“Wisata Mancing Dadakan” di Jalan Ahmad Yani Mimika, Sindiran Halus untuk Genangan Abadi

Endy Langobelen

Minggu, 19 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aksi mancing oleh warga sebagai bentuk kritik terhadap genangan air yang selalu terjadi di Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Bengkel Surabaya Motor, Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Minggu (19/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

Aksi mancing oleh warga sebagai bentuk kritik terhadap genangan air yang selalu terjadi di Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Bengkel Surabaya Motor, Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Minggu (19/4/2026). (Foto: Galeri Papua/Endy Langobelen)

MIMIKA — Kalau biasanya mancing butuh empang atau laut, warga di Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Bengkel Surabaya Motor, Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru, Mimika, Papua Tengah, punya definisi sendiri soal spot mancing idaman.

Cukup genangan air di badan jalan, kail pun dilempar, dan jadilah “wisata pemancingan” versi lokal.

Pantauan Galeripapua.com, Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 14.15 WIT, sejumlah warga terlihat santai duduk dan berdiri di pinggir jalan sambil memegang alat pancing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gaya mereka serius—seolah sedang berburu ikan di danau, bukan di kubangan yang menelan setengah badan jalan.

Di balik suasana yang tampak santai dan mengundang tawa, terselip kritik yang tidak kalah dalam. Salah satu warga dengan nada satir menyebut lokasi tersebut sebagai destinasi wisata baru.

Aksi ini sontak menarik perhatian pengendara yang melintas. Beberapa bahkan ikut larut dalam suasana, meneriakkan “strike!” layaknya pemancing profesional yang kailnya disambar ikan. Ada juga yang berseloroh, “Mancing mania, mantap,” menirukan jargon acara televisi.

Baca Juga :  Tokoh Masyarakat Desak Pemkab Mimika dan DPRK Selesaikan Masalah Tapal Batas

“Ini kita lagi mancing ikan-ikan yang punya perasaan. Ini adalah tempat wisata baru kami di Timika. Jadi daripada lahan ini kosong, airnya bagus, ikan banyak, tapi tidak ada yang mancing ya kita jadikan tempat wisata baru saja,” ujarnya dengan sarkas.

“Bagus sekali tempat ini, saya pikir ini satu potensi wisata buat kita di kabupaten ini. Ikan banyak,” lanjutnya sembari menarik pancing yang sudah dikaitkan ikan di kailnya. Beberapa di antaranya ikut bersorak.

Ia melanjutkan dengan nada yang sama, setengah bercanda, setengah menyentil.

“Sayang sekali di pinggir jalan tapi orang tidak manfaatkan wisata pemancingan baru di Timika ini. Saya tidak kritik, ini wisata saja,” lanjutnya.

Genangan air yang menjadi “kolam dadakan” itu memang bukan fenomena baru. Warga menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun, setiap kali hujan turun.

Baca Juga :  Bendera Bintang Kejora Berkibar di Timika, Polisi Lakukan Pendalaman

“Genangan air ini sudah terjadi lama sih. Kita sebut ini kolam lama, kita sering mancing di sini. Ini sudah bertahun-tahun, sudah enam tahun atau tujuh tahun begini. Jadi ini kolam lama. Kita punya tempat mancing,” kata pria tersebut yang mengaku berdomisili di kompleks belakang Bengkel Surabaya Motor.

Bukannya berharap genangan segera hilang, warga justru melempar sindiran yang makin “dalam”.

“Kalau bisa mungkin kolamnya ini diperluas lagi. Kalau bisa sampai di sebelah jalan sana. Nanti tinggal pasang tenda-tenda saja biar tambah bagus. Jadi harapannya kolamnya diperlebar lagi, pasang tenda-tenda, bikin lomba mancing di sini,” tuturnya dengan sarkas.

Di Timika, tampaknya kreativitas warga memang tidak pernah habis. Ketika jalan berubah jadi kolam, sebagian memilih mengeluh, sebagian lagi memilih memancing—setidaknya, sampai ada yang benar-benar “strike” solusi.

Follow WhatsApp Channel galeripapua.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa Papua Gelar Panggung Rakyat, Tolak PSN dan Militerisme
CSR Freeport Disorot, Masyarakat Tsinga, Banti dan Aroanop Dinilai Masih Tertinggal
Mamberamo Raya: Warga Anggreso Desak Pemprov Papua Bangun Jalan ke Sarmi
Dewan Adat Daerah Mimika Desak Kejari Usut Tuntas Dugaan Korupsi Pembangunan Rumah di Hoya
Mimika: Tumpukan “Sampah” Regulasi, Program Inovasi, dan Kampanye Lingkungan
Perubahan Iklim Global: Ketika Iklim Menghangat, Malaria Menguat di Mimika
Arnold Beanal ke MRP Papua Tengah: Urus Konflik Papua, Soal Saham Freeport Sudah Selesai
Peringati Hari Buruh, Ini Harapan Serikat Pekerja di Lingkungan Freeport

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 02:53 WIT

Mahasiswa Papua Gelar Panggung Rakyat, Tolak PSN dan Militerisme

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:31 WIT

CSR Freeport Disorot, Masyarakat Tsinga, Banti dan Aroanop Dinilai Masih Tertinggal

Jumat, 12 Juni 2026 - 19:21 WIT

Mamberamo Raya: Warga Anggreso Desak Pemprov Papua Bangun Jalan ke Sarmi

Senin, 8 Juni 2026 - 16:19 WIT

Dewan Adat Daerah Mimika Desak Kejari Usut Tuntas Dugaan Korupsi Pembangunan Rumah di Hoya

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:04 WIT

Mimika: Tumpukan “Sampah” Regulasi, Program Inovasi, dan Kampanye Lingkungan

Berita Terbaru