Pondok Natal “Honai Suka Cita” di Wamena Angkat Luka Papua Lewat Instalasi Seni

Endy Langobelen

Sabtu, 20 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pondok Natal unik hadir di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)

Pondok Natal unik hadir di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)

WAMENA – Sebuah Pondok Natal unik hadir di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Berbeda dari pondok Natal pada umumnya, instalasi bertajuk “Honai Suka Cita” ini menampilkan potret persoalan kemanusiaan dan lingkungan yang masih membelit Tanah Papua.

Karya tersebut menjadi sorotan publik setelah videonya diunggah akun Facebook Matinus Kogoya. Dalam video berdurasi hampir tiga menit itu, pengunjung diajak menyusuri rangkaian simbol yang merepresentasikan realitas Papua hari ini—dari konflik bersenjata hingga kerusakan lingkungan.

Salah satu instalasi yang paling mencolok adalah kolam air mancur berwarna merah, simbol implisit pertumpahan darah yang kerap terjadi di Papua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kolam air mancur berwarna merah di pondok Natal Honai Suka Cita, simbol implisit pertumpahan darah yang kerap terjadi di Papua. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)
Kolam air mancur berwarna merah di pondok Natal Honai Suka Cita, simbol implisit pertumpahan darah yang kerap terjadi di Papua. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)

Di sudut lain, terdapat “penjara pengungsi” yang menggambarkan kondisi ribuan warga yang terpaksa mengungsi akibat konflik berkepanjangan.

Baca Juga :  Masyarakat Adat Papua Tolak Alih Status 486 Ribu Hektar Hutan di Papua Selatan

Pesan kritik juga disampaikan melalui tulisan-tulisan yang dipasang terbalik, seperti “Pembunuhan”, “Perang Suku”, “Rasis”, “HIV/AIDS”, “Korup”, “Begal”, “Deforestasi”, “Narkoba”, hingga “Aborsi”.

Penempatan terbalik itu dimaknai sebagai keadaan yang “tidak beres” dan perlu dibenahi bersama.

Pesan kritik juga disampaikan melalui tulisan-tulisan yang dipasang terbalik. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)
Pesan kritik juga disampaikan melalui tulisan-tulisan yang dipasang terbalik. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)

Tak hanya itu, panggung pengungsi turut dihadirkan dengan backdrop lukisan perlawanan masyarakat adat di Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional.

Lukisan tersebut memuat pesan tegas, “Selamatkan hutan adat Papua”, menyoroti ancaman deforestasi dan konflik agraria.

Pondok Natal Honai Suka Cita diketahui sedang diikutkan dalam lomba pondok Natal tingkat daerah. Namun lebih dari sekadar kompetisi, karya ini menjadi medium refleksi sosial dan seruan damai.

Baca Juga :  Arnold Beanal ke MRP Papua Tengah: Urus Konflik Papua, Soal Saham Freeport Sudah Selesai

Dalam video tersebut, seorang pria yang diwawancarai menegaskan makna Natal sebagai kedamaian.

Panggung pengungsi turut dihadirkan dengan backdrop lukisan perlawanan masyarakat adat di Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)
Panggung pengungsi turut dihadirkan dengan backdrop lukisan perlawanan masyarakat adat di Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)

Ia menyebut, Natal seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk hidup tanpa diskriminasi, intimidasi, dan teror.

“Untuk hari ini di Wamena, hari ini kita berbicara tentang Natal, maka Natal itu adalah kedamaian. Artinya manusia itu harus hidup damai tanpa diskriminasi, intimidasi, dan diteror oleh siapa pun,” ujarnya.

“Karena Tuhan sudah menciptakan manusia untuk hidup aman, nyaman, di hidup di tanah yang aman begitu,” imbuhnya.

Menurutnya, kondisi Papua tidak bisa disamakan dengan daerah lain karena situasi sosial dan keamanan yang berbeda.

"Penjara pengungsi” yang menggambarkan kondisi ribuan warga yang terpaksa mengungsi akibat konflik berkepanjangan. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)
“Penjara pengungsi” yang menggambarkan kondisi ribuan warga yang terpaksa mengungsi akibat konflik berkepanjangan. (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video Facebook Matinus Kogoya)

Ia pun mengapresiasi instalasi ini karena dinilai jujur menampilkan keadaan yang sedang dirasakan masyarakat Papua.

“Saya sangat mengapresiasi pondok ini karena pondok ini menunjukkan keadaan dan situasi Papua yang saat ini sedang dirasakan. Dan itu memang sangat luar biasa. Teman-teman top,” tuturnya.

Melalui bahasa seni yang kuat dan simbolik, Honai Suka Cita menghadirkan pesan Natal yang kontekstual: ajakan berdamai, pengakuan atas luka, dan harapan akan keadilan serta keselamatan bagi seluruh warga Papua.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jubir OPM Buka Suara soal Penembakan 3 Pegawai di Jayawijaya
Nikolaus Alome Imbau Masyarakat Jaga Keamanan dan Tidak Terlibat Perang Suku di Mimika
Pemuda Adat Papua Tolak PAPEDA Summit, Soroti Perdagangan Karbon
Bawa 27 Tuntutan, Mahasiswa dan Warga Mimika Demo di Kantor DPRK
Layangkan Surat Terbuka, LBH TPRA Desak Pemerintah Tetapkan Darurat Nasional Kebakaran Hutan Biak
LMA dan FPHS Tsingwarop Kritik Menteri HAM, Desak Tak Ikut Campur Urusan Pengalihan Dana 10 Persen dari Freeport
Peringati 4 Tahun Kasus Mutilasi di Mimika, Keluarga Korban: Jangan Beri Remisi Pelaku!
Komunitas Ojol Jayapura Nyatakan Dukungan terhadap Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 00:13 WIT

Jubir OPM Buka Suara soal Penembakan 3 Pegawai di Jayawijaya

Minggu, 6 September 2026 - 21:16 WIT

Nikolaus Alome Imbau Masyarakat Jaga Keamanan dan Tidak Terlibat Perang Suku di Mimika

Kamis, 3 September 2026 - 22:20 WIT

Pemuda Adat Papua Tolak PAPEDA Summit, Soroti Perdagangan Karbon

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:38 WIT

Bawa 27 Tuntutan, Mahasiswa dan Warga Mimika Demo di Kantor DPRK

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:55 WIT

Layangkan Surat Terbuka, LBH TPRA Desak Pemerintah Tetapkan Darurat Nasional Kebakaran Hutan Biak

Berita Terbaru

Kepala BPBJ Mimika, Anton Pasoro. (Foto: Istimewa)

Pemerintahan

76,83 Persen Paket Proyek Mimika Didelegasikan ke BPBJ

Jumat, 11 Sep 2026 - 15:29 WIT

Tim Satuan Reskrim Polres Mimika melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dugaan pembunuhan seorang warga di area belakang Indekos Warna Warni, Jalan Kelimutu, Timika, Papua Tengah. (Foto: Istimewa)

Peristiwa

Seorang Pria Ditemukan Tewas dalam Indekos di Mimika

Kamis, 10 Sep 2026 - 15:16 WIT