Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Sorong Raya Serukan Rekonsiliasi dan Penghentian Kekerasan di Papua

Jeri P. Degei

Rabu, 3 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Se-Sorong Raya menyampaikan pernyataan sikap pada Senin (1/12/2025) lalu di Sorong, Papua Barat Daya. (Foto: Istimewa)

Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Se-Sorong Raya menyampaikan pernyataan sikap pada Senin (1/12/2025) lalu di Sorong, Papua Barat Daya. (Foto: Istimewa)

SORONG — Dalam momentum peringatan 64 tahun Manifesto Politik Bangsa Papua, Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Se-Sorong Raya menyampaikan pernyataan sikap yang menyoroti perjalanan panjang konflik, kekerasan, dan perjuangan politik rakyat Papua sejak 1961 hingga hari ini.

Aksi tersebut digelar pada Senin (1/12/2025) lalu di Sorong, Papua Barat Daya.

Dengan tema “Kobarkan Api Persatuan Nasional dan Wujudkan Kemerdekaan Bagi Bangsa West Papua”, kelompok solidaritas ini kembali mengingatkan dunia bahwa bangsa Papua telah menyatakan kemerdekaan pada 1 Desember 1961, namun kemudian mengalami fase-fase panjang traumatis akibat operasi militer, kekerasan negara, dan penyingkiran sistematis di tanah sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah Luka: Dari Trikora hingga Operasi Militer Berlanjut

Dalam pernyataannya, solidaritas menyoroti kembali kekerasan yang terjadi sejak 1961, dimulai dari Operasi Trikora yang diumumkan Presiden Sukarno pada 19 Desember 1961. Alih-alih pembebasan, operasi tersebut dinilai membawa penderitaan bagi rakyat Papua.

Sejarawan dan saksi sejarah seperti Frans Lieshout, OFM turut dikutip untuk menggambarkan situasi saat itu—di mana kekuatan militer Indonesia memasuki Papua dan menimbulkan ketakutan melalui penghancuran rumah penduduk, fasilitas umum, hingga kekerasan seksual terhadap tenaga kesehatan.

Setelah peralihan kekuasaan dari UNTEA ke Indonesia pada 1 Mei 1963, operasi-operasi militer disebut terus berlanjut. Perjanjian internasional seperti New York Agreement 1962, yang tidak melibatkan satu pun wakil Papua, turut dipandang sebagai akar masalah politik Papua hari ini.

Baca Juga :  Operasi Militer Nduga saat Hari HAM, DPRK dan Tokoh Pemuda Soroti Nasib Warga Sipil

Situasi disebut memburuk pada era Orde Baru. Ratusan ribu orang Papua disebut menjadi korban operasi militer hingga 1998. Peristiwa-peristiwa tragis seperti pembantaian di Tiom, Kelila, Wamena, Ayamaru, Teminabuan, hingga Manokwari dikenang sebagai jejak luka yang belum sepenuhnya pulih.

Perjuangan Politik yang Tak Pernah Padam

Meski menempuh risiko nyawa, perjuangan rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri disebut tidak pernah berhenti. Berbagai organisasi dan tokoh muncul dalam perjalanan panjang itu: mulai dari OPM (1963), TPNPB-OPM (1971), Thomas Wanggai (1989), PDP & Kongres Rakyat Papua II (2000), hingga berdirinya ULMWP (2014).

Namun perpecahan juga dinilai menjadi tantangan besar dalam perjuangan politik rakyat Papua, terutama pada dekade terakhir.

Solidaritas Sorong Raya menegaskan pentingnya mengembalikan perjuangan kepada akar persatuan rakyat Papua.

Seruan Humanis: Hentikan Kekerasan, Pulangkan Pengungsi, Buka Akses Jurnalis

Dalam seruan resminya, Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Sorong Raya menyampaikan 15 poin tuntutan. Di antara poin paling menonjol adalah sebagai berikut.

  1. Penarikan seluruh pasukan militer dari tanah Papua.
  2. Penghentian operasi militer dan pemulangan para pengungsi ke kampung halamannya.
  3. Pembubaran komando teritorial dan pengembalian fungsi militer ke barak.
  4. Membuka akses jurnalis nasional dan internasional agar dunia dapat melihat Papua secara objektif dan transparan.
  5. Penolakan proyek-proyek strategis nasional dan eksploitasi sumber daya alam seperti Blok Wabu yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat asli.
Baca Juga :  Masyarakat Adat di Mimika Barat Jauh Tolak Sawit PT TAS, Soroti Ancaman Ruang Hidup

Solidaritas juga menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Indonesia untuk demokrasi serta mendesak rezim Prabowo–Gibran membebaskan aktivis yang masih ditahan.

Tak hanya itu, mereka menyuarakan solidaritas global: mendukung kemerdekaan Palestina, Bogainville, dan Caledonia Baru, serta mengecam blokade AS terhadap Cuba, Venezuela, dan Iran.

Ajakan Persatuan dan Harapan Baru

Seruan paling kuat dalam pernyataan tersebut adalah rekonsiliasi total antara seluruh kelompok perjuangan Papua, baik sipil maupun bersenjata.

Solidaritas menegaskan bahwa hanya persatuan demokratis yang dapat membawa rakyat Papua pada masa depan yang lebih adil dan bermartabat.

“Kami menolak politik pecah-belah dan mendukung persatuan nasional bagi bangsa Papua,” demikian salah satu poin pernyataan.

Ditutup Dengan Suara Kemanusiaan

Pernyataan sikap ini dibacakan pada 1 Desember 2025 di Sorong sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban kekerasan, para pejuang kemerdekaan, serta seluruh rakyat Papua yang masih bertahan di tengah situasi konflik.

Penutup pernyataan menyampaikan harapan agar dunia memberi perhatian, dan agar setiap manusia di tanah Papua dapat hidup aman, bermartabat, dan seutuhnya sebagai manusia.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport
MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian
Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang
Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan
Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika
“Wisata Mancing Dadakan” di Jalan Ahmad Yani Mimika, Sindiran Halus untuk Genangan Abadi
Kehadiran Aparat Non-Organik Timbulkan Rasa Takut Masyarakat Papua
Aksi Front Rakyat Papua di DPRK Mimika, Soroti Otsus hingga Investasi

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:10 WIT

Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport

Kamis, 30 April 2026 - 06:11 WIT

MRP Papua Tengah Dorong Perdamaian Konflik Kwamki Narama, 16 Korban Jiwa Jadi Perhatian

Rabu, 29 April 2026 - 17:17 WIT

Temui Wapres, Kepala Suku Amungme Tuntut Keadilan Ekonomi dan Peran di Sektor Tambang

Rabu, 22 April 2026 - 13:51 WIT

Wapres Gibran di Mimika: Bantuan Disorot, UMKM Lokal Terabaikan

Senin, 20 April 2026 - 20:39 WIT

Harapan Mama Papua Usai Selfie Bareng Wapres Gibran di Mimika

Berita Terbaru

Polisi lalu lintas melakukan olah tempat kejadian perkara di Jalan Poros Mapurujaya KM 10, Mimika, Jumat, 1 Mei 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Pengendara Motor Tewas Berujung Penikaman di Mimika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:59 WIT

Barang bukti narkotika yang diamankan polisi setelah penangkapan dua tersangka di Mimika. Kamis, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Hukrim

Polisi Ringkus Dua Tersangka Pengedar Sabu di Timika

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:41 WIT

Kebakaran menghanguskan sebuah bangunan di Jalan Cenderawasih, Mimika, Kamis malam, 30 April 2026. Galeripapua/Istimewa

Pemerintahan

Distrik Mimika Baru Petakan Risiko Kebakaran di Permukiman Padat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:10 WIT

Ket. Foto: Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Felix Wanggai (tengah) di Hotel Horison Diana Mimika, Kamis 30 April 2026. Galeripapua/ Kevin Kurni.

Pemerintahan

Pemerintah Akan Kembalikan Dana Otsus Papua Rp2,5 Triliun

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:27 WIT