Seribu Lilin di Mimika: Melawan Lupa atas Tragedi Mutilasi

Endy Langobelen

Minggu, 24 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keluarga dan kerabat menyalahkan seribu lilin sebagai tanda memperingati kasus mutilasi terhadap empat korban Suku Nduga di Mimika. (Foto: Istimewa/Keluarga korban)

Keluarga dan kerabat menyalahkan seribu lilin sebagai tanda memperingati kasus mutilasi terhadap empat korban Suku Nduga di Mimika. (Foto: Istimewa/Keluarga korban)

MIMIKA – Hujan deras yang mengguyur kawasan Kilometer 11, Kabupaten Mimika, Jumat (22/8/2025) sore, sempat menahan langkah keluarga korban mutilasi menuju lokasi peringatan. Namun, tepat pukul 18.30 WIT, langit mereda. Di tempat kremasi tubuh para korban, ribuan lilin dinyalakan.

Seribu cahaya kecil itu bergetar diterpa angin malam, menjadi simbol duka sekaligus perlawanan. Wajah-wajah haru bercampur semangat menuntut keadilan.

Dari anak-anak hingga orang tua, masyarakat lintas generasi berkumpul untuk mengenang empat korban: Arnold Lokbere, Irian Nirigi, Lemaniel Nirigi, dan Atis Tini—yang tewas dalam kasus mutilasi pada 2022 silam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keluarga dan kerabat menyalahkan seribu lilin sebagai tanda memperingati kasus mutilasi terhadap empat korban Suku Nduga di Mimika. (Foto: Istimewa/Keluarga korban)

Acara berlangsung sederhana. Doa dibacakan, firman Tuhan direnungkan, hening cipta dilakukan, lalu 1000 lilin menyala serentak. Di sanalah, keluarga dan masyarakat kembali meneguhkan janji untuk tidak melupakan tragedi yang mereka sebut sebagai “kejahatan kemanusiaan yang biadab”.

“Jadi itu sekitar empat hal yang kami lakukan tadi malam. Doa, renungan, hening cipta, dan menyalakan seribu lilin,” ujar Pale Gwijangge, tokoh pemuda Nduga di Timika yang juga perwakilan keluarga besar korban, saat ditemui Galeripapua.com di Timika, Sabtu (23/8/2025) malam.

Kehilangan yang Tak Tergantikan

Bagi keluarga korban, tiga tahun bukanlah waktu yang cukup untuk meredam luka. Aptoro Lokbere, kakak almarhum Arnold Lokbere, mengaku hingga kini ia masih menanggung beban berat.

“Memang saya sebagai kakaknya merasa sangat kehilangan. Apa yang almarhum tinggalkan, yaitu anak-istri yang kini terlantar, itu juga menjadi hal yang terus saya pikirkan. Itu menjadi beban,” kata Aptoro dengan suara bergetar.

Aptoro Lokbere, kakak kandung almarhum Arnold Lokbere. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Arnold, lanjutnya, bukan hanya tulang punggung keluarga. Ia dikenal sebagai pemuda aktif di gereja Kemah Injil Indonesia dan penggerak kegiatan kepemudaan.

Baca Juga :  KNPB Intan Jaya Minta PBB Turun Tangan Usut Pelanggaran HAM dan Krisis Pengungsian

“Jadi ada kehilangan secara pribadi, jelas. Tapi juga ada kehilangan di gereja, di kalangan pemuda, dan masyarakat. Itu yang sampai sekarang terasa sekali,” tambahnya.

Empat anak Arnold kini hidup tanpa figur ayah. Menurut Aptoro, kehidupan mereka terlantar dan minim perhatian dari negara.

“Anak-anak seusia seperti sekarang ini, mereka butuhkan kasih sayang, tapi mereka kehilangan bapaknya. Itu menyedihkan. Banyak anak Papua mengalami hal serupa, dan kasus ini menambah panjang deretan penderitaan itu,” ujarnya.

Luka di Tubuh Pemuda dan Gereja

Bukan hanya keluarga inti yang kehilangan, komunitas pemuda di Nduga juga merasakan kekosongan besar.

Pale Gwijangge menjelaskan, Arnold dan korban lain seperti Irian Nirigi adalah sosok yang sulit digantikan.

“Sebelum meninggal, Arnold sudah siapkan gereja untuk Jemaat Philadelphia. Dia bangun, dia jadi panitia, bersama almarhum Irian Nirigi yang juga kepala desa sekaligus majelis gereja. Mereka dua tokoh besar. Susah sekali digantikan,” katanya.

Ia mengibaratkan kehilangan mereka seperti hilangnya satu anggota tubuh yang membuat seluruh tubuh pincang.

Keadilan yang Dipangkas

Meski pengadilan militer telah memutus sejumlah pelaku dengan hukuman berat, keluarga korban masih menyimpan kekecewaan.

Aptoro menyinggung soal Mayor Helmanto Fransiskus Daki, perwira yang disebut sebagai otak operasi mutilasi.

“Awalnya divonis seumur hidup. Tapi belakangan hukumannya diturunkan jadi 15 tahun. Ini yang membuat kami kecewa,” tegasnya.

Banner acara seribu lilin memperingati kasus mutilasi terhadap empat korban Suku Nduga di Mimika. (Foto: Istimewa/Keluarga korban)

Ia menambahkan, keluarga menolak segala bentuk pengurangan hukuman atau remisi. “Tidak boleh ada remisi untuk pelaku kejahatan kemanusiaan seperti ini. Itu kami sampaikan berulang kali,” katanya.

Baca Juga :  Nakes PPPK di Mimika Diminta Tingkatkan Kinerja Usai Terima SK

Keluarga juga menuntut rehabilitasi nama baik para korban yang sempat dituduh sebagai bagian dari kelompok bersenjata.

“Arnold itu pemuda gereja, Irian Nirigi kepala desa, Lemaniel pegawai distrik, Atis anak muda yang main bola. Semua jelas warga sipil. Tuduhan OPM itu harus dicabut. Harus ada pengembalian nama baik, retribusi, rehabilitasi, dan kompensasi,” tegas Aptoro.

Trauma yang Berkepanjangan

Kasus mutilasi bukan peristiwa tunggal. Menurut Pale Gwijangge, orang Nduga sudah lama hidup dalam bayang-bayang operasi militer, sejak 1977 hingga sekarang.

“Trauma yang berkepanjangan ini sudah ada sampai saat saya bicara sekarang. Bahkan tahun 2022 kemarin juga negara melalui aparat militer menciptakan trauma itu lagi,” ujarnya.

Pale Gwijangge, tokoh pemuda Nduga di Timika yang juga perwakilan keluarga besar korban. (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Ia menambahkan, kehadiran aparat seringkali bukan memberi rasa aman, melainkan menimbulkan ketakutan.

“Harapan kami, aparat yang masuk ke Papua harus dibekali pemahaman sosial, budaya, dan kearifan lokal. Jangan hanya tempur. Kalau tidak, masyarakat akan terus merasa diteror,” katanya.

Seruan untuk Negara

Dalam peringatan tiga tahun itu, keluarga korban membacakan empat tuntutan utama:

  1. Negara wajib memberikan rehabilitasi, retribusi, dan kompensasi kepada keluarga korban.
  2. Melarang keras pemberian remisi bagi para pelaku mutilasi.
  3. Menegakkan hukuman maksimal seumur hidup bagi Mayor Helmanto Fransiskus Daki, sesuai putusan awal.
  4. Mewujudkan pembangunan tugu peringatan di lokasi kremasi, sebagaimana janji Bupati Mimika, Johannes Rettob.

“Kalau negara hanya bicara pembangunan, tapi manusianya dibantai, itu bukan untuk orang Papua. Orang Papua butuh hidup, bukan sekadar pembangunan,” kata Aptoro.

Keluarga dan kerabat menyalahkan seribu lilin sebagai tanda memperingati kasus mutilasi terhadap empat korban Suku Nduga di Mimika. (Foto: Istimewa/Keluarga korban)

Ia menegaskan, keluarga akan terus menggelar peringatan setiap tahun. Seribu lilin akan selalu dinyalakan sebagai pengingat, juga sebagai simbol perlawanan terhadap pelupaan.

“Selama kami hidup, generasi ke depan akan terus lakukan peringatan ini. Karena nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada segala-galanya,” ujarnya.

Di bawah cahaya lilin yang berkelip di malam Mimika, keluarga korban mutilasi berbicara dengan suara lirih tapi penuh keteguhan: mereka tidak akan diam, tidak akan melupakan, dan tidak akan berhenti menuntut keadilan.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport
MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian
Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang
Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan
Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika
“Wisata Mancing Dadakan” di Jalan Ahmad Yani Mimika, Sindiran Halus untuk Genangan Abadi
Kehadiran Aparat Non-Organik Timbulkan Rasa Takut Masyarakat Papua
Aksi Front Rakyat Papua di DPRK Mimika, Soroti Otsus hingga Investasi

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:10 WIT

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport

Kamis, 30 April 2026 - 06:11 WIT

MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian

Rabu, 29 April 2026 - 17:17 WIT

Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang

Rabu, 22 April 2026 - 13:51 WIT

Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan

Senin, 20 April 2026 - 20:39 WIT

Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika

Berita Terbaru

Mahasiswa FIM-WP menggelar aksi mimbar bebas di Waena, Jayapura, Sabtu, 2 Mei 2026. Galeripapua/ Istimewa.

Organisasi

Mahasiswa West Papua Tuntut Pendidikan Gratis di Tanah Papua

Sabtu, 2 Mei 2026 - 21:40 WIT

Seorang penggiat Inorga KIS dengan papan seluncurnya sedang melakukan salah satu trik dalam permainan skateboard di area Car Free Day—Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Sabtu (2/5/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Event

KIS Mimika Warnai Parade Hardiknas di Car Free Day

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:56 WIT