Masyarakat Adat Lanny Jaya Desak Penarikan Militer Non-Organik

Endy Langobelen

Sabtu, 23 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah massa aksi dari Forum Peduli Wilayah Lanny Jaya menggelar demonstrasi di depan Kantor DPRK Lanny Jaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (20/8/2025). (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

Sejumlah massa aksi dari Forum Peduli Wilayah Lanny Jaya menggelar demonstrasi di depan Kantor DPRK Lanny Jaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (20/8/2025). (Foto: Istimewa/Tangkapan layar video amatir)

LANNY JAYA – Sejumlah massa aksi dari Forum Peduli Wilayah Lanny Jaya menggelar demonstrasi di depan Kantor DPRK Lanny Jaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (20/8/2025).

Mereka menuntut Presiden Prabowo Subianto segera menarik pasukan militer non-organik yang ditempatkan di wilayah Lanny Jaya, terutama di Distrik Kwiyawagi dan Melagai.

Aksi tersebut berlangsung dengan membawa spanduk bertuliskan “Forum Peduli Wilayah Lanny Jaya menuntut: Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto Segera Tarik Militer Non-Organik dari Wilayah Lanny Jaya dan seluruh Tanah Papua”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam siaran pers yang diterima Galeripapua.com, perwakilan masyarakat adat, Benus Murib, menegaskan bahwa kehadiran militer non-organik telah mengganggu aktivitas warga dan melanggar hak masyarakat adat atas tanah ulayat mereka.

Baca Juga :  Tukang Ojek Dibacok 4 OTK di Puncak Jaya, Korban Alami Luka Serius di Kepala

“Gunung bukan sebatas gunung, sungai bukanlah sebatas sungai, hutan bukanlah sebatas hutan, kampung bukanlah sebatas kampung. Di sana ada pemiliknya dan penjaganya, yaitu masyarakat adat,” ujar Benus.

Dia juga menyoroti pengesahan UU No. 3/2025 tentang perubahan UU TNI, yang memperluas tugas operasi militer selain perang.

Menurutnya, penerapan pasal-pasal dalam undang-undang tersebut telah digunakan sebagai dasar untuk pengerahan pasukan di Lanny Jaya, meski dinilai tidak sesuai dengan prosedur hukum.

“Selama belum ada Keputusan Presiden kemudian ada pendropan pasukan yang berlebihan, maka sudah bisa dipastikan bahwa pendropan tersebut terjadi secara ilegal dan harus ditarik kembali,” kata Benus.

Disampaikan bahwa masyarakat adat Kwiyawagi dan Melagai resah dengan keberadaan pos-pos militer di sepanjang jalan baru dari Gunung Kopme hingga ke Wobiragi.

Baca Juga :  Tapal Batas Kapiraya, Kepala Suku Mee dan LMA Kamoro Sepakat Dorong Penyelesaian Adat

Masyarakat menyebut telah terjadi tindakan intimidasi, perusakan rumah warga, hingga pengambilan alat-alat kebun.

Selain itu, Benus juga menyinggung kasus dugaan pembunuhan di luar hukum yang menimpa dua warga, Mayar Wenda dan Andrin Wenda, beberapa hari sebelumnya.

Untuk itu, kata Benus, masyarakat adat meminta agar Bupati Lanny Jaya, DPRD, serta seluruh kepala distrik dan kampung ikut mendukung penarikan pasukan non-organik dari tanah adat.

“Masyarakat adat tidak membutuhkan kehadiran TNI non-organik, kami hidup aman dan damai. Justru adanya kehadiran pasukan non-organik lah yang kemudian mengganggu tatanan hidup kami,” tegas Benus.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun pemerintah daerah terkait tuntutan tersebut.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport
MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian
Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang
Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan
Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika
“Wisata Mancing Dadakan” di Jalan Ahmad Yani Mimika, Sindiran Halus untuk Genangan Abadi
Kehadiran Aparat Non-Organik Timbulkan Rasa Takut Masyarakat Papua
Aksi Front Rakyat Papua di DPRK Mimika, Soroti Otsus hingga Investasi

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:10 WIT

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport

Kamis, 30 April 2026 - 06:11 WIT

MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian

Rabu, 29 April 2026 - 17:17 WIT

Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang

Rabu, 22 April 2026 - 13:51 WIT

Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan

Senin, 20 April 2026 - 20:39 WIT

Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika

Berita Terbaru

Polisi lalu lintas melakukan olah tempat kejadian perkara di Jalan Poros Mapurujaya KM 10, Mimika, Jumat, 1 Mei 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Pengendara Motor Tewas Berujung Penikaman di Mimika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:59 WIT

Barang bukti narkotika yang diamankan polisi setelah penangkapan dua tersangka di Mimika. Kamis, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Polisi Ringkus Dua Tersangka Pengedar Sabu di Timika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:41 WIT