MIMIKA – Tim gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menangkap seorang pria yang diduga terlibat dalam penyebaran propaganda dan provokasi melalui media sosial di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Berdasarkan siaran pers yang diterbitkan Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, disebutkan penindakan itu dilakukan pada Minggu (1/3/2026) sekitar pukul 15.00 WIT di kawasan SP3 Trans DMT Utikini Tiga, Distrik Kuala Kencana.
Aparat bergerak setelah mengantongi bukti permulaan yang cukup terkait aktivitas digital yang dinilai memicu keresahan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari hasil penyelidikan awal, terduga pelaku disebut merupakan bagian dari jaringan PIS (Papua Inteligence Service).
Ia diduga aktif mengunggah konten yang mengandung ujaran kebencian, narasi provokatif, serta materi bermuatan kekerasan yang berkaitan dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Konten-konten tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kebencian dan permusuhan di tengah masyarakat, sekaligus mendorong gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua.
Dijerat Pasal Berlapis
Dalam proses penyidikan, penyidik telah melakukan gelar perkara. Terduga pelaku dipersangkakan melanggar Pasal 263 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Atas sangkaan tersebut, yang bersangkutan terancam pidana penjara paling lama 12 tahun dan denda maksimal Rp12 miliar.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigadir Jenderal Polisi Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa penindakan terhadap propaganda digital merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas keamanan, termasuk di ruang siber.
“Kami tidak akan memberikan ruang bagi pihak-pihak yang menyebarkan provokasi, manipulasi informasi, maupun konten yang berpotensi memecah belah masyarakat. Penegakan hukum ini adalah bentuk perlindungan negara agar ruang digital tidak disalahgunakan untuk menebar kebencian dan mendorong konflik,” tegasnya.
Patroli Siber Diperkuat
Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Komisaris Besar Polisi Adarma Sinaga, menyatakan bahwa pengawasan terhadap aktivitas digital akan terus diperkuat.
Menurutnya, patroli siber dan analisis jejak digital dilakukan secara berkelanjutan guna mendeteksi lebih dini potensi penyebaran konten provokatif.
“Keamanan tidak hanya dijaga di lapangan, tetapi juga di ruang digital. Kami mengimbau masyarakat untuk bijak bermedia sosial, tidak mudah terprovokasi, serta tidak turut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kolaborasi masyarakat sangat penting dalam menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif,” ujarnya.









