Gandeng Uncen, BRIDA Mimika Garap Kajian Sosial Budaya Pemanfaatan Tailing Freeport

Ahmad

Jumat, 3 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana pelaksanaan FGD yang berlangsung di Ballroom Hotel Horison Diana Timika, Jumat (3/7/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

Suasana pelaksanaan FGD yang berlangsung di Ballroom Hotel Horison Diana Timika, Jumat (3/7/2026). (Foto: Galeri Papua/Ahmad)

MIMIKA — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika resmi menggandeng Tim Kajian Universitas Cenderawasih (Uncen) untuk memetakan dampak sosial-budaya dalam skema pengangkutan dan pemanfaatan limbah sisa pasir tambang atau tailing.

Bertempat di Ballroom Hotel Horison Diana Timika, kegiatan ini resmi dibuka oleh Pj Sekretaris Daerah Mimika, Abraham Kateyau, pada Jumat (3/7/2026).

Langkah strategis ini diambil guna mendapatkan rekomendasi kebijakan yang kuat dan ilmiah dalam pengelolaan industri berbasis potensi lokal di Papua Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kabupaten Mimika, sebagai wilayah dengan aktivitas pertambangan skala besar, dihadapkan pada konsekuensi teknis dan lingkungan yang tinggi.

Oleh karena itu, pengelolaan tailing kini tidak lagi dipandang sekadar pemindahan material, melainkan instrumen investasi sosial yang berkaitan langsung dengan hak ulayat, mata pencaharian masyarakat adat, dan stabilitas kawasan ekonomi kelolaan.

Ketua Tim Kajian Uncen, Quincy Kambuaya, menegaskan pentingnya menyeimbangkan aspek teknis dengan kondisi riil di lapangan. Kajian ini difokuskan pada skema distribusi tailing dari kawasan ModADA menuju PAD XI/Ayuka-Tipuka.

Baca Juga :  Tinjau Pos Beoga, Kaskogabwilhan III: Prajurit Harus Profesional dan Humanis

“Kajian sosial budaya ini bertujuan untuk membaca bagaimana masyarakat memahami rencana pengangkutan dan pemanfaatan tailing, risiko apa yang mereka khawatirkan, skema apa yang lebih dapat diterima, serta syarat-syarat sosial budaya apa yang perlu dipenuhi agar kegiatan ini tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari,” ujar Quincy Kambuaya.

Uji Alternatif Moda Transportasi dan Mitigasi Risiko
Dalam riset ini, tim ahli menguji sejumlah alternatif moda transportasi pengangkutan tailing, mulai dari jalur darat menggunakan truk, jalur tambang terbatas, konveyor, sistem pipanisasi, hingga pemanfaatan jalur sungai lewat kapal tongkang.

Setiap skema dianalisis secara mendalam untuk menakar risiko, penerimaan sosial, serta kesesuaian kelembagaan lingkungan.

Sebagai bagian dari metodologi riset, Tim Kajian akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) berimbang yang melibatkan 21 pemangku kepentingan kunci.

Baca Juga :  Pemkab Mimika Punya 530 Aset Tanah, 427 Belum Bersertifikat

Di antaranya adalah Sekretaris Daerah Mimika, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, PT Freeport Indonesia, PT MAS, lembaga adat LEMASA dan LEMASKO, hingga perwakilan DPRD.

FGD tersebut diarahkan untuk memetakan potensi konflik hak ulayat, keselamatan jalur transportasi, perlindungan tenaga kerja lokal, hingga perumusan formula pembagian manfaat (benefit sharing) yang transparan bagi masyarakat adat dan pelaku ekonomi sekitar.

“Kelayakan teknis saja tidak cukup. Sebuah skema dapat dinilai baik secara teknis, tetapi tetap berpotensi menimbulkan resistensi apabila masyarakat merasa tidak memperoleh informasi yang cukup, tidak dilibatkan, merasa tidak aman, atau tidak melihat adanya pembagian manfaat yang adil,” tambah Quincy.

Melalui sinergi dengan BRIDA Mimika, hasil kajian ini diharapkan melahirkan rekomendasi operasional bagi pemerintah daerah dan korporasi.

Hasil akhir dari tata kelola tailing yang aman dan berkelanjutan ini diproyeksikan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara jangka panjang.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekolah di Mimika Didorong Bangun Budaya Peduli Lingkungan Sejak Dini
Pemkab Mimika Rancang Kota Kapiraya sebagai Pusat Ekonomi Baru di Pesisir
Respons Pemerintah dan Aparat Keamanan Pasca Konflik Bersenjata di Jila Mimika
Dinas Perikanan Mimika Alokasikan Rp500 Juta untuk Budidaya Kepiting Bakau
Upacara Pengibaran Bendera HUT Ke-81 RI di Mimika Berlangsung Khidmat
HUT RI ke-81, Pemkab Mimika Tabur Bunga untuk Mengenang Jasa Pahlawan
BRIDA Mimika Pamerkan 15 Inovasi Terbaik Hasil Seleksi Daerah
DPMPTSP Mimika Jemput Bola Izin Usaha Gratis Lewat Program Pojok Nongkrong

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:33 WIT

Sekolah di Mimika Didorong Bangun Budaya Peduli Lingkungan Sejak Dini

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:25 WIT

Pemkab Mimika Rancang Kota Kapiraya sebagai Pusat Ekonomi Baru di Pesisir

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:13 WIT

Respons Pemerintah dan Aparat Keamanan Pasca Konflik Bersenjata di Jila Mimika

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:20 WIT

Dinas Perikanan Mimika Alokasikan Rp500 Juta untuk Budidaya Kepiting Bakau

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:39 WIT

Upacara Pengibaran Bendera HUT Ke-81 RI di Mimika Berlangsung Khidmat

Berita Terbaru