WIT

*Stadion Wania Imipi Diasesmen Polda untuk Liga 4 PSSI Papua Tengah* MIMIKA – Menjelang bergulirnya kompetisi Piala Gubernur Liga 4 PSSI Papua Tengah musim 2025/2026 pada 9 Maret 2026 mendatang, kesiapan Stadion Wania Imipi SP... _Baca selengkapnya:_ https://galeripapua.com/stadion-wania-imipi-diasesmen-polda-untuk-liga-4-pssi-papua-tengah/